Berlibur sambil Bertualang di Ekowisata Tangkahan, Sumatera Utara

0
27
tangkahan sumatera utara
Foto - Dok. Mahligai

Tangkahan merupakan proyek ekowisata berbasis komunitas yang dimulai sejak 2001. Nama Tangkahan mungkin tidak sepopuler danau Toba yang sudah menjadi ikon pariwisata di Sumatera Utara. Namun, desitinasi wisata yang termasuk Kawasan Wisata Gunung Leuseur ini bisa menjadi alternatif saat berkunjung ke Sumatera Utara, terutama bagi Anda traveler yang berjiwa petualang.

Berjarak sekitar 100 kilometer dari kota Medan, butuh waktu empat hingga lima jam melalui akses jalan yang tidak seluruhnya mulus untuk mencapai lokasi ini. Anda yang ingin berhemat bisa menumpang bus tanpa AC ‘Pembangunan Semesta’, transportasi angkutan umum satu-satunya menuju Tangkahan dari Medan. Namun jika ingin pilihan transportasi lebih nyaman, sewalah kendaraan pribadi dengan konsekuensi membayar lebih mahal pastinya.

bus
Bus Pembangunan Semesta  – Dok. Majalah Mahligai

Sesampainya di Langkahan, Anda bisa menyewa penginapan yang kebanyakan berkonsep bungalo dengan nuansa alami. Suasana damai, sungai yang jernih, dan hutan menghijau sejauh mata memandang sukses membunuh penat selama perjalanan.

Ekowisata Tangkahan memiliki beragam paket aktivitas wisata yang dikelola oleh Community Tour Operator (CTO) Tangkahan. Ada trekking, kamping di dalam hutan, tubbing, jelajah gua, hingga safari gajah.

Sensasi Pijat Alami di Air Terjun Garut

air terjun garut
Air Terjun – Dpk. Mahligai

Setelah beristirahat di penginapan, Anda bisa memulai pengalaman mengeskplor Tangkahan dengan berkunjung ke air terjun Garut yang berjarak tak jauh dari lokasi penginapan. Perlu menyeberangi sungai Buluh, salah satu anak sungai Batang Serangan, untuk tiba di air terjun Garut. Menurut warga setempat, nama Garut sendiri mengacu pada kebiasaan masyarakat lokal yang kerap mengambil batu di sekitar air terjun untuk menggosok badan saat mandi. Garut berarti gosok dalam bahasa mereka.

Jungle Trekking

sungai di Tangkahan
Dok. Majalah Mahligai

Susuri setiap jengkal hutan di Langkahan dengan mencoba paket trekking yang dipandu warga setempat. Perjalanan menyusuri hutan berawal dari tepi sungai Buluh. Selama perjalanan Anda akan menemukan beragam jenis-jenis tumbuhan. Oleh penduduk lokal tumbuhan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti rembuk tualang yang bisa membantu mengobati patah tulang atau asam cekal dengan bunga merahnya yang digunakan layaknya asam untuk memasak.

Waktu terbaik menjajaki hutan Langkahan adalah saat musim buah sekitar Juli dan Agustus. Pada momen tersebut Anda bisa melihat lebih banyak satwa hutan terutama orang utan yang kerap bersaran di dahan pohon. Trekking berakhir di tepi sungai lebar. Sisa perjalanan akan dilanjutkan menggunakan ban karet menyusuri aliran sungai atau biasa disebut tubbing.

Ban-ban tersebut dirakit menjadi satu dan semua bawaan dimasukkan kantung plastik supaya tidak basah. Dalam ban yang meluncur santai dengan jeram-jeram kecil, Anda bisa menikmati pemandangan sepanjang sisi sungai dengan lebih detail. Tebing-tebing batu, bocah-bocah mandi, hingga pemuda yang menguji peruntungan mendapatkan ikan sungai dengan pancingnya.

Safari Gajah

gajah di tangkahan
Gajah di Tangkahan – Dok. Majalah Mahligai

Gajah dimanfaatkan untuk patroli hutan di Tangkahan. Walaupun pembalakan hutan sudah tidak terjadi lagi, patroli tetap digalakkan untuk menghindari oknum-oknum yang masih nekat. Patroli dilakukan setiap Senin dan Kamis. Saat tidak berpatroli, gajah-gajah ini dimanfaatkan untuk membawa wisatawan bersafari ke dalam hutan.

Camp gajah terletak sekitar satu kilometer di seberang sungai Batang Serangan. Diiringi para mahout (pelatih), hewan berbelalai yang 16 jam waktunya digunakan untuk makan ini digiring menuju sungai untuk mandi. Sebelum menceburkan diri, satwa-satwa ini diharuskan membuang kotorannya agar tidak mengotori sungai yang alirannya dimanfaatkan oleh penduduk. Aktivitas mandi dilakukan pada pukul 08:30 dan16:30.

Lepas mandi, gajah-gajah digiring kembali menuju camp. Beberapa dipasangi pedati di atas punggungnya untuk aktivitas safari. Anda bisa menikmati pemandangan dari atas punggung gajah yang ditumpangi.

Photography & Text : Ina Hapsari. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY