Pulau Kelor dan Segala Kisah Historis di Dalamnya

0
173
Sejarah Pulau Kelor
Dok. Bella Donna Elsa Faturahmah

Bertamasya menapaki masa lalu menjadi sebuah agenda mengasyikkan yang bisa dilakukan di sela waktu libur. Selain pesona keindahan yang memanjakan mata, Anda juga dapat menemukan nilai historis yang layak untuk diketahui.

Pada masa penjajahan dahulu, wilayah Kepulauan Seribu kerap dijadikan sebagai pangkalan militer di mana didirikan benteng pertahanan untuk menghalau musuh yang hendak merebut daerah kekuasaan. Adalah Pulau Kelor, salah satu pulau yang pernah didirikan benteng pertahanan oleh bangsa penjajah, serta menjadi satu-satunya benteng dengan bentuk paling sempurna di Jakarta.

Benteng merah bata melingkar itu disebut benteng Martello. Siapa sangka, bata-bata merah tersebut didatangkan dari daerah Tangerang Banten dan Pleret, Purwakarta. Kono bahan ini digunakan juga untuk membangun candi di Pulau Jawa. Kualitasnya dapat dibuktikan hingga sekarang.

Menurut catatan sejarah, pulau ini dulunya disebut pulau Kerkhof yang bermakna makam atau kuburan. Kira-kira mengapa pulau tersebut dinamakan sebagai kuburan, ya? Ternyata saat zaman penjajahan pulau ini digunakan sebagai tempat untuk mengeksekusi sekaligus mengubur para tahanan Belanda. Siapa saja yang pernah dikubur di pulau ini pun masih menjadi misteri, karena tidak ada batu nisan ataupun penanda. Mengerikan, bukan?

Dilihat dari bentuk bangunannya yang melingkar, benteng ini mirip sekali dengan benteng Mortella yang berada di Corsica, laut Tengah. Benteng Mortella atau Myrtle Point di Corsica selesai dibangun pada tahun 1565 dan dirancang oleh Giovan Giacomo Paleari Fratino. Kata Mortella sering kali salah diucapkan, sehingga seiring waktu kata ini berubah menjadi Martello, yang dalam bahasa Italia berarti “Palu”. Orang Inggris sangat terpukau dengan sistem pertahanan benteng ini. Mereka pun menjiplak dan mendirikan beberapa benteng serupa di seluruh dunia.

Pada tahun 1850, di tengah ruangan benteng ini diletakkan sebuah meriam besar yang dapat diputar 360 derajat. Benteng ini pun dulu digunakan sebagai pertahanan pertama untuk menahan serangan Inggris, Portugis, Spanyol dan bajak laut.

Benteng ini mengalami kerusakan karena abrasi air laut, gempa Jakarta pada tahun 1966, dan letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.Saat ini, yang tersisa hanya sebagian dari reruntuhan benteng.

Teks: Elsa Faturahmah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here