Mengenal Lebih Dekat Suku Baduy dan Arti “Pikukuh” Dalam Perkawinannya

0
816
foto:

Jalan-jalan ke Banten, Anda bisa menelusuri suku Baduy, yang letaknya di Kabupaten Lebak, Banten.  Baduy, atau lebih dikenal dengan sebutan Masyarakat Kanekes, adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak. Masyarakat Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda.

Kalau dilihat dari penampilan fisik dan bahasa, Suku Baduy mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Yang membedakannya hanyalah soal kepercayaan dan cara hidup yang mereka jalankan. Orang Kanekes sangat menutup diri dari pengaruh dunia luar. Bahkan, mereka sangat ketat menjaga dan menjunjung tinggi adat istiadat mereka. Sementara, orang Sunda pada umumnya lebih terbuka kepada pengaruh luar dan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam.

foto:paketwisatabaduy

Secara umum, Suku Baduy terbagi menjadi tiga kelompok, yakni Tangtu, Panamping, dan Dangka. Ketiga suku tersebut memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain dalam hal penerapan adat istiadat.

Pikukuh
Pikukuh adalah salah satu prinsip masyarakat suku Baduy dalam menjalankan  kehidupan. Di situ juga tertera aturan-aturan mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan. Peraturan ini juga syarat akan penangalan-penangalan suatu kegiatan dalam hitungan bulan tertentu. Termasuk aturan untuk menyelenggarakan perkawinan yaitu pada bulan kalima, kanem dan katuju (bahasa Baduy). Semua sistem yang ada pada masyarakat Baduy, termasuk sistem perkawinan, semua berlandaskan Pikukuh, yang merupakan sebuah aturan yang sudah ada sejak leluhur masyarakat Baduy.

Sistem perkawinan masyarakat Baduy, tidak ada tradisi berhubungan sebelum menikah. Artinya, mereka tidak mengenal proses pacaran. Semua dilakukan dalam tradisi dijodohkan. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing. Apabila ada kecocokan dari kedua belah pihak, lalu diadakan kesepatakan untuk melanjutkan proses berikutnya.

Perkawinan anak laki-laki yang pertama (kakak) dari suatu garis keturunan dengan anak perempuan yang terakhir (adik) dari garis keturunan yang lain. Tidak boleh melangsungkan perkawinan sebelum kakaknya melangsungkan perkawinan (ngarunghal).  Masyarakat Baduy juga  tidak mengenal adanya perbedaan antara sepupu.  Sehingga ada kecenderungan dalam perkawinan nanti akan terjadi dalam keluarga yang paling dekat. Bahkan dapat terjadi sampai dengan sepupu tingkat keempat. Orang Baduy menyebut dengan istilah Baraya.

Berikut Tahapan-tahapan Pelamaran pada Suku Baduy

Tahap Pertama
Pertama yang harus dilakukan adalah, orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) sambil membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya. Itu lambang kalau pihak laki-laki serius ingin melamar.

Tahap kedua
Kemudian, orang tua laki-laki  kembali membawa sirih, pinang, dan gambir dan dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih yang akan dijadikan mas kawin.

Tahap ketiga
Pihak laki-laki harus mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju, serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan. Pelaksanaan akad nikah dan resepsi bagi pasangan mempelai dilaksanakan di Balai Adat yang dipimpin oleh Pu’un untuk mengesahkan pernikahan tersebut.

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa sistem perkawinan masyarakat Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian. Tapi mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal. Hanya jika salah satu dari pasangan meninggal dunia yang diperbolehkan menikah kembali. Itu juga harus melalui proses adat yang perlaku juga.

 

Very Barus
(Sumber: mangyono.com/berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here