Pesona Museum Taman Prasasti yang Semakin Memikat

0
103
museum taman prasasti
Museum Taman Prasasti - Foto: Elsa Faturahmah

Berwisata ke Museum Taman Prasasti, mengelilingi barisan pemakaman kolonial Belanda memilki sensasi dan keunikan tersendiri. Museum ini menyimpan banyak sekali kisah kematian tokoh-tokoh penting dari berbagai periode sejarah.

Berlokasi di Jalan Tanah Abang no. 1, museum ini merupakan bekas pemakanan bernama Kebon Jahe Kober. Hingga akhirnya Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta terdahulu menjadikan pemakan tersebut sebagai museum prasasti dan diresmikan pada tahun 1977.

Nuansa kematian, duka, penderitaan dan kesuraman memang sangat terasa ketika Anda memasuki museum ini. Tapi tahukah Anda, ternyata jenazah yang dulu pernah dimakamkan di tempat tersebut sudah dipindahkan ke pemakaman lain. Dengan kata lain, di Museum Taman Prasasti hanya terdapat kuburan kosong dengan nisan-nisan bersejarah.

Diantara sekian banyak nisan yang dimiliki Museum ini, terdapat nisan pendiri sekolah kedokteran STOVIA, H.F. Roll, istri Thomas Stamford Raffles yang bernama Olivia Marianne, dan seorang pemain opera terkenal di era 1920-an bernama Miss Riboet, serta aktivis pergerakan di tahun 1966, Soe Hok Gie.

Sekarang museum ini hanya memiliki luas sekitar 1,3 hektare. Sisa tanah lainnya telah dibangun gedung Walikota Jakarta Pusat, gedung auditorium, serta Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Jakarta.

Terdapat 900 batu nisan dengan beragam bentuk, mulai dari batu nisan biasa hingga berupa tugu-tugu besar yang megah. Masing-masing desain batu nisan dulunya ditentukan sendiri oleh pihak keluarga dari jenazah yang dimakamkan.

Menariknya, bukan hanya hamparan batu nisan bergaya kolonial yang Anda bisa nikmati di sini. Terdapat peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta, kereta pembawa jenazah yang dulu digunakan pada masa penjajahan, serta lonceng yang dulunya dibunyikan sebagai tanda kedatangan jenazah. Di sini Anda juga dapat melihat miniatur nisan kuno khas dari 27 provinsi di Indonesia. Saksikan juga berbagai karya seni pahat, serta kecanggihan para pematung masa lampau.

Selain itu, museum ini memiliki bangunan utama berdesain arsitektur Yunani, yakni dirancang dengan gaya doria. Gaya doria sangat identik dengan tiang-tiang besar pada bangunannya. Orang Yunani memiliki filosofi bahwa banyaknya tiang menandakan kekuatan kerajaannya. Sementara di museum ini, terdapat sekitar 12 tiang besar yang terbuat dari marmer.

Setelah menilik berbagai hal menarik dari museum ini, tidakkah Anda berniat untuk berkunjung? Hanya dengan Rp 5.000, Anda dan keluarga dapat sepuasnya menikamati segala keindahan yang terdapat di dalamnya. Anda juga dapat melakukan pemotretan dengan konsep yang pastinya unik dan berkesan. Museum ini beroperasi dari hari Selasa sampai Minggu pada pukul 09.00 – 15.00.

Baca Juga: Mari Berwisata Sejarah ke Museum Kereta Api Ambarawa

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY