Perayaan Tradisi Maudu’ Lompoa di Takalar, Sulawesi Selatan

0
190
foto: Kabarkami.com

Setiap daerah pasti memiliki tradisi dan budaya yang berbeda-beda. Masing-masing tradisi tersebut selalu dirayakan dengan cara yang berbeda-beda juga. Itu sebabnya kenapa Indonesia dikenal dengan keaneka ragaman budayanya. Bahkan perayaan tradisi-tradisi itu bisa menjadi salah satu agenda wisata yang mengundang banyak turis lokal dan manca negara untuk datang dan melihat langsung perayaan tradisi tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh warga Takalar, Sulawesi Selatan. Tradisi yang sangat kental dengan budaya Takalar adalah perayaan “Maudu’ Lompoa”. Maudu’ Lompoa merupakan tradisi maulid yang dirayakan oleh warga Takalar guna memperingati harinya Nabi muhammad SAW. Uniknya, perayaan ini diselenggarakan di Sungai Cikoang.

Puluhan pemuda bergotong royong mengarak julung-julung (replika kapal). Julung-julung ini berisikan hidangan makanan khas berupa nasi pamatara (setengah matang) beserta lauk pauknya yang didominasi ayam kampung dan telur warna-warni serta  hiasan kain khas Sulawesi beraneka warna juga aksesori lainnya, menuju pinggir Sungai Cikoang pada puncak perayaan Maudu Lompoa di Kecamatan Mangarabombang, Desa Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Tata Cara Perayaan

foto: tribun news
foto: tribun news

Tradisi ini ditujukan untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Maudu Lompoa Cikoang merupakan pesta keagamaan masyarakat Cikoang yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang terus dilestarikan turun-temurun. Pelaksanaan Maudu Lompoa mempunyai ritual-ritual dan prosesi adat yang dilaksanakan selama 40 hari sebelum puncak

Sebelum perayaan ini digelar, ada beberapa rangkaian acara yang harus dilakukan untuk siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam acara Maudu’ Lompoa tersebut. Hal-hal pokok yang harus dipersiapkan adalah menyediakan ayam, beras, minyak kelapa, telur, perahu, panggung upacara, lapangan upacara, bembengan(hiasan warna-warni) dan kendawari.

Uniknya lagi, ayam yang akan dipersembahkan harus sudah dikebiri minimal sebulan sebelum perayaan digelar. Kemudian, ayam-ayam tersebut dimasukkan ke dalam kandang dirawat dan makanannya pun harus diperhatikan agar tidak menyentuh makanan yang dianggap najis. Menjelang perayaan, ayam yang sudah dikebiri dan terisolasi tadi akan dipersembahkan pada perayaan Maudu’ Lompoa.

Syarat lainnya, ayam yang akan dipersembahkan tersebut tidak boleh disembelih orang sembarangan. Harus disembelih oleh anrongguru atau tokoh dari keluarga Sayyid. Atau orang yang memimpin prosesi upacaya tersebut.

Selain ayam, persembahan berupa beras juga bukan beras sembarangan. Beras yang hendak dipersembahkan harus diproses sendiri. Mulai dari padi yang sudah menguning dikeringkan, lalu ditumbuh pada sebuah lesung yang juga harus sudah dibersihkan. Bahkan, agar tidak mengenai tanah, lesung tersebut harus dipagari.

Orang yang menumbuk padi tadi juga tidak boleh menaikkan kakinya di atas lesung. Jika pada kebiasaan masyarakat setempat saat menumbuk padi, kaki mereka biasanya berada diatas lesung agar menahan lesung tidak goyang.

Tapi, untuk menumbuh beras yang akan dipersembahakn pada acara Maudu’ Lompoa, hal tersebut tidak boleh dilakukan. Karena itu sudah melanggar persyaratan. Padi yang ditumbuh harus ditumbuh secara perlahan-lahan untuk menjaga agar pagi-pagi tersebut tidak terjatuh ke tanah.

Bahkan sebiji padi pun diharamkan terjatuh ke tanah. Jika padi sudah ditumbuk dan berubah menjadi beras, maka ampas-ampas padi harus dikumpulkan baik-baik pada tempat yang tidak mudah kena kotoran sampai selesai dibacakannya surat Rate’ atau kitab Maudu’.

Ampasnya harus dikumpul baik-baik pada tempat yang tidak mudah kena kotoran sampai selesainya dibaca Surat Rate’ (Kitab Maudu’). Kenapa harus sampai selesai dibacakan kitab tersebut? Karena kitab Maudu menceritakan kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad dan juga riwayat datangnya agama Islam yang dibawakan oleh Sayyid Jalaluddin.

Kisah dibalik tradisi maudu’ Lompoa

foto: tribun news
foto: tribun news

Menurut sejarah yang dipercaya oleh masyarakat Takalar. Maudu’ Lompoa ini bermula saat Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid datang ke Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Saat itu Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid tiba di kerajaan Gowa-Makassar. Sayyid Djalaluddin sendiri adalah seorang ulama besar asal Aceh. Ia merupakan cucu tokoh terkenal Sultan Iskandar Muda Mahkota. Selain itu, Sayyid juga memiliki darah keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan, dan juga masih keturunan Nabi Muhammad SAW ke 27.

Karena memiliki darah keturunan bukan orang sembarangan, maka Sayyid Djalaluddin kemudian diangkat sebagai Mufti kerajaan oleh Sultan Alauddin, lalu namanya diganti menjadi Muhammad al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin.

Saat tiba di Sulawesi Selatan, Sayyid Djalaluddin membawa serta dua naskah agama dari Aceh yakni, Akhbarul Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim. Naskah-naskah karangan Nuruddin ar-Raniriy tersebut juga sempat dipelajari oleh Syekh Yusuf sebelum diberangkatkan ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmunya.

Kisah dibalik tradisi Maudu Lompoa memang sangatlah panjang. Sehingga banyak turis lokal dan manca negara ingin mengetahui apa kisah dibalik tradisi tersebut dan kenapa masyarakat Takalar begitu antusias menyambut perayaan tersebut.

 Berikut tahapan-tahapan pelaksanaan Maudu’ Lompoa di Takalar.

  1. Angngantara’ kanre Maudu (mengantar persiapan Maulid). Lokasi maudu’ adalah di tepi Sungai Cikoang. Pada pagi hari tanggal 29 Rabiul Awal setiap tahun segala persiapan dan peralatan diantar ke sana oleh masing-masing pemiliknya dengan doa-doa khusus yang dipanjatkan.
  2. Pannarimang kanre Maudu (penerimaan nasi Maulid) Penerimaan ini dilakukan oleh guru yang memimpin upacara, dengan membakar dupa dan duduk bersila menghadap kiblat sambil membaca doa agar persembahannya diterima dan menyenangkan Rasulullah SAW.
  3. Rate’ (pembacaan syair pujian pada Rasulullah SAW dan keluarganya) A’rate’ (inti acara) artinya membaca kisah atau syair-syair pujian terhadap Rasulullah SAW dan keluarganya dengan lagu dan irama tersendiri yang amat khas dan menyentuh hati.
  4. Pattoanang (Istirahat) Yaitu jamuan makan untuk undangan yang telah disediakan sesudah selesai upacara inti. Makanan yang dihidangkan dibuat sendiri oleh penyelenggara acara dan para undangan dapat menikmati makanan dan minuman sambil beramah ramah.
  5. Pambageang Kanre Maudu’ (Pembagian Nasi Maulud) Setelah acara selesai, tamu-tamu yang datang dibekali makanan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing sebagai berkah dari hadrat Nabi oleh penyelenggara, menurut tingkatan sosial di dalam masyarakat.(*)

Teks: Very Barus – Dari Berbagai Sumber

 

LEAVE A REPLY