Menjelajahi Pesona Wisata dan Budaya di Pulau Nias

0
43
pulau nias
Instagram | medanwisata

Guncangan gempa bumi dan gelombang tsunami memang pernah menghantam Pulau Nias bertahun-tahun silam. Meskipun begitu, musibah tersebut nampaknya tidak akan melunturkan pesona budaya dan pariwisata wilayah yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatra ini.

Dahulu, Pulau Nias amat tersohor sebagai surga destinasi bagi para pecinta olahraga surfing. Pantai Nias Selatan khususnya memiliki pemandangan eksotis dan ombak tinggi nan menantang yang diburu para peselancar. Tak ayal, jika Pantai Nias Selatan pernah masuk dalam lima besar kawasan paling ideal di dunia untuk olahraga surfing.

Selain menikmati pemandangan alam sekaligus melakoni olahraga air, pulau yang secara administratif masuk ke wilayah Sumatera Utara ini ternyata punya sederet wisata andalan lain. Anda juga akan memeroleh beragam pengetahuan baru sekaligus memahami kearifan lokal dengan mengunjungi wisata budaya yang banyak tersebar di pulau ini. Mari kita jelajahi bersama!

Atraksi Budaya Lompat Batu

Dahulu penduduk Nias sengaja membangun desa di daerah yang sulit dijangkau dengan tujuan menghindari serangan dari desa lain. Karena peristiwa penyerbuan dan peperangan antar desa inilah yang dipercaya melahirkan kesenian Tari Perang dan lompat batu atau Fahombe. Para pria di Desa Nias dilatih untuk bisa melompati batu yang tingginya bisa mencapai dua meter. Tradisi ini pun sekaligus menjadi sarana uji keberanian dan kedewasaan seorang anak laki-laki di desa adat di Nias.

Jika Anda ingin menyaksikan pertunjukan ini, siapkanlah sejumlah uang dan jangan segan untuk menawar. Para penduduk pun akan segera mengenakan baju tradisional Nias dan siap menampilkan pertunjukan lompat batu yang menarik.

Museum Pusaka Nias

Bagi Anda penggemar wisata budaya, cobalah mampir ke Museum Pusaka Nias yang terdapat di wilayah Gunung Sitoli. Di sini ada beragam artefak bersejarah yang jumlahnya mencapai ribuan. Mulai dari alat-alat rumah tangga, patung dan arca peninggalan megalitikum, mata uang, pakaian perang, hingga tiruan rumah adat Nias yang disebut Omo Hada. Museum Pusaka Nias juaga memiliki beragam fasilitas seperti perpustakaan umum, ruang pertemuan, kantin, kebun binatang mini, area rekreasi pantai, hingga penginapan murah meriah untuk para pelancong.

Wisata Air di Kepulauan Hinako

Kepulauan Hinako memiliki delapan pulau besar dengan tiga diantaranya termasuk pulau tak berpenghuni. Bisa dikatakan kepulauan Hinako adalah surga bagi para pecinta air. Mulai dari menyelami keindahan bawah laut dengan menjajal aktivitas seperti snorkeling maupun diving, menjajal ombak yang menantang dengan surfing, atau cukup menikmati pemandangan dari pinggir pantai yang mengagumkan.

Napak Tilas Mengunjungi Desa Adat

Jika Anda ingin lebih mengenal budaya dan kultur masyarakat setempat, cobalah untuk mengunjungi langsung desa-desa adat yang banyak terdapat di wilayah Nias Selatan. Dikutip dari Majalah Mahligai, setidaknya ada 14 perkampungan adat yang masih memiliki banyak rumah adat di Nias. Salah satu desa adat yang paling fenomenal adalah Desa Bawomatalua.

Di desa ini terdapat Omo Sebua yang paling megah di Nias. Desa yang tergolong padat penduduk ini juga memiliki pemandangan alami yang memesona. Untuk mencapai gerbang desa Anda harus menaiki 88 anak tangga dengan sudut 45 derajat. Dari gerbang inilah pengunjung akan disambut dengan hamparan pemandangan rumah-rumah penduduk dan Samudra Hindia yang menawan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy pun secara resmi telah menetapkan Desa Bawömataluo sebagai Cagar Budaya Nasional (CBN) sejak Juli 2017 lalu.

Tips menuju ke Pulau Nias 

Ada beberapa rute yang bisa ditempuh untuk mencapai Nias dengan ibukota Gunung Sitoli ini. Jika berangkat dari Medan, Anda dapat menempuh via jalur darat dan udara. Jika ingin memilh jalur udara, jarak penerbangan ditempuh selama satu jam. Setiap harinya, paling tidak ada tiga penerbangan ke ibukota Nias. Sedangkan jika melalui jalur darat dari Medan harus ke Sibolga terlebih dahulu dengan waktu tempuh sekitar enam jam. Dari Sibolga lanjutkan perjalanan menuju Gunung Sitoli dengan kapal fery cepat selama empat jam. (*)

 

Teks. Tim Mahligai – Indonesia

LEAVE A REPLY