Cerita Cinta dari Pulau Jodoh

0
428
Cerita Cinta
Pulau Kemaro - Dok. Mahligai

Kota Palembang sebagai pusat peradaban Melayu memiliki banyak situs dan tempat yang menarik dikunjungi. Berbagai peninggalan sejarah dan budaya banyak menuturkan cerita. Melampaui keabsahan akurasi waktu atau kebenaran fakta, kisah legenda atau hikayat membawa pesan lain. Kadang menjadi penghubung untuk meresap nilai-nilai moral secara atraktif, kadang pula menjadi perekat untuk menyatukan masyarakat yang berbeda-beda.

Legenda tentang Pulau Kemaro yang pernah diceritakan kawan membawa saya menyusuri hingga ke dermaga kecil di depan Benteng Kuto Besak di Kota Pempek ini. Salah satu sungai terpanjang di Swarnadwipa – sebutan kuno untuk Sumatera yang berarti Pulau Emas – terhampar seluas mata memandang. Sungai Musi memisahkan dua kawasan utama Palembang, yaitu Sebrang Ilir di bagian utara dan Sebrang Ulu di bagian selatan. Tak perlu menunggu, begitu sampai di tepian sungai, seorang pemilik perahu menghampiri untuk menawarkan jasa.

“Ayo saya antar keliling Sungai Musi, nanti bisa sampai Pulau Kemaro!” rayu Pak Ahmad yang saya tahu namanya setelah kemudian berkenalan dan saling bercerita. Harga yang ditawarkan terlalu mahal. Berlagak menolak, akhirnya ia memanggil saya kembali, dan akhirnya kami sepakat dengan jumlah uang yang harus saya bayar untuk menyewa kapalnya seorang diri.

Cerita Cinta
Menyusuri Sungai Musi – Dok. Mahligai

Sungai Musi tak seperti dulu. Begitulah informasi yang dikabarkan lelaki setengah baya ini. Ia asli Orang Ulu dan menghabiskan masa kecil di sungai yang menjadi nadi perdagangan sejak era keemasan Kerajaan Sriwijaya.

“Dulu ada banyak ikan di sini. Tapi sekarang sudah jarang. Paling kalau dapat ikan ya yang kecil-kecil saja,” jawab Pak Ahmad terhadap pertanyaan saya tentang perkampungan tua yang dihuni sebagian besar nelayan di tepian sungai. “Kalau mau dapat ikan besar dan banyak harus sampai ke laut.” Kami mengobrol dengan berteriak karena bising suara mesin motor perahu.

Warna sungai telah keruh, namun masyarakat bantaran sungai masih mengandalkan hidup dari Musi. Kapal-kapal tengker berdampingan dengan perahu nelayan. Bersebrangan dengan pabrik pupuk berukuran raksasa, ada Kampung Arab dan Kampung Kapitan yang telah mendiami kawasan berabad-abad lampau. Penduduknya masing-masing adalah campuran Melayu-Arab dan Melayu-Tionghoa. Dari Sungai Musi, saya berhadapan dengan Jembatan Ampera yang usianya tak lagi muda, tapi masih tampak gagah. Jembatan raksasa berwarna merah itu membentang sepanjang 1.117 meter, diresmikan oleh Presiden Soekarno tahun 1962 dan menjadi nadi yang menghubungkan Ulu dan Ilir.

Cerita Cinta
Pulau Kemaro – Dok. Mahligai

Berperahu sekitar 15 menit, Pak Ahmad memberitahu. “Itu Pulau Kemaro sudah tampak!” Ia menunjuk pada sebuah pulau kecil yang diselimuti hijau pepohonan. Semakin mendekat, setitik bangunan merah kian jelas. Sebuah pagoda.

Legenda Pulau Kemaro merupakan kisah yang banyak diceritakan para orangtua kepada anak-anak di Palembang. Memang tidak sepopuler kisah Romeo-Juliet, tapi ini juga adalah kisah cinta tentang beda mempelai yang berakhir tragis dengan latar Bumi Sriwijaya.

Alkisah terdapat seorang saudagar di Palembang bernama Tan Bun Ann. Bukan sekedar pedagang kaya, ia juga pangeran dari Tiongkok. Hubungan dagang ia jalin dengan baik bersama penguasa setempat, yaitu raja yang memerintah Palembang di era keemasan Melayu. Keluar-masuk istana, ia melirik Siti Fatimah, putri yang adalah anak sang Penguasa kerajaan. Siapa sangka, bukan cuma Tan Bun Ann yang menaksir, keduanya ternyata saling jatuh cinta dari pandangan mata yang hanya sekilas. Saat lelaki matang nan tampan dengan wajah oriental itu menyapa raja di keraton, saat itulah perempuan muda tersebut ikut mencuri pandang.

Keduanya menjalin kasih, meski dihantui kenyataan kalau keduanya memiliki banyak perbedaan. Beda bangsa bukan halangan, mungkin seperti itu pikir mereka. Bahwa cinta adalah suatu rasa yang universal dan bisa tumbuh di mana pun, kapan pun, serta menimpa siapa pun tanpa pandang bulu. Dengan cinta, manusia melupakan perbedaan dan menyadari kesamaan sekaligus.

Tan Bun Ann menghadap istana. Kali ini tidak hendak melaporkan urusan perniagaan atau menyetor pajak usaha, melainkan niat tulus melamar kekasih.

Siapa dapat menghalangi cinta? Raja pula tak kuasa menolak keinginan anak perempuannya. Keduanya diizinkan menikah. Tapi calon mertua ini memberikan syarat yang tidak mudah. Sembilan guci berisi emas menjadi mas kawin.

Maka, berangkatlah Tan Bun Ann ke kampung halaman. Memohon restu orangtua dan hendak meminta mas kawin dari keluarga. Perjalanan panjang ia lalui menuju tanah leluhur di seberang Laut Cina Selatan. Sungai Musi menjadi titik awal keberangkatan dan kelak menjadi perhentian kapalnya berlabuh kembali.

Tan Bun An mendapat restu, sekaligus hadiah dari orangtua berupa 9 guci yang akan memenuhi cita-citanya bersama sang Putri Melayu.

Getek saya berlabuh. Pak Ahmad akan menunggu, sementara saya berkeliling daratan kecil yang lebih tepat disebut delta sungai yang oleh orang-orang di Kota Pempek ini akrab dilafalkan sebagai Pulo Kemaro. Mereka percaya kisah cinta Tan Bun Ann dan Siti Fatimah adalah benar adanya. Itulah mengapa tempat ini disebut Pulau Jodoh.

Jalan menuju Klenteng - Dok. Mahligai
Jalan menuju Klenteng – Dok. Mahligai

Gerbang berornamen sepasang naga menyambut kedatangan. Pulau Kemaro memiliki luas sekitar 32 hektar. Di pulau ini terdapat klenteng tua, makam, pagoda, dan pohon keramat. Pantas saja suasana begitu sejuk, tempat yang mulai populer dikunjungi turis peranakan Tionghoa dan negara-negara Asia ini telah menjadi kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang dipenuhi pepohonan rindang.

Aroma dupa sangat kental. Suasana sedang sepi, sehingga tak banyak peziarah dan pengunjung siang itu. Saya berkeliling klenteng yang didominasi warna merah sambil kembali membayangkan akhir kisah cinta dua sejoli beda bangsa.

Tan Bun Ann bersama rombongan tiba kembali di Sungai Musi. Siti Fatimah bersamanya. Bukan cuma guci-guci di geladak kapal yang membuat mereka sumringah, tetapi angan-angan akan kebahagiaan keduanya segera menjadi suami-istri.

Tiba-tiba saja sang Pangeran Tiongkok ini terkejut ketika membuka tutup guci. Ia langsung dirundung emosi. Ternyata bukan emas, melainkan sawi. Seketika ketulusan cinta yang baru saja dirasakannya berubah menjadi kemarahan. Siti Fatimah berusaha menenangkan, tetapi calon suaminya terlanjur naik pitam. Ia melempar satu per satu guci berisi sayur yang telah membusuk itu untuk ditelan Sungai Musi. Ia diliputi ketakutan. Kegundahan kalau lamarannya ditolak calon mertua.

Guci terakhir gagal tercemplung sungai. Pecah di atas kapal. Bukan sawi busuk yang tumpah, melainkan hamparan emas yang tergelatak di lantai kayu kapal. Ternyata orangtuanya tak ingkar janji. Sembilan guci emas telah dipenuhi. Terlindung sawi di bagian atasnya karena khawatir anaknya akan bertemu perompak saat kembali ke negeri kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Tan Bun Ann terjun ke dalam Sungai Musi untuk mengambil kembali guci-guci yang menentukan masa depannya bersama gadis impian. Tetapi kedalaman Musi sendiri adalah misteri. Tak hanya guci, kali ini calon suami ikut tertelan pergi.

Siti Fatimah tentu tak ingin kehilangan kekasihnya begitu saja. Demi cinta, ia pun rela mati untuk apa yang telah diperjuangkannya bersama lelaki pilihan. Ia terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan Tan Bun Ann. Kekasih jauh lebih penting ketimbang emas-emas dalam guci. “Jika aku tak kembali, daratan yang muncul kelak adalah nisan-ku,” pesannya kepada prajurit sebelum tubuhnya tak kembali. Sepasang kekasih beda bangsa benar-benar tertelan Sungai Musi selamanya.

Klenteng di Pulo Kemaro – Dok. Mahligai

Di depan klenteng, terdapat persembahan pada tanda serupa nisan yang dipercaya sebagai makam untuk Pangeran Tan Bun Ann dan Putri Siti Fatimah. Setelah kepergian sepasang kekasih itu, daratan benar-benar muncul. Entah kapan tepatnya Pulau Kemaro terbentuk secara misterius. Masyarakat Palembang yang merupakan perpaduan Melayu dan peranakan Tionghoa, Arab, maupun Eropa terlanjur meyakini legenda tentang Pulau Jodoh. Kisah tersebut seolah menjadi restu bagi siapa pun untuk melakukan kawin campur. Akulturasi budaya pun bisa kita dinikmati dari arsitektur kota, seni tradisi, serta kuliner.

Pagoda bersusun 9 di depan Klenteng
Pagoda bersusun 9 di depan Klenteng – Dok. Mahligai
Pagoda Bersusun 9
Pagoda Bersusun 9 – Dok. Mahligai

Di belakang klenteng, terdapat pagoda 9 lantai. Sulit ditelusuri apakah ada kaitannya pagoda berlantai 9 itu dengan 9 guci dari Tiongkok. Sepasang naga tampak menjulur di tangga pagoda. Pada sisi kanan, berdiri sosok kakek tua gendut berwarna emas. Ia tengah tersenyum lebar sambil memegang uang kuno. Di belakangnya, tumbuh pohon besar yang dikeramatkan. Pohon Cinta. Banyak pasangan percaya kalau mereka akan berjodoh sampai jenjang perkawinan jika mengukir nama di pohon tersebut.

Siapa saja boleh percaya atau tidak pada kisah cinta Tan Bun Ann dan Siti Fatimah yang berakhir tragis. Tapi siapa bisa menyangkal tentang kemunculan cinta dari pasangan yang beda bangsa sekali pun. Bagi saya, Pulau Kemaro telah menjadi monumen yang menegaskan hal itu.

 

Teks & Foto: Nurdiyansah

*)Nurdiyansah, seorang traveler, peneliti, & penulis lepas. Lulusan Magister Pariwisata Sekolah Pasca-Sarjana Univ. Sahid, pendiri Jejakwisata.com dan Candinusantara.com.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here