Kisah Gatot Kaca, Dari Kawah Candradimuka Hingga Merajut Asmara

    0
    3640
    Kisah Gatotkaca
    Instagram/ mitaluvthemoon

    Dalam kekayaan sastra budaya Jawa, nama Gatotkaca atau Gatutkaca merupakan salah satu tokoh pewayangan yang cukup populer. Kesaktiannya dikisahkan begitu luar biasa, antara lain mampu melesat terbang tinggi tanpa sayap. Demikian halnya dengan kisah ketika ia dilahirkan oleh sang ibu yang dalam sastra Jawa bernama Arimbi atau dalam Bahasa sansekerta disebut Hidimbi, dikisahkan sempat menggemparkan negeri Hastinapura tempat kelahirannya.

    Kisah kelahiran Gatotkaca yang menggemparkan tersebut menjadi suatu narasi tersendiri dalam pewayangan Jawa. Alkisah suatu malam, terjadi kegemparan luar biasa di negeri Hastinapura. Putra pertama Bimasena atau Werkoedara, salah satu keluarga Pandawa lahir di muka bumi. Namun anehnya tali pusarnya tidak dapat dipotong dengan senjata tajam manapun. Bergelarlah dia Jabang Tetuka. Jabang Tetuka bukanlah keturunan manusia biasa. Berdarah keturunan Bimasena, seorang ksatria tangguh, dengan Arimbi, seorang putri raksasa.

    Genap satu tahun sudah, ari-ari dari tali pusar Jabang Tetuka tetap tidak putus. Sang ayah dan ibunda merasa khawatir lalu meminta bantuan Arjuna untuk menemukan senjata pusaka. Arjuna lalu bersemedi memohon petunjuk dimana menemukan senjata mandraguna tersebut. Permohonan Arjuna didengar oleh Batara Narada yang memiliki keris Kontawijaya, sebuah senjata yang luar biasa kekuatannya. Namun sayang, karena suatu kesalahpahaman, Arjuna hanya mendapatkan sarung keris Kontawijaya. Meski demikian sarung tersebut ternyata mampu memutuskan ari-ari Tetuka dan anehnya lalu masuk ke dalam perutnya dan menjadikan Tetuka bayi yang kebal dan kuat.

    Gatotkaca dan Kawah Candradimuka

    Sedari kecil, Jabang Tetuka sudah menunjukkan keperkasaannya. Suatu hari, dia “dipinjam” oleh para dewa untuk mengalahkan pasukan Kala Pracona. Saat itu khayangan memang digempur habis-habisan oleh Kala Pracona dan ribuan pasukan tangguhnya karena para dewa tidak menyetujui keinginannya untuk menyunting Dewi Supraba.

    Bayi Tetuka pun “ditempa” kesaktiannya dengan cara diceburkan ke dalam kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melontarkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah tersebut. Maka muncullah Tetuka yang telah berubah menjadi wujud lelaki dewasa lengkap dengan senjata pusaka para dewa, yaitu Caping Basunanda, Kotanag Antrakusuma dan terompah Padakacarma. Tetuka lalu dikenal dengan nama Gatotkaca, seorang ksatria Pringgadani yang kuat dan dapat terbang secepat kilat. Dengan senjata-senjata tersebut, Gatotkaca pun berhasil mengalahkan Kala Pracona.

    Asmara Gatotkaca

    Gatotkaca dalam pewayangan maupun legenda sastra Jawa dikenal ‘kuper’ alias kurang pergaulan dengan para wanita. Tak heran, bila sosok yang identik dengan kostum berornamen bintang keemasan ukuran besar di dadanya ini relative jarang mengenal ‘jatuh bangun’membina asmara dengan wanita dalam hidupnya, jauh berbeda dengan sosok sang paman Arjuna yang mudah menaklukkan hati perempuan. Tentu saja, karena Gatotkaca setiap hari tugasnya berkelana untuk menjaga keamanan istana dan memperdalam ilmunya.

    Dibalik kesaktian Gatotkaca, ternyata ia juga menyimpan sekelumit kisah asmara. Dalam legenda pewayangan, ada cuplikan narasi menarik yang kerap dinamai ‘Gatotkaca Gandrung’ yang menggambarkan bagaimana hati Gatotkaca akhirnya tertambat pada seorang wanita bernama Pregiwa yang kemudian dipersuntingnya. Dalam tradisi pernikahan Jawa kerap dipertunjukkan tari ‘Gatotkaca Gandrung’ yang diperankan oleh seorang penari pria dan wanita.

    Asmara Gatotkaca berawal dari kisah dalam suatu ‘perjalanan dinas’ ia melihat dua orang gadis remaja berparas cantik yang berjalan cepat setengah berlari melintasi hutan sedang digoda dan diusilin seorang berperawakan besar di belakang mereka, yang bernama Janaloka yang sebetulnya ‘cantrik’ atau abdi dari kedua gadis ini. Dua gadis bersaudara tersebut adalah Pregiwa dan Pregiwati, yang tak lain adalah putri Arjuna, sedang menempuh perjalanan ingin bertemu ayahnya di Ksatrian Madukara.

    Dalam perjalanan, mereka bertemu rombongan Korowa yang dipimpin oleh Laksmono yang begitu melihat kecantikan kedua gadis tersebut kemudian berniat ‘memboyong’ keduanya ke istana. Pregiwa dan Pregiwati sendiri lari dan berhasil diselamatkan Gatotkaca yang mengantarkannya dengan selamat ke Madukara, bertemu sang Ayah Arjuna. Gatotkaca jatuh cinta pada Pregiwa, demikian pula sebaliknya sehingga keduanya pun menikah. Dari pernikahan mereka lahirlah seorang putra bernama Sasikirana.

    Teks: Tim Mahligai Indonesia

    LEAVE A REPLY