Kapan Lagi Bisa Mengenal Kampung Naga dengan Hangat

0
106

Ya, bicara tentang naga nyatanya nggak cuma ada di serial Game of Thrones saja. Kampung Naga pun eksis dan ada di Indonesia! Lalu ada Khalesinya, kah? Hehehe…

Tunggu dulu. Pastinya Kampung Naga yang ada di Negeri Nusantara ini bukan menyimpan banyak naga. Hahaha!

Sejarah berdirinya Kampung Naga sendiri masih simpang-siur. Tak jelas kapan berdiri, siapa pendirinya dan kapan berdirinya. Ya seperti misteri begitu …

Tapi yang jelas ada beberapa versi berdirinya wilayah ini menurut masyarakat Kampung Naga sendiri.

Misalnya saja, ada yang menyebut kalau kampong ini dimulai semasa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati.

Saat itu abdinya yang bernama Singaparana ditugaskan menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat.

Perjalanannya membawa Singaparana sampai ke daerah Neglasari. (sekarang Desa Neglasari). Di sini sang abdi ini disebut Sembah Dalem Singaparana (sebutan masyarakat Kampung Naga).

Singaparana lantas bersemedi. Dalam semedinya itu ia mendapat ‘pencerahan’ kalau dirinya harus berdiam di satu tempat yang akhirnya disebut Kampun Naga ini.

Hanya itu.

Ya, secara administratif Kampung Naga memang ada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasinya sendiri tak jauh dari jalan raya penghubung kota Garut dan Tasikmalaya.

Serunya, kampong ini benar-benar ada di lembah yang subur.

Batas wilayah sebelah Barat dari Kampung Naga ada hutan keramat. Disebut ‘Hutan Keramat’ karena dalam hutan tersebut ada makam leluhur masyarakat Kampung Naga.

Sedangkan Sebelah Selatan dibatasi area persawahan milik para penduduk. Sebelah Utara dan Timur dibatasi Sungai Ciwulan (atau Kali Wulan) yang sumber air berasal dari Gunung Cikuray (Garut).

 

439 Anak Tangga

Ya, untuk masuk kawasan Kampung Naga, kita harus menuruni 439 anak tangga, lalu menyusuri jalan setapak menyusuri Sungai Ciwulan tadi. Barulah setelah itu kita sampai di Kampung Naga.

Kenapa harus begitu repotnya untuk mencapai Kampung Naga?

Nah, menurut Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah Kampung Naga adalah perbukitan dengan tanah yang begitu subur.

Kawasan Kampung Negara sendiri memang terhampar luas sekitar satu setengah hektar. Hamparan tersebut terdiri dari perumahan, pekarangan, kolam dan persawahan yang bisa dipanen dua kali setahun.

Untuk bangunan, Kampung Naga punya sekitar 113 bangunan.

Itu termasuk masjid, bale kampong, dan lumbung padi umum.

Bentuk rumah para penduduknya yang terbilang sangat khas tradisional banget.

Ya, desain bentuk rumah para penduduk masih berupa rumah panggung. Bahannya sendiri masih terbuat dari bambu dan kayu. Sedangkan atapnya terbuat dari ijuk, daun nipah dan alang-alang.

Yang unik, semua rumah harus menghadap ke utara atau ke sebelah selatan. Jadi memanjang di sepanjang barat-timur.

Desain rumah dibuat seragam, merata. Ini semata-mata agar nggak ada masalah perbedaan materi atau seberapa kayanya para penduduk.

 

 

Hukum Adat Kuat

Begitu tradisionalnya Kampung Naga juga terasa pada hukum yang berlaku di sini. Para penduduknya masih menganut hukum alam.

Hukum Pancasila dan kenegaraan memang ada tapi diatur terbatas dengan peraturan adat dan pemerintahan.

Oh ya, uniknya, kesemua hukum Kampung Naga tidak tertulis, jadi hukum adat yang ada hanya berupa perkataan saja.

Baca Yuk! Kenali Keseruan Bebunyian Karinding dari Bandung

Hukum adat atau prinsip yang dianut biasanya seputar bahasa amanat, wasiat dan akibat. Jika itu semua dilanggar pasti ada akibat.

Pamali atau pantangan pun jadi ketentuan hukum yang tak tertulis dan sangat dijunjung tinggi.

Misalnya saja, ada satu hutan di Kampung Naga bernama Hutan Lindung, hutan ini belum pernah dimasuki siapapun karena dilarang. Bahkan ketua adat tertinggi pun tak ada yang berani memasukinya.

Konon itu dilakukan agar menjaga alam dari kerusakan. Mengingat masyarakat Kampung Naga percaya kalau mereka tak hanya hidup di alam saja, tapi mereka juga hidup bersama-sama dengan alam itu sendiri.

Keren, kan?

Jadi, siap-siap saja berkunjung ke sana, yuk! Tapi ya, perhatikan deretan pantangan yang ada, ya…

 

 

 

O.J.

Sumber: IndonesiaKaya

Foto: travel guide/wikivoyage

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here