Keseruan Menawan Saat Melangkah di Lorong-Lorong Cirebon

0
13

Meski tak dianggap sebagai kota tujuan wisata utama, Cirebon sebenarnya menyimpan kekayaan budaya dan potensi wisata.

Salah satunya karena peninggalan–peninggalan fisik sejarah masa lalu dan wisata boganya.

Cirebon bukanlah sekadar nama tanpa sejarah. Konon, Cirebon berasal dari Caruban atau tempat pertemuan atau persimpangan jalan.

Kota yang terletak di jalur pantai utara ini pun lama kelamaan disebut Cirebon, atau kalau mau diartikan menjadi sungai yang mengandung banyak udang (rebon berarti ‘udang kecil’). Hal ini bisa dilihat dari oleh–oleh khasnya yang banyak berasal dari olahan udang.

Kota ini jadi kota yang punya perpaduan budaya China (Tionghoa) dan kultur pendampingnya, seperti Sunda, Jawa, dan Arab, yang begitu kuat. Bahkan bila dirunut sejarahnya, Kesultanan Cirebon pada 1522 didirikan Haji Tan Eng Hoat alias Mohamad Ifdil Hanafi bersama Sunan Gunung Jati yang menduduki tahta pertama kraton Kasepuhan (sebelumnya bernama Pakungwati).

Lalu pada 1553, Sunan Gunung Jati menikahi puteri Haji Tan Eng Hoat, Ong Tin yang terkenal dengan sebutan Puteri China.

Bila memanfaatkan Jalur Utara dari Jakarta, setelah 3–4 jam perjalanan, kita akan memasuki daerah Jamblang.

Hal ikhwal silang budaya langsung terasa. Di Jamblang ini berderet bangunan–bangunan tua bergaya oriental, baik yang masih ditinggali atau terbengkalai dan tampak tak terawat.

Bahkan bila diperhatikan kawasan yang dulunya sebuah kampung China ini berbentuk memanjang dengan pusat sebuah aliran sungai.

 

Tiga Buah Keraton

Di Cirebon juga terdapat tiga buah keraton yang saling bersaudara, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Keraton Kasepuhan dan Kanoman bergaya arsitektur Cina–Jawa.

Sedangkan Kacirebonan yang didirikan karena konflik politik kerajaan dengan pihak VOC (Belanda) menampilkan gaya arsitektur Eropa (Indische).

Layaknya keraton di tanah Jawa, ketiga keraton ini menghadap ke arah utara dengan pelataran alun–alun dan mesjid di sebelah baratnya.

Di kompleks Keraton Kasepuhan terdapat mesjid Agung Sang Cipta Rasa, yang mana dulunya jadi tempat wafatnya Sunan Gunung Jati.

Ratusan ornamen asal China di Mesjid, Regol, dan Pendopo, terutama pada porselen, furnitur dan koleksi perhiasannya, benar-benar bisa dinikmati mata.

 

Baca Temukan 5 Kuliner Khas Ini Saat Berkunjung ke Cirebon

 

Situs Pemakaman Gunung Jati

Banyak orang juga melakukan wisata ziarah ke situs pemakaman Gunung Jati. Walau mungkin agak kurang nyaman karena banyak pengemis dan pungutan, kompleks pemakaman yang dikenal dengan Wukir Sapta ini cukup indah dikelilingi tembok putih berornamen porselen China.

Coba deh telusuri lorong-lorong kota, akan sampai ke kawasan bernama Trusmi yang mendedikasikan dirinya sebagai produsen batik yang cukup besar di Jawa Barat.

Tepatnya di Plered, wilayah Trusmi berawal dari Jalan Panembahan dan Jalan Buyut Trusmi, sebuah daerah yang menjadi sentra pengrajin batik. Kalau beruntung, mata bisa menyaksikan kumpulan pembatik yang tengah sibuk dengan canting dan sesekali ditingkahi dengan canda, di belakang deretan toko-toko batik.

Kapan lagi bisa menikmati para pengrajin dengan cantingnya?

Tak jauh dari sentra batik, kita juga bisa mengunjungi pusat kerajinan rotan yan kualitasnya tak perlu diragukan lagi.

Terbukti produksi meubel dan perangkat rotan dari sini terbukti telah diekspor ke mancanegara, antara lain ke Jepang dan Jerman.

 

Bersambung

 

 

 

 

Tim mahligai-indonesia

Foto: Paulus Emas

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here