Iringan Musik dan Tari Tradisional dalam Pernikahan Adat Minang

0
674
manjampui marapulai
Contoh Iringan Prosesi Manjampui Marapulai - Dok. Majalah Mahligai

“Tanpa iringan musik talempong atau gandang tabuik, suasana pesta pernikahan adat Minang tidak berkesan,” kata Des Iskandar, pemandu pernikahan adat Minang yang dilansir dari Majalah Bella Donna The Wedding.

Ya, kurang lengkap nampaknya prosesi pernikahan tanpa iringan musik. Pun dalam rangkaian upacara pernikahan tradisional adat, ada tiga instrumen yang lazim dikumandangkan yaitu talempong ( sejenis kenong dengan diameter 15 sampai 17,5 cm), gendang, dan pupuik (semacam suling terbuat dari batang padi atau bansi). Meskipun tidak menutup kemungkinan adanya alat musik lain dimainkan sesuai dengan prosesi pernikahan yang sedang berlangsung

Saat ritual arak-arakan bako mengantar anak pusako misalnya, suasana semakin meriah dengan iringan bunyi gandang dol (gendang berukuran besar) dan tansa yang ditabuh berulang sepanjang jalan.

Begitu pun ketika ritual malam bainai yang disemakarakkan oleh iringan musik talempong dan gandang. Di daerah pantai Sumatera Barat seringkali juga dimainkan musik gamat dengan irama yang hampir sama dengan lagu-lagu Melayu Deli. Saking asyiknya iringan pada prosesi ini, tak pelak membuat hadirin secara spontan ikut menari dan bergembira menyambut selendang-selendang yang diulurkan oleh para penyanyi atau penari wanita.

Tari Galombang dan Tari Sekapur Sirih

Satu lagi yang menarik dari pernikahan adat Minang ialah Tari Galombang dan Tari Sekapur Sirih yang dipersembahkan untuk menyambut kedua mempelai saat diarak menuju pelaminan. Tidak jelas sejak kapan dua macam tarian ini mulai dipergunakan dalam penyambutan kedua mempelai.

Namun, menurut Elly Kasim yang dilansir dari Majalah Bella Donna The Wedding, dahulu tarian tersebut digelar sebagai tanda penghormatan kepada para tetua adat maupun para tamu nagari. “Baru pada 70-an dua macam tarian terebut saya pentaskan untuk upacara penyambutan mempelai di pesta -pesta pernikahan,” kata Elly Kasim, tokoh masyarakat Minang yang melanglang buana menyajikan kesenian tradisional Indonesia.

Nama Galombang diambil dari gerakan lincah tubuh para penari yang turun naik bagaikan gelombang laut, sementara gerakan kaki dan tangan menggambarkan jurus silat Minang. Ada kisah unik mengapa jurus silat Minang dirangkai menjadi sebuah tari untuk menyambut mempelai.

Konon, ini berkaitan dengan cerita seorang pemuda menikah selalu dikawal oleh teman seperguruan silat menuju ke kampung isterinya, untuk menghalau kemungkinan serangan pemuda dari kampung lain.

Kreasi baru Tari Galombang lazim digabungkan dengan Tari Persembahan Sirih. Perpaduan dua tari ini berfungsi untuk menyongsong dan memberi penghormatan kepada kedua mempelai, juga membuka jalan untuk barisan para dara yang membawa persembahan carano berisi sirih adat. Selain itu, kreasi baru tarian tradisional ini juga berfungsi sebagai pagar bagi jalan masuk rombongan ninik mamak yang mengiringi perjalanan kedua mempelai.

Sementara untuk pilihan iringan lagu tradisional dalam prosesi ini diantaranya adalah talempong Tupa Bagaluik yang dimainkan untuk gerak maju para pamuda. Sedangkan saat dara-dara membawa carano dimainkan lagu tradisional saluang Lubuk Sao dan lagu bansi Palayaran untuk mengiringi para dara mempersembahkan sirih kepada tamu kehormatan.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here