Baju Labbu dan Mandar : Busana Pengantin yang Kian Tergerus Zaman

0
255
Ilustrasi Baju Mandar - Dok. Majalah Mahligai Edisi 7 - 2009

Selama ini mungkin kita hanya mengenal Baju Bodo sebagai busana pengantin khas dari Sulawesi Selatan. Padahal, masih ada lagi ragam busana lain yang khas dari kota ‘angin mamiri’ ini, misalnya Baju Labbu dan Baju Mandar. Bila Sahabat Mahligai masih terasa awam dengan kedua busana khas tersebut, berikut kami akan ulas selengkapnya.

Pengantin Berbusana Labbu

(Kanan) Ilustrasi Baju Labbu – Dok. Majalah Mahligai

Labbu yang dimaksud ini bukanlah sejenis nama sayuran ya! Berbeda dengan Baju Bodo yang identik dengan kesan baju menggelembung seperti balon, ciri khas Baju Labbu ialah baju kurung yang berlengan ketat dari bagian siku ke pergelangan tangan.

Beberapa daerah tertentu di Sulawesi Selatan, Baju Labbu juga kerap kali dikenakan sebagai busana pengantin wanita. Bahan dasar yang lazim dikenakan untuk busana ini adalah kain sutera tipis tapi tidak menerawang. Sebagaimana Baju Bodo, Baju Labbu dipakai dengan sarung sutera bermotif kotak warna cerah, perhiasan lempeng, atau renda benang keemasan.

Elemen perhiasan pengantin berbusana Labbu dipusatkan pada seputar baju dan dada. Secara tampilan, bentuk dan ragam aksesori pengantin ini mirip dengan perhiasan pengantin Baju Bodo. Namun, detail kain warna keemasan yang difungsikan sebagai penutup baju dan bagian bawah dada menjadikan perhiasan Baju Labbu berbeda dengan Baju Bodo.

Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan Baju Labbu tanpa mengenal batasan atau strata sosial, termasuk untuk acara pernikahan sebagai busana pengantin wanita di Sulawesi Selatan.

Busana Pengantin Mandar

Mandar merupakan sub etnik yang tinggal di pesisir barat sebelah utara Sulawesi Setalan yang kini secara administratif termasuk wilayah Sulawesi Barat. Mandar yang berarti ‘kuat’ ini secara merupakan suatu persekutuan empat belas kerajaan yang berada di Sulawesi Barat Daya. Sehingga bentuk busana pengantin Mandar merupakan baju khas kerajaan yang dipakai oleh para putri dan permaisuri.

Selama ini, nama Mandar dengan segala keunikan dan keindahan tersendiri seolah tenggelam diantara nama besar Bugis dan Makasar yang menjadi ikon di Sulawesi Selatan. Dalam banyak hal, tradisi budaya Mandar tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Bugis dan Makasar. Meskipun tetap saja ada latar belakang sejarah dan bahasa yang berbeda.

Pengaruh budaya Bugis sangat kuat bagi etnis Mandar, bahkan sampai saat ini. Maka jangan heran, gaya busana pengantin Mandar masih satu tipe dengan padanan Baju Bodo dan sarung yang dikenakan oleh pengantin Bugis Makassar. Namun dalam hal pilihan warna, putih menunjukan kelas keturunan bangsawan dan kalangan berada dari pengantin Bugis Makassar.

Aksesori Busana Pengantin Mandar – Dok. Majalah Mahligai

Pengantin Wanita

Bentuknya hampir serupa dengan pengantin wanita Bugis Makasar. Yang sedikit membedakan hanyalah pada detail motif dan bentuk perhiasan yang dipergunakan untuk menyempurnakan seluruh penampilan. Pengantin wanita Mandar tidak menggunakan riasan warna hitam pada bagian dahi, sebagaimana yang diterapkan pada pengantin wanita bugis Makassar. Bentuk sanggul dan perhiasan juga terkesan lebih simpel.

Pengantin Pria

Busana Pengantin Mandar terdiri atas, baju, celana atau paroci, kain sarung atau lipa, dan tutup kepala. Baju yang dikenakan tubuh pada bagian atas berbentuk jas tutup atau Belladada berlengan panjang. Sebagaimana dalam gambar, pada bagian leher berkrah tinggi, serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dipasang pada leher baju serta ujung lengan.

Khusus untuk pemakaian tutup kepala pada busana pria, mempunyai makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan status sosial pemakaianya. Penggunaan benang emas murni hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan. Namun, dengan berjalannya waktu, warna yang menyerupai emas murni pada hiasan kepala dan aksesori lainnya kini sudah dipergunakan oleh khalayak umum.

Kelengkapan busana adat pria Mandar juga disertai pemakaian perhiasan seperti keris, ikat pinggang, gelang, kalung, dan juga kain yang dibentuk menyerupai scarf setigita warna keemasan. Aksesori tersebut dipakai dengan cara disampirkan pada bagian kedua bahu atau pundak.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY