Mengetahui Filosofi di Balik Busana Pengantin Adat Puro Mangkunegaran Surakarta & Adat Minang

0
195
Ilustrasi Busana Pengantin - Dok. Mahligai

Indonesia terkenal dengan karakteristik masyarakatnya yang beragam, mulai dari agama, suku, budaya, adat istiadat, hingga ke cara berpakaia. Busana pengantin tradisional khas nusantara memiliki kharisma yang tak tertandingi. Setiap jengkal bagiannya mempunyai makna tersirat yang tak akan ada habisnya untuk ditelusuri.

Namun kali ini, kami akan membahas lebih mendalam tentang busana pengantin wanita adat Puro Mangkunegaran Surakarta dan Pengantin Minang dari daerah pesisir Sumatera Barat.

Busana Pengantin Wanita Adat Puro Mangkunegaran Surakarta

Sadar atau tidak, Anda pasti pernah atau bahkan sering melihat pengantin dengan busana Adat Puro Mangkunegaran Surakarta ini. Tapi tahu tidak apa makna dibalik keindahan busana tersebut?

Pemilihan motif kain batik yang digunakan sebagai bawahan memiliki arti tertentu. Biasanya kain yang digunakan adalah kain cinde motif sekar atau sidomukti. Makna kain sidomukti sendiri adalah harapan, artinya agar hidup sang pengantin langgeng sepanjang masa. Sementara hiasa paes berbentuk bulat yang diaplikasikan pada kening pengantin wanita meruakan lambang dari anak perempuan.

Busana pengantin wanita Adat Puro Mangkunegaran Surakarta semakin elegan dengan atasan berwarna gelap yang merupakan symbol kebijaksaan dan keluhuran. Meskipun saat ini sudah banyak modifikasi, tapi sebenarnya pakem yang ada mengharuskan busana pengantin Adat Puro Mangkunegaran Surakarta terbuat dari bahan beludru.

Busana Pengantin Minang dari daerah pesisir Sumatera Barat

Berbeda dengan busana pengantin wanita adat Puro Mangkunegaran Surakarta yang cenderung berwarna gelap, pengantin Minang dari daerah pesisir Sumatera Barat didominasi warna-warna cerah seperti merah, biru dan hijau. Warna merah sendiri merupakan simbol kebahagiaan.

Fakta menarik lainnya dari busana pengantin yang satu ini adalah proses pembuatannya yang membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan. Oleh karena itu, biasanya busana pengantin ini digunakan secara turun-menurun. Ciri khas lainnya adalah aksesoris di bagian kepala yang terdiri dari 140 tusuk bunga sunting.

Sementara selendang atau yang kerap disebut tokah yang digunakan menyilang menutupi bagian dada mengandung filosofi bahwa perempuan harus melindungi payudara yang menjadi sumber Air Susu Ibu (ASI) bagi keturunannya.

Baca Juga:Mengenal Ragam Sunting Pengantin Minang

ELSA FATURAHMAH

LEAVE A REPLY