Kecantikan Pengantin Wanita Aceh yang Memesona

0
69
Kecantikan Pengantin Wanita Aceh yang Memesona
Foto: Dok. Mahligai Indonesia

Busana pengantin wanita disebut juga dengan Culok Dara Baro. Seperti busana adat pada umumnya, busana pengantin wanita Aceh lebih rumit dibanding busana pengantin pria. Unsur utama pakaian pengantin wanita adalah baju kurung lengan panjang, sarung warna senada yang dililit di pinggang, ikat pinggang, serta celana panjang hitam. Untuk baju kurung, pengantin boleh memilih warna sesuai selera, akan tetapi harus disesuaikan dengan songket/ sarung yang dikenakan.

Perhiasan dan aksesori keemasan yang dikenakan mulai dari kepala, tangan, hingga kaki menampilkan kesan mewah. Karena pada zaman dahulu perhiasan tersebut terbuat dari emas asli dan hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu.

Salah satu aksesori yang dikenakan adalah Patam dhoe yang diletakkan di dahi. Berbentuk seperti mahkota yang bagian tengahnya diukir dengan motif tumpal dan sulur daun, dan terbuat dari emas atau perak sepuh emas. Aksesori ini terbagi atas tiga bagian yang satu dengan lainnya dihubungkan dengan engsel. Apabila seorang wanita telah mengenakan perhiasan ini, berarti sejak saat itu ia telah dinobatkan sebagai isteri yang sah, terlepas dari tanggung jawab orang tuanya, dan resmi membentuk rumah tangganya sendiri.

Tatanan rambut pengantin wanita Aceh tidak memiliki ciri khusus, akan tetapi, terdapat beberapa aksesori yang harus dikenakan yang dinamakan culok ok (tusuk sanggul). Culok ok ini memiliki banyak macam, ada yang terbuat dari lempengan tembaga dengan bentuk menyerupai rangkaian bunga yang bersusun tiga, ada pula yang terbentuk bintang pecah delapan yang pada sisinya terdapat ukiran motif bunga dengan sebuah permata di bagian puncaknya. Dan masih banyak macam lainnya. Selain aksesori, yang juga dikenakan sebagai penghias rambut adalah ronce melati yang ditata bertumpuk diantara culok ok, serta dibiarkan menjuntai menutupi rambut hingga ke bahu.

Bukan hanya di kepala, bagian dada juga dipenuhi dengan berbagai perhiasan. Salah satunya adalah Keutab lhee lapeh (kalung tiga lapis), yaitu kalung yang terbuat dari perak sepuh emas. Bentuknya menyerupai bulan sabit bersusun tiga yang satu dengan lainnya dihubungkan dengan rantai. Kalung ini diletakkan bertumpuk dengan Taloe Takue Bieng Meuih, yang merupakan seuntai kalung terbuat dari emas, terdiri dari satu rantai dengan keeping-keping hiasan berbentuk bunga.

Tangan dan kaki pun tak luput dari perhiasan. Dua gelang besar dan lima gelang kecil menghiasi masing-masing pergelangan tangan. Dua pasang gelang besar tersebut dinamakan Gleueng jaroe pucok reubong. Terbagi atas dua bagian yang dihubungkan dengan system engsel, dimana bagian atas berupa ukiran piligram dengan motif tumpal dan kaligrafi (bungong, kalimah). Kelima jari dari masing-masing tangan dihiasi cincin yang dihubungkan dengan rantai yang disebut juga gelang cincin. Dan sebagai pelengkap, sepasang gelang kaki/ Gleueng goki melingkari pergelangan kaki kiri dan kanan.

Teks: Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY