Beragam Isi Sesajen Dalam Prosesi Pernikahan Jawa

0
225
sajen pernikahan jawa
Ilustrasi Sajen Pernikahan Jawa - Dok. Pernikahan Andra & Leo (Adiza Photography)

Dalam adat istiadat kultur Jawa, sajen adalah sesajian yang berupa makanan, hewan atau buah-buahan yang dipersembahkan kepada arwah leluhur serta kekuatan gaib yang ada dalam upacara yang diselenggarakan. Seiring dengan adanya pengaruh Agama Islam (dan agama lainnya) dalam kehidupan beragama masyarakat Jawa, maka sesajen pun beralih fungsi. Sesajen dianggap sebagai salah satu simbolisasi dan tradisi nenek moyang yang disediakan dengan tujuan dan makna mulia.

Dalam pernikahan jawa, sajen dipersembahan pada waktu-waktu ritual tertentu, misalnya untuk Midodareni, Siraman, dan seterusnya. Umumnya sesajen erat kaitannya dengan hasil bumi hasil bumi dan kekayaan alam,misalnya berupa tanaman, pepohonan, ataupun buah-buahan yang mengandung makna filosofis tertentu.

Berikut ini beberapa jenis sajen yang dipersembahkan saat ritual upacara pernikahan, berikut makna filosofinya.

Sajen Pasang Tarub

sajen pernikahan jawa
Ilustraasi – Dok. Mahligai Indonesia

Pasang Tarub merupakan upacara memasang atau menaikkan bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Pemasangan tarub dilakukan secara simbolis oleh ayah calon pengantin wanita. Seusai acara pasang tarub, acara pun berlanjut dengan upacara Pasang Tuwuhan atau memasang tumbuh-tumbuhan yang diletakkan di gerbang utama rumah atau dekat tempat siraman.

Tuwuhan terdiri dari setandan pisang suluhan atau matang di pohon, sebatang pohon tebu wulung (tebu hitam), cengkir gadhing (tandan dan buah kelapa gading), ranting dan daun pohon beringin, seikat padi, berbagai jenis daun-daunan antara lain daun keluwih, daun alang-alang dan daun opo-opo.

Sajen untuk upacara Tarub :(a). Nasi putih (b). Ayam Panggang. (c). Dua ekor burung dara.(d). Sayur menir (bayam dan jagung muda dirisi iris), (e). Jajan pasarsatu nampan

Sajen Siraman 

Ilustrasi Tumpeng Jawa untuk Siraman – Foto: Dok. Mahligai

Siraman menjadi ritual yang ditandai dengan memandikan calon pengantin dengan maksud menyucikan diri. Siraman akan dilakukan oleh sesepuh dari keluarga calon pengantin dengan menyiram air kembang tujuh rupa. Dalam acara siraman juga disiapkan sajen berupa; ayam Panggang bumbu bawang, ketumbar dan garam, dua buah kelapa yg baru tumbuh serta jajanan pasar.

Yang menarik dalam sajen siraman, sang empunya hajat juga menyediakan Tumpeng Robyong. Tumpeng Robyong terdiri dari tumpeng nasi putih dengan bagian puncak tumpeng yang ditutupi contong daun pisang dan  ditancapkan telur rebus dan lauk-pauk lainnya yang ditusuk dengan lidi. Selain itu disertakan pula sayur-sayuran mentah dan bunga kenanga, ditata secara acak, agar terlihat rimbun atau ‘robyong’. Tumpeng yang terlihat ‘meriah’ ini ditempatkan pada bakul atau tampah, memiliki makna agar perhelatan dikunjungi banyak tamu.

Sajen Upacara Ngerik

Upacara Ngerik merupakan ritual membersihkan rambut-rambut halus yang tumbuh di bagian kening dan tengkuk, sebagai simbolisasi untuk membuang hal-hal yang kotor dari calon pengantin wanita. Upacara Ngerik kemudian dilanjutkan dengan memberikan pola paes pada dahi calon pengantin putri. Rangkaian prosesi ini dilaksanakan seusai ritual siraman.

Sajen untuk upacara Ngerik:(a). Jajan Pasar. (b). Satu sisir pisang raja dan satu sisir pisang pulut.(c). Macam-macam jenang/bubur. (d). Seekor ayam jantan yang masih hidup. (e). Bumbu dapur. (f). Padi-padian dan kacang kacangan. (g). Empon-empon. (h). Kendi kecil, cempluk, lentera kecil di-nyalakan. (i). Kinang ( sirih, kapur, jambe, tembakau ). (j). Kembangboreh, sisir, kaca, kapas, dll. (k). Tumpeng kecil dan urap. (l). Letrek (sindur kecil warna biru di tengahnya putih/bangun tulak).

Sajen Wilujeungan/Rasulan 

Upacara wilujengan atau rasulan digelar oleh sang pemangku hajad dengan maksud memanjatkan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa agar pesta pernikahan berjalan lancar. Biasanya wilujengan akan digelar pada sore hari setelah siraman dengan acara berupa pengajian atau salawat.

Salah satu ciri khas dari Sajen Wilujengan ialah jumlahnya yang dibuat ganjil, bisa 5, 7 atau 9. Sajen terdiri dari beberapa benda seperti: (a). Ketan, Kolak dan Apem (7 takir –yakni tempat bentuknya persegi yang dibuat dari daun pisang). (b). Jenang/bubur 3 macam ( merah, putih, katul –masing-masing 7 takir). (c). Sego golong ( nasi dibentuk bulat-bulat) sebanyak 14 buah, Jangan menir (sayur dari bayam dan jagung muda 7 takir), Pecel Ayam dibuat 7 sudi.(d). Nasi Putih. (e). Lauk Pauk 7 macam masing masing 7 sudi. (f). Lauk Gorengan 7 macam masing masing 7 buah. (g). Jajan Pasar.

Sajen Midoderani

Mitoni
Ilustrasi – Dok. Mahligai

Malam Midodareni merupakan ritual yang memiliki makna magis dan dramatis bagi calon pengantin wanita dalam kultur Jawa. Mengingat, malam tersebut diyakini sebagai saat turunnya para bidadari dari langit ke bumi untuk bertandang ke kamar calon pengantin putri, dan ‘menurunkan’ kecantikan bidadari agar sang wajah calon pengantin tampak bersinar jelita keeseokan harinya.

Sajen untuk upacara Midodareni berupa: (a). Pisang Raja yang bagus berjumlah genap dua sisir (satu tangkep) dan seikat daun sirih ayu yang bagus. (b). Jajan Pasar lengkap. (c).Bunga setaman ( Kembang Telon). (d). Nasi Gurih atau nasi Wuduk beserta bumbu perlengkapannya (kedelai goreng dan krupuk kulit).(e). Ingkung Ayam jantan lengkap dengan jeroannya. (f). Sambel Goreng. (g). Lalapan (timun,kemangi).

Sajen Akad Nikah 

akad nikah jawa klasik
Ilustrasi Prosesi Akad Nikah Adat Jawa – Dok. Majalah Mahligai

Dalam tradisi Jawa, upacara pernikahan juga menyertakan sesajen lengkap terdiri dari: (a). Cikal atau tunas kelapa dan tebu wulung yang dipotong-potong. (b). Pisang raja satu tangkep. (c). Kelapa kupas 2buah, (d). Benang Lawe satu ikat. (e). Sebuah welat, bambu tipis. (f).Kinang atau satu set perlengkapan makan sirih. (g). Bunga Telon.(h). Ayam jantan hidup. (i). Jajan Pasar. (j). Kelapa tanpa serabut dan letrek. (k), Alasnya kloso bongko, daun kluwih, daun opo-opo, daun dadap srep, daun nanas, daun alang alang, kain mori setengah meter.(l). Setangkap gula kelapa. Keseluruhan ditempatkan di satu bokor besar, kemudian sajen ini diletakkan di dekat tempat berlangsungnya upacara pernikahan.

Sajen Sepasaran 

Foto: Dokumentasi Ngunduh Mantu Bayu dan Pipi (Majalah Mahligai)

Upacara Sepasaran juga biasa dikenal sebagai upacara Ngunduh Mantu. Tradisi ini lazimnya digelar setelah sepasar atau 5 hari seusai hari pernikahan di rumah orang tua pengantin pria. Dalam acara ini, disediakan Sajen Sepasaran yang disediakan sebelum upacara Ngunduh Mantu berlangsung.

Sajen untuk upacara Sepasaran: (a). Jajan Pasar ditempatkan dalam satu tampah besar. (b). Macam-macam jenang atau bubur, paling seidkit tiga macam, atau berjumlah ganjil. (c). Sego Janganan atau disebut Nasi Urapan dengan berbagai macam lauk-pauknya.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY