Ragam Unik Prosesi Pernikahan Adat Cirebon, Jawa Barat

0
574
pernikahan adat cirebon
Illustrasi Pengantin Cirebon - Dokumentasi Majalah Mahligai

Pengantin masa kini seringkali merasa ragu untuk menerapkan prosesi adat pada pesta pernikahan mereka. Padahal jika dilakoni keunikan prosesi adat justru meninggalkan kesan dan kenangan tersendiri.  Untuk itu cobalah mengenal dan pahami lebih jauh makna filosofi dibalik prosesi adat pernikahan di Nusantara.

Seperti halnya prosesi pernikahan adat Cirebon. Keunikan gaya Cirebonan bukan hanya pada perpaduan warna hijau dan kuning keemasan yang mencerminkan kemulian. Serangkaian prosesi pada adat ini ternyata menyimpan makna yang tentunya bermanfaat bagi kedua mempelai.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini kami uraikan detil pelaksanaan acara beserta perlengkapanya.

Pasrahan; Lamaran Khas Cirebon 

Pasrahan bisa dikatakan merupakan ritual “lamaran” ala Cirebon. Di acara ini, utusan keluarga calon pengantin pria akan menyampaikan tujuan kedatangan mereka yakni melamar calon mempelai wanita sekaligus “memasrahkan” putra mereka untuk dinikahkan. Di acara ini pula kedua pihak akan berdiskusi untuk menentukan tanggal pernikahan.

Selayaknya tradisi bertamu di Indonesia, lazimnya keluarga calon pengantin pria membawa barang hantaran saat upacara pasrahan. Hanya saja dalam tradisi Cirebon tidak ada ketentuan atau tradisi seputar jumlah dan jenis benda yang harus dibawa. Seluruh hantaran ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Menyucikan Diri dengan Siram Tawandari

air siraman
Air Siraman – Pengantin Irma & Widy. Foto. Sekar Tanjung

Dalam tradisi Jawa, prosesi membersihkan diri dengan “memandikan” calon pengantin menjelang pernikahan disebut sebagai “siraman.”  Sementara di Cirebon, ritual simbolis yang bermakna menyucikan diri lahir dan batin calon pengantin sebelum akad nikah ini disebut prosesi “siram tawandari.”  Upacara siram tawandari juga dilaksanakan dengan maksud untuk membuang seluruh noda dan penyakit.

Uniknya, dalam prosesi siraman menurut adat Cirebon, kedua calon pengantin menjalani upacara siraman bersama-sama. Oleh karena itu, sebelum prosesi dimulai, pihak keluarga calon pengantin wanita melakukan ritual menjemput calon pengantin pria.

Agar lebih jelas, berikut adalah urutan prosesi siram tawandari.

Pertama, juru rias membawa kedua calon pengantin ketempat upacara siraman (cungkup). Saat menuju tempat siraman kedua calon pengantin ditutup kain putih pada bahunya. Dengan iringan bunyi gamelan atau karawitan, kedua calon pengantin juga didampingi oleh kedua belah orang tua dan para sesepuh.

Kedua, calon pengantin wanita duduk di sebelah kiri calon pengantin pria pada kursi yang tersedia. Sebelum siraman calon pengantin diberi lulur pada dada dan punggungnya, sementara sang juru rias sambil membaca doa dan mantra keselamatan untuk kedua calon mempelai. Selanjutnya, orang tua masing-masing calon pengantin menyirami kedua calon mempelai dan diikuti siraman oleh para sesepuh.

Ketiga, setelah selesai air bekas siraman dipercikan kepada anak-anak gadis atau jejaka untuk cuci muka dengan maksud supaya mereka enteng jodoh. Upacara ini juga dinamai bendong sirat.

Malam Widodari

Selayaknya tradisi midodareni, malam widodari bermakna bidadari cantik dari surga dan sangat harum. Prosesi ini digelar pada malam terakhir sebelum pengantin perempuan melepas masa lajang. Pada malam ini, calon pengantin wanita tidak diperkenankan bertemu dengan calon pengantin pria. Dengan riasan tipis dan busana tidak resmi, calon pengantin wanita ditemani oleh sesepuh, orang yang dipercayai, atau kerabat dekat akan diberi nasihat seputar persiapan berumah tangga.

Prosesi Setelah Akad Nikah

bersanding usai akad nikah
Mempelai Irma & Widy Bersanding Usai Akad Nikah – Foto. Sekar Tanjung

Salam Temon

Salam temon merupakan prosesi menginjak telur yang dilakukan kedua mempelai setelah resmi menjadi sepasang suami-istri. Prosesi injak telur melambangkan perubahan status dari jejaka dan gadis menjadi suami-isteri. Prosesi ini juga memiliki makna bahwa kedua mempelai siap membina rumah tangga dan memiliki keturunan.

Sawer atau Surak

Sawer atau surak dilaksanakan dengan cara menaburkan uang receh bercampur beras kuning dan kunyit. Prosesi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa kebahagiaan dari orangtua atas terlaksananya pernikahan putra-putrinya. Sawer atau surak juga menjadi simbol harapan  kedua mempelai agar senantia memeroleh rejeki dari Yang Maha Kuasa selama membina rumah tangga.

Dalam prosesi ini biasanya kedua mempelai akan duduk di kursi yang telah tersedia dengan dipayungi oleh kuru payung. Setelah itu, juru rias memimpin prosesi dengan mempersilahkan kedua orang tua mempelai menaburkan uang receh bercampur beras kuning yang diarahkan ke payung yang berfungsi melindungi kedua mempelai. Uang receh yang berjatuhan tersebut diperebutkan oleh para hadirin dan anak-anak yang menyaksikan upacara tersebut.

Pugpugan

Pugpugan merupakan ikatan lipatan ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk. Dalam prosesi ini orangtua mempelai wanita akan menaburi pugpugan ke kepala kedua mempelai.  Pugpugan menjadi lambang kesetiaan antara suami isteri yang tak lekang oleh waktu hingga usia senja nanti (lapuk).

Saling Suap Nasi Ketan Kuning (Adep Adep Sekul)

Saling suap nasi ketan kuning bermakna sebagai lambang kemantapan hati dan menyatukan hati suami istri untuk mebina rumah tangga bahagia. Nasi ketan kuning dibuat bulatan kecil-kecil berjumlah tiga belas butir.  Orangtua pengantin wanita dan orangtua pengantin pria akan menyuapi putra-putri mereka masing-masing sebanyak empat butir. Lalu kedua mempelai saling menyuapi sebanyak empat butir. Sisa satu butir terakhir untuk berebutan antara kedua mempelai sebagai tanda siapa yang mendapat nasi kuning terakhir tadi mendapat rejeki lebih banyak, tetapi rejeki itu tidak boleh dimakan sendiri, harus dimakan bersama.

Sungkem ; Sembah Sujud Kepada Orangtua

Mempelai Irma & Widy membasuh kaki – Foto. Sekar Tanjung

Prosesi sungkem sebagai pencerminan rasa hormat dan terima kasih kepada orangtua atas bimbingan dan kasih sayangnya. Selain itu, memohon doa restu untuk membina rumah tangga sendiri. Prosesi ini diawali sungkem kepada ayah, kemudian kepada ibu, selanjutnya kepada ayah dan ibu mertua.

Setelah selesai upacara sungkem, para tamu undangan dipersilakan untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai, dan diikuti acara menikmati hidangan dan hiburan yang telah tersedia. Setelah selesai pemberian ucapan selamat, maka diadakan acara hiburan yaitu tari-tarian, seperti Tari Topeng, Tari Bedoyo, Tayub.

 

Sumber tulisan: Majalah Mahligai Edisi 3

LEAVE A REPLY