Wow! Ini 4 Tradisi Malam Menjelang Lepas Masa Lajang (2)

0
181

Setelah malam midodareni, mappacci, masih ada juga malam menjelang lepas masa lajang tradisional seperti malam bainai dan ngeyeuk sereuh. Seperti apa, kah…

Beragam tata cara pada malam menjelang melepas masa lajang dengan adat yang berbeda, namun bermakna baik dilakukan untuk mendapatkan sebuah kesempurnaan.

 

Malam Bainai

Tradisi melepas masa lajang anak daro, masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, memiliki malam bainai. Malam saat sang calon pengantin wanita berpamitan ke keluarga besar karena ia akan menikah esok hari. Malam ini juga kerap disebut sebagai malam seribu doa dan harapan mengingat semua kerabat dan sahabat akan memberikan doa restunya.

Pada dasarnya, bainai sendiri artinya meletakkan tumbukan halus daun pacar merah atau yang disebut dengan inai ke kuku jari calon pengantin wanita (anak daro). Upacara ini memang tak jauh berbeda dengan mappaci pada adat Bugis-Makassar.

Bila ditilik riwayatnya, membubuhkan inai tidak saja sebagai upaya untuk mempercantik tangan anak daro semata, namun zaman dahulu, kegiatan memerahkan kuku-kuku jari calon pengantin wanita dengan daun inai serta membalutnya dengan daun sirih mengandung arti magis, yaitu untuk melindungi si calon anak daro dari mara bahaya. Namun, saat ini kepercayaan itu dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama. Menggunaan inai pada kuku calon anak daro tak lebih dari upaya untuk mempercantik diri.

Dan apabila pesta pernikahan berakhir, warna merah pada kuku juga penanda kepada orang lain bila ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan apabila hendak pergi berdua dengan suami kemana saja.

Sebuah malam yang tak akan terlupakan

Saat malam bainai berlangsung, calon pengantin wanita akan menggenakan busana khusus yang disebut baju tokah dan bersunting rendah. Tokah adalah semacam selendang yang dibalut menyilang di dada sehingga bagian-bagian bahu dan lengan nampak terbuka. Biasanya, para undangan yang hadir, terutama kaum wanita akan mengenangkan baju kurung sedangkan kaum pria menggenakan busana teluk belanga.

Di beberapa kenagarian di Ranah Minang, acara bainai ini dapat dilakukan bersamaan dengan mengikut sertakan calon pengantin pria (marapulai). Namun keduanya tidak duduk bersandingan.

 

Baca juga Wow! Ini 4 Tradisi Malam Menjelang Lepas Masa Lajang

 

Meletakkan tumbukan inai ke kuku-kuku jari calon anak daro dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh keluarga besan. Pada kesempatan ini, setiap orang tua yang diminta untuk meletakkan inai ke jari calon anak daro memberikan nasihat secara berbisik ke telinganya. Bisikan-bisikan itu bisa berlangsung lama maupun singkat. Nasihat-nasihat rahasia mengenai kehidupan berumah tangga atau juga hanya sekadar gurauan agar calon anak daro tidak cemberut dihadapan orang banyak.

Acara bainai ini dipimpin oleh seorang pemandu yang mampu menghidupkan acara, di Pariaman disebut uci-uci, sedangkan di daerah lain bisa saja disebut amai-amai atau mande-mande. Malam bainani  sering kali dimeriahkan dengan penampilan kesenian tradisional Minang. Di wilayah pesisir meliputi Painan, Padang – Pariaman hingga Lubuk Basung, hiburan yang ditampilkan ialah musik gamat dengan irama musik Melayu serta disertai joget Melayu Deli. Semua acara ini mengundang tamu agar secara spontan tegak menari bersama. Dengan menggunkan selendang-selendang, penari wanita akan mengajak kaum pria agar menari Melayu secara bersama.

 

NGEUYEUK SEUREUH

Berasal dari bahasa Sunda, yaitu  paheuyeuk-heuyeuk jeng beubeureuh (bekerja sama dengan pacar). Bila diartikan, maksudnya adalah meskipun digoyang badai kehidupan, kedua mempelai ini akan tetap terus lengket sampai tua. Acara ini hanya terbatas antara calon pengantin dan para sesepuh yang sangat terbatas. Mereka yang belum menikah maupun nenek-nenek yang sudah menopouse tidak diperkenankan untuk mengikuti acara ini. Pasalnya, acara ini biasanya diisi dengan pembelajaran kepada kedua calon mempelai mengenai ilmu suami-istri yang dipaparkan secara mendalam.Tak sedikit materi yang disampaikan menyangkut seputar alat reproduksi dan hubungan seksual suami istri. Oleh sebab itu biasanya dilakukan di kamar yang tertutup.

Upacara ngeyeuk seureuh ini sebenarnya bertujuan untuk mendekatkan hubungan antar kedua keluarga meskipun tujuan utamanya adalah memberi nasihat kepada pada calon mempelai dengan menggunakan simbol-simbol.

Adapun alat-alat yang harus disediakan selama upacara ini adalah:

  • Hasil tumbuh-tumbuhan berupa: sirih segar lengkap dengan tangkainya, bunga mayang yang masih tertutup, labu besar, seikat padi, bunga tujuh rupa, daun untuk pembungkus.
  • Pakaian, berupa seperangkat pakaian pria dan wanita, kain batik berjumlah ganjil, sarung palekat.
  • Barang kerajinan dan peralatan lainnya yakni selembar tikar, panjang dua meter lebar satu meter, kain putih, panjang dua meter, papan untuk injakan kaki, pelita, kendi kecil, tujuh tempat sirih lengkap dengan pinang, gambir, dan tembakau yang terbuat dari tikar, tujuh sisir, tujuh sapu tangan, tujuh dus bedak, tujuh cermin, tujuh pak sabun mandi, benang kanteh, elekan (bambu kecil sepanjang 20 cm), tujuh hahampangan (kue kering yang ringan-ringan), sesepeun (rokok linting dengan kawung), cerutu dan rokok putih, uang logam receh, telur ayam kampung.

  • Sesaji yang terdiri dari sirih pinang lengkap, barang-barang dapur seperti semangkuk beras, bumbu-bumbu, cobek, bakul dengan cukil, tampah besar, buah, kue kering,
  • Sesaji berupa gula putih, merah, kelapa, asem, peyeum, roti, pisang emas dan pisang klutuk, jajanan pasar, nasi tumpeng, bubur merah dan putih, setangkai daun pisang, kemenyan putih, minyak kenanga, minyak wangi, sebungkus bunga rampai, benang hitam putih lengkap dengan jarumnya, cermin dan kain putih satu meter, gula dan kopi.

 

Upacara ngeuyeuk seureuh ini sendiri biasa berbarengan dengan prosesi seserahan. Adapun urutannya adalah :

  1. Pangeuyeuk, tetua yang dipercaya untuk memimpin acara, memberikan benang kanteh kepada kedua calon mempelai untuk dipegang ujungnya seraya meminta izin dan doa restu dari kedua orang tua.
  2. Pengeyeuk membawa lagu kidung berupa permohonan doa kepada Tuhan, sambil ‘nyawer’ kepada calon pengantin. Artinya agar kedua mempelai kelak hidup sejahtera.
  3. Kedua calon mempelai ‘dikeprak’ (dipukul perlahan-lahan) dengan sapu lidi, diiringi nasehat bahwa dalam hidup berumah tangga harus dapat memupuk kasih sayang antara suami istri.
  4. Membuka kain putih penutup pangeuyeu-kan, yang dilambangkan bahwa keadaan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan harus dijaga jangan sampai ternoda.
  5. Kedua calon pengantin membawa dua perangkat pakaian di atas kain sarung, digotong bersama oleh kedua calon mempelai dan disimpan di kamar pengantin.
  6. CPP membelah mayang dan pinang dengan hati-hati agar tidak rusak. Melambangkan bahwa suami harus memperlakukan istri dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.
  7. Kedua calon mempelai dipersilahkan menumbukkan alu ke dalam lumpang.
  8. Membuat ‘lungkun’ yaitu sirih bertangkai, dua lembar berhadapan digulung menjadi satu memanjang, lalu diikat dengan benang kanteh.
  9. Berebutan uang, baik yang hadir maupun kedua mempelai dan orang tua, yang ada di bawah tikar. Lambang bila suami dan istri harus berlomba-lomba mencari rezeki, guna kebahagiaan rumah tangga
  10. Membuang bekas ngeuyeuk seureuh yang dilakukan kedua mempelai dan beberapa orang tua di jalan simpang empat. Perlambang memulai hidup baru dengan membuang jauh semua keburukan masa lalu dan menangkal segala keburukan yang akan datang dari segala penjuru.

 

 

 

 

Theresia Triomegani

Foto: Dok. Mahligai

berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here