Mengenal Prosesi Ngeuyeuk Seureuh yang dilakukan Raisa dan Hamish

0
120
ngeuyeuk seureuh
Instagram | thebridestory

Kemarin, Raisa dan Hamish Daud melakukan sederet prosesi ritual adat Sunda jelang hari pernikahan mereka yang kabarnya akan berlangsung tidak lama lagi. Dalam foto-foto yang terbesar di media sosial, Raisa yang tampil cantik dan anggun dengan balutan kebaya terlihat melakoni serangkaian ritual adat Sunda. Misalnya saja prosesi siraman atau dalam istilah Sunda dikenal dengan Ngebakan, juga prosesi Ngeyeuk Sereuh.

Bagi sebagian orang, prosesi Ngeyeuk Seureuh mungkin masih asing di telinga kita. Oleh sebab itu, mari kita cari tahu prosesi ini secara lebih detil. Barangkali Anda mau menerapkan prosesi Ngeyeuk Seureuh ini saat pernikahan nanti.

Ngeyeuk seureuh sendiri bisa diartikan sebagai prosesi meminta doa restu oleh calon mempelai kepada orangtua masing-masing yang disaksikan sanak keluarga. Dalam prosesi ini pula kedua orangtua akan memberikan nasihat kepada anaknya melalui lambang benda-benda yang ada dalam prosesi ini. Biasanya prosesi ini juga dibarengi dengan acara seserahan.

1. Memohon Doa Restu

raisa dan hamosh
Instagram | Thebridestory

Prosesi ini akan dipimpin oleh Pengeuyeuk, pemandu adat yang dipercaya memimpin acara Ngeyeuk Seureuh. Pengeuyeuk akan memberikan benang kanteh (sebanyak 7 helai) dari panjangnya, 2 jengkal kepada dua calon mempelai untuk dipegang oleh masing-masing pada tiap ujungnya. Sambil duduk menghadap, pertama-tama kepada kedua orangtua calon mempelai wanita, kedua calon mempelai harus meminta izin dan doa restu untuk menikah. Dilanjutkan permohonan restu kepada orangtua calon mempelai pria.

2. Menaburkan Beras

Setelah itu, Pengeunyeuk membawakan Lagu Kidung, berupa permohonan dan doa kepada Tuhan, sambil nyawer (menaburkan beras sedikit-sedikit) kepada clalon pengantin, yang diartikan agar kedua calon mempelai kelak hidup sejahtera.

3. Memberikan Nasihat 

Lalu kedua calon mempelai dikeprak (dipukul perlahan-lahan) dengan sapu lidi sembari diiringi nasihat. Isi nasihatnya bahwa dalam hidup berumah tangga harus dapat memupuk kasih sayang antara suami istri dan berusaha untuk kesejahteraan keluarga barunya.

4. Membuka Kain Putih

Selanjutnya membuka kain putih penutup pangeunyeukan.  Kain putih ini merupakan lambang bahwa keadaan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan harus menjaga jangan sampai ternoda.

5. Membawa Dua Perangkat Pakaian 

Kedua calon pengantin membawa dua perangkat pakaian kain arung/ polecat, digotong (dibawa) bersama oleh kedua calon mempelai dan disimpan di dalam kamar pengantin. Artinya, dua perangkat kain yang dijadikan satu, melambangkan kegotong-royongan yang harus dipelihara bersama-sama termasuk kedua orangtua masing-masing.

raisa dan hamish
Instagram | rose_arbor_seserahan

6. Membelah Mayang dan Jambe

Membelah mayang dan jambe (pinang), calon mempelai dengan hati-hati membelah mayang dan jambe supaya tidak rusak atau patah, melambangkan bahwa seorang suami haru memperlakkukan istrinya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.

7. Menumbuk Alu 

Selanjutnya kedua calon mempelai dipersilahkan untuk menumbukkan alu ke dalam lumpang. Caranya adalah kedua calon mempelai duduk berhadapan, yang wanita memegang lumping, yang pria memegang alu di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menekan pada paha calon mempelai wanita. Setelah itu diberi giliran kepada orangtua masing-masing untuk menumbukkan alu tersebut sembari mengucapkan selamat, selamat, selamat.

8. Membuat Lungkun

ngeuyeuk seureuh
Instagram | Thebridestory

Lungkun merupakan sirih bertangkai dua lembar berhadapan digulung menjadi satu memanjang. Lalu diikat dengan benang kanteb. Hal ini dilakukan oleh kedua calon mempelai, kedua orangtua masing-masing, serta orangtua yang hadir disitu. Prosesi membuat lungkun melambangkan kerukunan.

Kemudian sisa sirih dan 7 buah tempat sirih yang telah diisi lengkap, serta juga padi, labu, dan kelapa dibagikan kepada tamu yang hadir. Artinya Bila kelak kemudian hari mendapatkan rezeki yang berlebihan harus dapat membagikannya kepada sanak saudara dan handai taulan.

9. Berebutan Uang 

Berebutan uang yang dipimpin oleh aba-aba Pangenyeuk seluruh hadirin termasuk kedua calon mempelai dan kedua orang tua berebutan mengambil uang yang ada di bawa tikar. Pangeunyeuk menaburkan uang, beras, kunyit, dan permen juga kepada orang yang tidak dapat turut berebutan uang yang ada di bawah tikar. Acara ini melambangkan bahwa suami istri harus mau berlomba-lomba mencari rejeki, guna kebahagiaan rumah tangga. Selanjutnya diadakan pembacaan doa kesalamatan oleh pengeyeuk.

10. Membuang Bekas Ngeuyeuk Seureuh 

Bekas ngeuyeuk seureuh biasanya dibuang di tengah jalan simpang empat oleh kedua calon mempelai, diikuti oleh berapa orang tua. Tradisi ini menjadi simbol memulai hidup baru dengan membuang jauh semua keburukan masa lalu dan menangkal segala keburukan yang akan datang dari segala penjuru.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia 

LEAVE A REPLY