Mengenal Tradisi Melepas Masa Lajang Di Berbagai Daerah

0
1429
Seminar Pernikahan - Pernikahan Adat Jawa
Peserta mengikuti prosesi siraman - Dok. Bella Donna/ Elsa

Midoderani, malam bainai, dan ngeyeuk seureuh merupakan beberapa istilah untuk menyebut tradisi melepas masa lajang dari berbagai daerah. Lazimnya, tradisi ini dilaksanakan pada malam sebelum calon pengantin melangsungkan akad nikah.

Meskipun berbeda istilah dan ritual dalam melepas masa lajang, namun pada intinya, tradisi ini bermakna baik dalam prosesi pernikahan yang dianggap sakral. Nasihat dan wejangan pihak keluarga kepada calon pengantin yang akan memulai berumah tangga merupakan inti utama tradisi melepas masa lajang ini digelar.

Midodareni, Tradisi Melepas Masa Lajang Pengantin Jawa

Midodareni berasal dari kata widodari yang berarti bidadari cantik dari surga dan sangat harum. Biasanya, prosesi ini digelar pada malam terakhir sebelum pengantin perempuan melepas masa lajang.

Pada malam ini, calon pengantin wanita tidak diperkenankan bertemu dengan calon pengantin pria. Ia hanya perlu berdiam diri di dalam kamar dengan riasan tipis dan ditemani keberat serta sesepuh untuk menerima wejangan berkaitan dengan kehidupan rumah tangga kelak.

Sementara di luar kamar, calon pengantin pria melakukan beberapa prosesi di antaranya :

Seserahan. Calon pengantin pria bersama keluarga mengunjungi kediaman calon pengantin wanita guna memberikan seserahan sebagai wujud tanda kasih ikatan kedua keluarga.

Tantingan. Saat di mana orangtua calon pengantin wanita mendatangi putrinya yang berada di kamar pengantin, untuk menanyakan kembali kemantapan hati sang putri untuk menikah. Uniknya, calon pengantin wanita akan minta dicarikan sepasang kembar mayang sebagai persyaratan pernikahan.

Jonggolan. Selanjutnya, kesiapan dan kemantapan calon pengantin pria pula diuji. Ia akan diberi nasihat dan wejangan sebagai bekal menjalani kehidupan rumah tangganya kelak.

Angsul-angsul . Inilah akhir dari proses midoderani, dimana pihak keluarga akan memberikan bingkisan balasan. Juga akan diserahkan perlengkapan pernikahan yang akan dikenakan calon mempelai pria untuk menikah esok harinya.

Malam Bainai, Tradisi Melapas Masa Lajang Anak Daro 

pemakaian inai
Pemakaian Inai – Dok. Mahligai

Pada dasarnya, tradisi malam bainai menyerupai ritual mappaci. Tradisi menghias kuku jari calon pengantin wanita (anak daro) dengan tumbukan halus daun pacar merah atau yang disebut inai.

Malam ini juga kerap disebut sebagai malam seribu doa dan harapan mengingat semua kerabat dan sahabat akan datang untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin. Mereka yang hadir pada malam bainai akan meletakan tumbukan inai ke kuku-kuku jari anak daro. Pada kesempatan ini, setiap orangtua yang diminta untuk meletakan inai ke jari calon anak daro akan memberi nasihat dengan cara berbisik di telinga si anak daro.

Acara bainai dipimpin oleh seorang pemandu yang mampu menghidupkan suasana, yang di disebut uci-uci, amai-amai atau mande-mande. Pada malam bainai juga sering dimeriahkan dengan penampilan kesenian tradisional Minang.

Ngeuyeuk Seureuh,  Lepas Masa Lajang Pengantin Sunda

pengantin sunda
Ngeuyeuk Seureuh, Pengantin Sunda – Dok. Mahligai

Ngeyeuk seuyeuh berasal dari bahasa Sunda yang artinya paheyeuk-heyeuk jeng beubeureuh (bekerja sama dengan pacar). Maksudnya adalah meskipun digoyang badai kehidupan, kedua mempelai ini akan tetap terus lengket sampai tua.

Berbeda dengan tradisi malam melepas masa lajang daerah lain, dalam tradisi ngeuyeuk seureuh, acara dibuat tertutup dan terbatas hanya untuk calon pengantin dan para sesepuh. Mereka yang belum menikah maupun nenek-nenek yang sudah menopose tidak diperkenankan mengikuti acara ini.

Pasalnya, acara ini biasanya diisi dengan pembelajaran kepada kedua calon mempelai mengenai ilmu suami istri yang dipaparkan secara mendalam. Tak sedikit materi yang disampaikan seputar alat reporoduksi dan hubungan seksual suami istri.

Upacara ngeyeuk seuruh sebenarnya bertujuan untuk mendekatkan hubungan antar kedua keluarga, meskipun tujuan utamanya adalah memberi nasihat kepada calon mempelai dengan simbol-simbol. Upacara ngeyeuk seureuh ini sendiri biasanya dibarengi dengan prosesi seserahan. *

 

Text. Theresia Triomegani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here