Mengenal Upacara Perkawinan Adat Aceh

0
1761
foto:www.weddingavenue.com

Upacara adat setiap daerah memiliki tahapan-tahapan yang berbeda-beda, meski memiliki arti dan tujuan yang sama. Seperti halnya perkawinan adat Aceh. Budaya ini juga memiliki keunikan tersendiri. Sebelum melangsungkan pernikahan, ada beberapa tahap yang harus dijalani oleh kedua belah pihak mempelai. Berikut penjelasannya.

Upacara Meugaca
Bagi masyarakat Aceh, sebelum pesta perkawinan berlangsung, biasanya selama tiga hari tiga malam akan digelar upacara meugaca atau boh baca (berinai) bagi pengantin laki-laki dan pengantin perempuan di rumah masing-masing. Tampak kedua tangan dan kaki pengantin dihiasi dengan inai. Selama upacara meugaca/boh gaca, pada malam harinya diadakan pertunjukan kesenian seperti tari rabana, hikayat, pho, silat, dan meuhaba atau kaba (cerita dongeng).

Akad Nikah
Setelah melewati tahap meugaca, barulah digelar pesta pernikahan. Biasanya, acara ini dilakukan oleh qadli yang telah mendapat wakilah (kuasa) dari ayah dara baro. Qadli didampingi oleh dua orang saksi selain majelis — yang juga dianggap sebagai saksi. Jinamai atau mahar pun kemudian diperlihatkan kepada majelis. Selanjutnya, qadli membacakan doa (khotbah) nikah serta lafaz akad nikah dengan diikuti oleh linto baro. Apabila lafaz sudah dianggap sempurna, qadli mengangguk meminta persetujuan kedua saksi. Bila saksi belum menyetujui, maka linto harus mengulangi lafaz nikah tersebut sampai dinilai sempurna.

Pesta
Setelah selesai acara nikah, linto baro dibimbing ke pelaminan persandingan. Di sana, dara baro telah duduk menanti. Dara baro pun bangkit dari pelaminan untuk menyembah suaminya. Penyembahan suami ini disebut seumah teuot linto. Setelah seumah teuot linto, maka linto baro memberikan sejumlah uang kepada dara baro yang disebut dengan pengseumemah (uang sembah).

Selama acara persandingan ini, kedua mempelai dibimbing oleh seorang nek peungajo. Biasanya yang menjadi peungajo adalah seorang wanita tua. Kedua mempelai kemudian diberikan makanan yang diletakkan di sebuah pingan meututop (piring adat) indah dan besar. Selanjutnya, kedua mempelai dipeusunteng (disuntingi) oleh sanak keluarga kedua belah pihak, yang kemudian diikuti oleh para jiran (tetangga).

Mempersunting
Acara mempersunting biasanya dilakukan oleh keluarga pihak linto baro. Mereka menyuntingi (peusijuk/menepung tawari) dara baro, dan sebaliknya, keluarga pihak dara baro menyuntingi linto baro. Tiap orang yang menyuntingi, selain menepung tawari dan melekatkan pulut kuning di telinga temanten, juga memberikan sejumlah uang yang disebut teumentuk. Acara peusunteng ini lazimnya didahului oleh ibu linto baro, barulah disusul orang lain secara bergantian.

Apabila acara peusunteng sudah selesai, maka rombongan linto baro meminta izin untuk pulang. Linto baro turut pula dibawa pulang. Ada kalanya linto baro tetap tinggal. Biasanya, linto baro tidur di rumah dara baro, tetapi pagi-pagi benar dia sudah harus pergi. Menurut adat, akan memalukan bila seorang linto baro masih di rumah dara baro sampai siang.

 

Very Barus

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here