Pengantin Minang dalam Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat

0
131
pengantin minang
Pengantin Minang - Foto: Dok. Mahligai Indonesia

Terlepas dari kesan rumit yang dimilikinya, pernikahan adat Minang tetap menjadi sebuah prosesi sakral dan membanggakan untuk dijalankan. Selain membawa kesan mendalam, setiap tahap pelaksanaannya mengandung filosofi bermakna harapan masa depan yang bahagia.

Setelah melalui serangkaian proses panjang yakni maresek (penjajakan), maminang (meminang), batimbang tando (meminang dan bertukar tanda) dan menakuak hari (menentukan hari), maka berlanjut dengan acara semarak malam bainai. Lazimnya, acara ini dilangsungkan malam hari sebelum besok paginya calon anak daro melangsungkan akad nikah.

Di malam bainai para sesepuh keluarga memberikan inai (tumbukan daun pacar) pada kuku dan ujung jari calon pengantin wanita. Acara ini juga dibarengi ritual mandi-mandi, yakni memercikkan air berisi keharuman tujuh kembang ke beberapa bagian tubuh calon anak daro. Acara ini merupakan momen untuk menunjukkan kasih sayang dan restu kepada calon anak daro untuk melepas masa lajang dan membina kehidupan rumah tangga.

Pada prosesi ini, calon pengantin wanita mengenakan baju tokah dan bersuntiang rendah. Baju tokah terbuat dari semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada, sehingga bagian bahu dan lengan tampak terbuka.

Sesuai adat Minang yang menganut garis matrialineal (keturunan ibu), maka menjelang hari H terdapat tradisi manjapuik marapulai – yakni keluarga calon pengantin wanita mejemput calon pengantin pria untuk dipersandingkan di kediaman mempelai wanita. Pihak mempelai wanita membawa peranti adat untuk dipersembahkan kepada pihak calon mempelai pria, antara lain payung kuning bersulam keemasan, uang jemputan, uang hilang dan sejumlah benda yang telah menjadi kesepakatan sebelumnya. Tak luput tari-tarian adat nan meriah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan mempelai pria di kediaman mempelai wanita.

Baca Artikel Ini: Manjapuik Marapulai : Prosesi Menjemput Mempelai Pria Minangkabau

Setelah acara pokok akad nikah dan ijab Kabul dilaksanakan, kedua mempelai menjalani sejumlah ritual sesuai adat Minang, diantaranya mamulangkan tando (memulangkan tanda), melewakan gala marapulai (mengumumkan gelar kehormatan pengantin pria), balatuang kaniang (mengadu kening) dan mengaruak nasi kuning (mengeruk nasi kuning).

Mengeruk nasi kuning tentunya sangat semarak, karena pengantin pria dan wanita saling ‘berebut’ mencari ayam singgang yang tersembunyi di gundukan nasi kuning. Ritual ini punya makna dan perlambang mulia, yakni mengajarkan kepada suami untuk mencari nafkah dan rezeki untuk istri, sementara sang istri berlaku hemat dan tanggungjawab membelanjakan uang untuk keperluan suami, dirinya pribadi dan keluarga.

 

Teks: Tim Mahligai-Indonesia

LEAVE A REPLY