Menilik Keunikan Pengantin Adat Karo yang Menawan

0
2615
pengantin adat karo
Foto: Dok. Mahligai Indonesia

Dalam kaitannya dengan busana adat, kehidupan masyarakat Batak tidak terlepas dari penggunaan kain ulos, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat khususnya pernikahan. Sumatera Utara memang identik dengan keberadaan etnis Batak. Suku batak sendiri terdiri dari beberapa sub etnik, yakni Batak Toba, Angkola/ Mandailing, Karo, Simalungun dan Dairi.  Nah, kali ini akan dibahas seputar keunikan pengantin adat Karo dengan pesonanya yang menawan.

Pengantin Wanita Karo

Salah satu penanda khas busana pengantin wanita Karo adalah tudung kepala yang direka sangat unik bentuknya. Tudung kepala dibentuk dari kain tenun Uis Jung-Jungen atau kain Beka buluh warna merah berpadu hitam.

Sebagai perhiasan tudung bagian depan disematkan sortali layang-layang. Pada bagian kanan dan kiri tudung kepala dekat telinga disematkan Padang Raja Muli yang berbentuk seperti anting-anting besar, atau biasa disebut sebagai anting kodang-kodang. Sementara sortali layang-layang dengan bagian tengah berukuran besar dipergunakan sebagai perhiasan semacam kalung pada dada.

Secara tradisi, busana pengantin wanita Karo umumnya berupa baju tutup berlengan panjang sebagai penanda bahwa yang menikah adalah seorang gadis, dengan warna dominan kuning atau merah. Pada bagian bawah memakai kain tenun sebanyak tiga lapis, yakni Uis Jungkit kemudian Uis Julu warna biru tua bermotif garis-garis benang warna keemasan, serta Uis Nipes warna merah dengan motif yang sangat variative yang juga dipergunakan sebagai selendang.

Seiring perkembangan budaya, pengantin wanita kini mulai menggunakan busana kebaya berkancing depan sebagai alternative pilihan.

Pengantin Pria Karo

Pengaruh budaya barat yang memasuki wilayah Sumatera Utara pada awal abad ke-20 juga terwujud pada tradisi busana pengantin yang hingga kini menjadi panduan secara umum bagi masyarakat Karo adalah penggunaan setelan jas atau beskap tutup. Busana pengantin pria kini lazim menggunakan setelan jas atau beskap tutup maupun busana berkerah Nehru yang juga bisa menjasi alternative pilihan sesuai selera.

Ciri khas busana pengantin pria adat Karo adalah penutup kepala berupa topi Bulang-Bulang terbuat dari kain Beka Buluh warna merah bergaris keemasan, serta kain yang sama motif dan warnanya disampirkan pada pundak. Perhiasan yang diaplikasikan pada tutup kepala disebut rudang-rudang. Sementara perhiasan yang dikalungkan pada leher hingga dada disebut Sortali berukuran besar.

Mempelai pria juga mengenakan perhiasan Gelang Sarong. Kain adati yang dipergunakan pada pengantin pria adat Karo adalah Uis Julu warna biru tua atau hitam dengan motif bergaris-garis benang emas yang dipakai sebagai sesamping (dipakai di bawah jas, tepatnya di bagian pinggang hingga sebatas lutut).

Baca Artikel Ini: Serba-Serbi Tradisi Pernikahan Adat Bugis Makasar

Teks: Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY