Beda Aesan Gede dan Aesan Pasangkong, Busana Adat Pengantin Palembang

0
6819
Aturan busana pengantin palembang aesan gede dan aesan paksangko
Pangantin Aesan Gede (Kiri) dan Pengantin Aesan Paksangko (Kanan) - Dok. Bella Donna/ Elsa Faturahmah

Megah dan penuh dengan simbol keagungan, begitulah citra busana pengantin adat Palembang. Namun tahukah Anda, Palembang memiliki dua busana adat pengantin, antara lain Aesan Gede dan Aesan Paksangko. Keduanya memiliki ciri khas berbeda namun tetap menggambarkan kebesaran budaya Palembang. Pakaian adat Palembang sebenarnya adalah busana yang dulu digunakan oleh kalangan kerajaan dan bangsawan. Sekarang siapa pun boleh mengenakan pakaian ini saat melangsungkan pernikahan.

Seiring perjalanan waktu, sedikit banyak terlihat perbedaan pada gaya busana adat Palembang. Bahkan menurut Zainal Arifin, pelaku adat sekaligus penerus tradisi Songket Palembang, kerap ditemukan kekeliruan yang sangat keluar dari pakem adat busana Palembang pada pengantin masa kini. Penambahan dan pengurangan yang berlebihan dipandang pria yang akrab disapa Zainal Songket ini, dapat merusak tatanan tradisi berbusana pada pengantin Palembang di masa depan.

Oleh karena itu, pada artikel kali ini akan dibahas perbedaan dari aesan gede dan aesan paksangkong, serta aturan penggunaannya jika pengantin ingin mengenakan kebaya modern.

Aesan Gede

Aturan busana pengantin palembang aesan gede dan aesan paksangko
Dok. Bella Donna/ Elsa Faturahmah

Sebagaimana namanya, Aesan Gede merupakan simbol kebesaran para raja Sriwijaya, yang kemudian diterjemahkan dalam gaya tata rias dan busana pengantin Palembang. Baik pengantin pria maupun pengantin perempuan sama-sama mengenakan dodok menggunakan songket Palembang yang bagian dada dan bahunya kemudian ditutupi terate. Hanya saja, pengantin pria mengenakan bawahan berupa celana songket motif pucuk rebung.

Ciri khas lain pada busana aesan gede adalah pada aksesori kepala yang dikenakan masing-masing pengantin. Pengantin perempuan mengenakan mahkota karsuhun sedangkan pengantin pria mengenakan kopiah cuplak. Selain itu, pengantin aesan gede juga memakai dua selendang sawit yang dikenakan menyilang dari bahu kanan ke pinggang bagian kiri dan dari bahu kiri ke pinggang bagian kanan.

Yang menjadi ciri khas dari aesan gede adalah, pengantin pria menggantungkan saputangan segitigo di jari tengah tangan kanan, dan pengantin perempuan mengenakannya di tangan kelingking tangan kanan. Saputangan segitigo warna merah berbahan beludru berhiaskan motif bunga melati emas di salah satu bagian sisinya.

Sebagai pilihan, aesan gede cocok dipadukan dengan kebaya modern berbagai model.

Baca Artikel: Atribut Penting dalam Busana Pengantin Adat Aesan Gede Palembang

Aesan Paksangko

Aturan busana pengantin palembang aesan gede dan aesan paksangko
Dok. Bella Donna/ Elsa Faturahmah

Citra anggun aesan pasangkong sugguh tak terbantahkan. Baju kurung merah bermotif detil bunga bintang keemasan disempurnakan dengan tengkupan terate dada. Bagian bawah dipadankan dengan balutan songket berkilau sehingga menyempurnakan kesan mewah. Model mahkota paksangko diperkaya ragam aksesori keemasan yang menghiasi kepala merupakan salah satu jejak pengaruh kuat akulturasi budaya Tionghoa sejak berabad silam di tanah Palembang.

Selain mahkota paksangko, kepala pengantin perempuan juga dihiasi kembang goyang, kembang kenango, kelapo standan, dan lain-lain. Sedangkan pengantin pria mengenakan busana senada dengan seluar pengantin (celana pengantin), selempang songket, serta songkok (kopiah) berwarna emas.

Sebagai pilihan, aesan paksangko cocok dengan kebaya modern model baju kurung.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here