Penganten Agung Ningrat Buleleng

0
92
Penganten Agung Ningrat Buleleng
Dok. Mahligai Indonesia

Harus diakui bahwa rias pengantin Buleleng nyaris tidak dikenal bahkan oleh masyarakat Bali sendiri. Kabupaten yang wilayahnya terletak di Bali bagian barat laut dan utara ini sejatinya juga memiliki tata rias pengantin sendiri yang tak kalah menarik dari rias pengantin Bali yang secara umum kita kenal.

Pada masa kerajaan Buleleng, Payas Agung Ningrat dipergunakan oleh pengantin Kerabat Puri atau bangsawan yang masih ada hubungan kekeluargaan pada kasta yang sama. Tata rias Pengantin Ningrat Buleleng atau juga bisa disebut Payas Agung Ningrat ini memiliki detil keunikan yang mencerminkan pembaruan karya budaya beberapa daerah nusantara.

Sebutlah perhiasan kuku lentik keemasan yang digunakan pada jari-jari tangan pengantin wanita Buleleng, selama ini mungkin hanya kita ketahui sebagai aksesori khas busana adat Palembang. Juga kain songket adat di daerah Sumatera. Masih ada lagi, kain yang dililitkan pada pinggang Penganten Agung Ningrat Buleleng motifnya nyaris serupa dengan kain jumputan Jawa maupun Palembang.

Payas Pengantin Ningrat Buleleng tentunya punya carita cukup panjang, sehingga memiliki perpaduan dari ragam budaya Karangasem-Bali, Melayu, Jawa dan beberapa pengaruh Hindu Majapahit maupun Tiongkok. Mari intip latar belakang riwayatnya.

Pengaruh budaya Karangasem-Bali turut mewarnai busana Pengantin Ningrat Buleleng karena pada paruh pertama abad ke-19 Raja Buleleng masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Karangasem. Sejak itu terjadi pembauran tradisi antara Buleleng dengan Karangasem. Ragam kain songket maupun perhiasan gaya Melayu juga mewarnai busana kebesaran Kerajaan Buleleng, sepulangnya salah satu bangsawan Buleleng I Gusti Ngurah Ketut Djalantik pada tahun 1860 dari pengansingan di Padang semasa kolonial Belanda.

Sejak itu, para perajin Buleleng diperintahkan untuk menenun songket dengan variasi motif yang disesuaikan dengan daerah setempat, guna memenuhi kebutuhan di kalangan puri/ istana Buleleng. Kain songket kerap menjadi busana kerabat Puri manakala menghadiri jamuan resmi kerajaan. Kain songket juga digunakan sebagai busana Pengantin Payas Agung dan Payas Pengantin Madya Buleleng. Sampai Sekarang, ragam songket khas dari Buleleng tersebut dikenal sebagai Songket Beratan.

Busana Pengantin Wanita

Penganten Agung Ningrat Buleleng
Dok. Mahligai Indonesia

Memiliki karakter kuat pada penggunaan warna kontras shocking pink pada pundak dan hitam. Memakai busana berlengan sampai sebatas siku, terbuat dari kain beludru hitam. Bagian bawahnya memakai wastra dibelitkan dari pinggir kanan ke kiri, bagian bawah agak melebar dengan pinggiran kain sebelah kiri menutupi kaki. Kain stagen bermotif mirip jumputan panjang dililitkan di pinggang, bagian ujung dibiarkan menjuntai lepas. Pada bagian dada dilampirkan kain sutra warna pink motif pelangi, di mana aslinya memakai scarf kain sutera pelangi bermotif bunga-bunga Tiongkok. Pada dada juga dipertegas tatakan Badong berukir keemasan.

Ragam perhiasan keemasan nan mewah menghiasi kepala, dipercantik bunga segar pada tata rambut bagian belakang. Bunga mawar merah dipasang di bagian tengah rangkaian. Pada bagian bawahnya disematkan bunga cempaka putih, cempaka kuning serta bunga sandat/ kenanga.

Busana Pengantin Pria

Penganten Agung Ningrat Buleleng
Dok. Mahligai Indonesia

Busana pengantin pria pada umumnya hampir sama dengan busana pengantin daerah/ kabupaten lainnya yang ada di Bali. Perbedaan hanya pada pemakaian baju dan tanpa baju. Disamping itu juga pada pemakaian udeng-udengan (hiasan pada kepala).

Pengantin Agung Ningrat pria menggunakan busana Destar Prada (udeng Dara Kepek), kampuh, wastra/ kain panjang dan umpal keseluruhan motif prada, baju beludru, serta setagen dililitkan di pinggang. Sebagai perhiasan menggunakan petitis dan garuda mungkur emas pada dahi/ kepala, gelang kana emas pada lengan atas, gelang kaki, aksesori tambahan, serta keris.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY