Perbedaan Tradisi Mahar Pernikahan Antara Dahulu dan Kini

0
703
kotak seserahan
Contoh Kotak Seserahan - Dok. Majalah Mahligai
Mahar merupakan salah satu elemen penting dalam rangkaian upacara pernikahan. Bahkan jika merunut syariat Islam, mahar menjadi salah satu syarat sah pernikahan secara agama. Mahar atau dalam istilah populer disebut mas kawin ini akan diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita.
Biasanya mahar yang diberikan berupa emas atau uang dengan jumlah tertentu. Bukan sekadar pemberian atau hadiah semata, mahar juga dianggap sebagai bentuk penghormatan dari mempelai pria untuk mempelai wanita.

Prosesi Kesepakatan Menentukan Mahar

Sesuai tradisi di Indonesia, kesepakatan penentuan jumlah dan nilai mahar masih erat dengan campur tangan kedua belah pihak keluarga. Pemberian mahar pun dianggap sebagai ‘harga’ dari calon mempelai pria untuk meminang gadis pujannya. Sudah menjadi hal lumrah, jika semakin tinggi jumlah mahar, maka semakin bangga orangtua mempelai wanita.
Pembicaraan seputar jumlah mahar akan dilakukan jauh hari sebelum hari pernikahan. Biasanya prosesi ini juga termasuk dalam rangkaian acara lamara. Meskipun begitu tak menutup kemungkinan jika kata sepakat soal jumlah mahar tak ditemukan hingga berakhir pada batalnya pernikahan.

Prosesi Pemberian Mahar

Di sejumlah wilayah atau daerah di Indonesia, terdapat tata cara khusus atau tradisi seputar proses pemberian mahar. Biasanya pemberian mahar juga diiringi dengan benda-benda lainnya yang dikenal dengan ‘seserahan.’ Dalam tradisi etnik tertentu pemberian mahar juga dilakukan dengan prosesi arak-arakan dengan diiringi nyanyian atau alunan musik tradisional. Seperti prosesi mengantar mahar dan seserahan sesuai adat Gorontalo yang dilaksanakan dengan iringan tabuhan rebana dan genderang adat yang melantunkan lagu tradisional.

Tradisi Mahar Modern

Dahulu, uang atau emas yang dijadikan mahar hanya dikemas pada boks atau kotak tertutup dengan ukiran indah yang diibaratkan sebagai kotak pusaka. Berbeda dengan tradisi mahar di masa kini. Uang atau emas untuk mahar sudah banyak dikreaksikan dengan tampilan yang semakin unik dan cantik. Menurut Nina, pemilik Ninz Wedding Gift & Accesories & Gift, tren fenomena menghias mahar menjadi beragam bentuk yang menarik ini sudah populer sejak tahun 2011 lalu.
Uang atau mahar biasanya akan dibingkai dengan beragam bentuk yang menarik. Bahkan mahar tersebut bisa dikreasikan berdasarkan tema tertentu sesuai keinginan kedua mempelai. Misalnya, rangkaian mahar berupa uang yang dibentuk menyerupai etalase toko yang disesuaikan dengan  sang mempelai wanita memiliki butik atau workshop.
Selain berdasarkan sisi personal kedua mempelai, mahar juga dapat dikreasikan berdasarkan tanggal pernikahan kedua mempelai. Nantinya jumlah uang akan ditentukan berdasarkan tanggal pernikahan. Misalnya mempelai menikah di tanggal 7 bulan 7 tahun 2017, maka uang yang akan dijadikan mahar sebesar tujuh ratus tujuh puluh ribu dua ribu tujuh belas rupiah. Memang butuh usaha ekstra untuk mencari jumlah uang hingga ke kolektor uang kuno untuk membuat mahar sesuai tanggal pernikahan.

Tradisi Mahar Antara Dahulu dan Sekarang

Jika disimpulkan, ada perbedaan yang amat signifikan antara mahar di zaman dahulu dan kini. Apabila dahulu semakin tinggi nilai mahar akan memberi kesan wibawa dan menunjunkan strata sosial sesorang, maka tidak demikian dengan masa modern kini.
Tinggal kemampuan ekonomi sesorang tidak menjadi ukuran jumlah mahar yang diberikan. Nilai mahar yang dianggap sebagai tanda berharganya seorang wanita pun sudah tidak lagi berlaku karena sejatinya wanita tak ternilai harganya.
Tradisi mahar pernikahan yang dahulu hanya dilihat dari jumlahnya, maka kini mahar terkesan sisi simbolik semata dengan hiasan dan penampilan yang indah. Meskipun bernuansa simbolik, nyatanya mahar tetap kaya makna bagi kedua mempelai dan keluarga.(*)
Teks. Tim Mahligai-Indonesia

LEAVE A REPLY