Ragam Gaya Busana Pengantin Jawa Timur

0
255
prosei adat jawa timur
Dok. Mahligai

Setiap daerah memiliki jati diri, antara lain ditandai oleh gaya busana pengantin yang mencerminkan suatu warisan budaya dengan ciri dan keunikan tersendiri. Menyebut nama Jawa Timur tentunya memiliki alur benang merah pada berbagai dimensi masa, termasuk diantaranya yakni masa kejayaan dinasti kerajaan Majapahit yang merupakan cikal bakal dari berkembangnya peradaban seni dan budaya yang masih bisa kita nikmati jejak sejarahnya di sejumlah daerah di Jawa Timur hingga kini. Bagaimana sebenarnya tradisi ragam busana pengantin Jawa Timur? Sebuah provinsi yang memiliki 29 kabupaten dan 9 kota, menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang memiliki jumlah kabupaten/ kota terbanyak di Indonesia, tentu saja memiliki banyak keragaman tradisi dan budaya. Daerah-daerah yang berbatasan dengan Jawa Tengah gaya busana pengantin cenderung busana pengantin Jawa-Yogya. Sementara, pada wilayah yang lebih ke timur beberapa kota ataupun kabupaten mencoba merekonstruksi serpihan jejak sejarah untuk menemukan gaya busana yang dengan sejumlah penyesuaian dengan kultur masyarakat sekarang.

Berikut ini, kami paparkan dua gaya busana pengantin dari Mojokerto dan Malang yang telah memasyarakat dan mendapat pengukuhan secara nasional. Yakni, pengantin Mojoputri, pengantin Mojoputri Sekar Kedaton, pengantin Malang Keprabon, dan pengantin Malang Keputren Modifikasi.

Pengantin Mojoputri Sekar Kedaton

Pengantin Jawa Timur
Mojoputri Sekar Kedaton – Dok. Mahligai Indonesia

Busana dan tata rias pengantin Mojoputri dirancang dan ditata merujuk pada peninggalan sejarah kerajaan Majapahit. Gaya busana pengantin ini merupakan suatu hasil rekonstruksi berdasarkan referensi yang diambil dari prasasti sejarah Majapahit yang ada di daerah Mojokerto, antara lain patung, arca dan relief candi, serta sumber sejarah lainnya – seperti sejumlah kidung, yang menunjukkan transformasi budaya kerajaan Majapahit berkembang dari masa ke masa.

Ragam dan motif busana, warna, serta bentuk perhiasan pengantin Mojoputri Sekar Kedaton antara lain merujuk sebagaimana yang digambarkan pada Kidung Harsya Wijaya dan Kidung Sunda yang menggambarkan secara detail busana dan perhiasan permaisuri raja. Bentuk gelung atau sanggul ukel pengantin Mojoputri Sekar Kedaton merujuk pada salah satu relief candi Panataran di Blitar. Bentuk Mahkota Jamang mengacu pada arca peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Sementara bentuk kain dodot sinebab merujuk pada salah satu arca candi Panataran, Blitar.

Bila dilihat sekilas, tata busana pengantin Mojoputri Sekar Kedaton hampir mirip dengan tata busana adat pengantin Solo basahan ataupun pengantin Paes Ageng Yogya. Hanya saja, ragam motif kain busana pengantin Mojoputri Sekar Kedaton menggunakan motif khas dan warna yang berbeda. Salah satu ciri khas busana pengantin pria dan wanita Mojoputri Sekar Kedaton adalah penggunaan dodot sinebab atau kampuh panjang menggunakan motif Surya Gumelar dibatik atau diprada warna emas menyala yang berpadu dengan latar kain warna hijau. Selain itu, pengantin pria Mojoputri Sekar Kedaton menggunakan penutup kepala Mahkuto Romo Warna dasar hitam dihiasi dengan jamang kancing dan gelung motif Surya Binelah warna emas.

Dalam hal ini, ragam motif dan warna busana Pengantin Mojoputri Sekar Kedaton memang memiliki karakter tersendiri yang mengacu pada ragam busana semasa raja-raja keraton Majapahit, ditambah adanya unsur-unsur budaya Islam, unsur budaya kolonial dan menyesuaikan dengan perkembangan budaya lokal daerah setempat.

Pengantin Malang Keprabon

Pengantin Jawa Timur
Malang Keprabon – Dok. Mahligai Indonesia

Malang, sebuah kotamadya dan kota kabupaten di provinsi Jawa Timur yang memiliki jejak sejarah purba, serta menjadi cikal bakal seni dan budaya tradisional yang berkembang di masyarakat hingga kini. Gaya pengantin Malang Keprabon merupakan suatu rekonstruksi dan dirancang berdasarkan referensi ragam hias dan relief prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Singasari yang terkenal dengan raja Kertanegara dan permaisuri Ken Dedes yang cantik jelita, di mana sebagian besar situs bersejarahnya tersebar di wilayah kabupaten Malang.

Gaya pengantin Malang Keprabon menggunakan warna dominan hijau, kuning dan oranye. Sesuai penelusuran sejarah, gaya busana pengantin Malang Keprabon merupakan sebuah replika dari berbagai elemen karya seni budaya Hindu-Budha-Jawa. Busana pengantin wanita berupa kain panjang disebut Nyamping Tumpal dan kain dodot motif Taman Sari. Perlengkapan busana antara lain pending emas di bagian pinggang, kelat bahu kanan dan kiri, gelang kono di kedua tangan serta buntal yakni rangkaian irisan daun pandan dan ronce melati yang dipasang menggantung pada pinggang. Perhiasan pengantin wanita kembang goyang berbentuk bunga Padma (teratai), jamaus Urna yang dipasang pada rambut, subang Kundala di telinga, dan kalung Hara besar dan kecil melingkar di leher hingga sebatas dada. Pada bagian belakang menggunakan perhiasan berupa Penetep Puspa Padma dipasang di tengah sanggul dan Sekar Tanjung.

Busana pengantin pria berupa celana panjang motif Tumpal Malangan sesuai dengan pengantin putri. Menggunakan dodot Taman Sari dibentuk menjadi busana pengantin pria yang disebut Projo Gumelar. Perhiasan pengantin pria yakni sumping permata di atas kedua telinga, kalung kece, kalung sulur, sabuk tiumang segi empat, boro-boro, kelat bahu, gelang, binggel di kedua kaki, buntal soka, keris, serta kuluk makutho warna hitam sebagai penutup kepala.

Pengantin Mojoputri

Pengantin Jawa Timur
Pengantin Mojoputri – Dok. Mahligai Indonesia

Mojokerto, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, dalam perjalanan sejarah Nusantara tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan masa keemasan kerajaan Majapahit bertahta. Mengacu pada penelusuran perkembangan budaya dari masa ke masa, maka Mojokerto merekonstruksi busana adat pengantin berdasarkan fakta dan prasasti sejarah peninggalan dinasti kerajaan Majapahit. Gaya busana pengantin yang kini menjadi ikon dan kebanggaan Mojokerto tersebut dinamakan Paes Mojoputri.

Pengantin Paes Mojoputri memiliki karakter dan keunikan tersendiri, di mana keseluruhannya menggambarkan keagungan dan kemegahan busana semasa dinasti kerajaan Majapahit. Sejumlah ciri khas gaya busana Paes Mojoputri akan dijelaskan berikut ini.

Gelung Keling, yakni bentuk tata rambut yang dipergunakan pengantin wanita dan pengantin pria mengacu pada area yang terdapat pada situs candi mengacu pada arca yang terdapat pada situs candi Trowulan, Mojokerto, Dodot sinebab, yakni kain dodot pada busana pengantin pria dan wanita Paes Mojoputri diciptakan berdasarkan gaya busana pada arca situs Candi Panataran, Blitar. Jamang, hiasan pada kepala pengantin diciptakan merujuk pada bentuk Mahkota Jamang yang terdapat pada area situs Triwulan, Mojokerto.

Busana pengantin Paes Mojoputri selain menggambarkan estetika kultur Majapahit, juga sebagai perwujudan dan citra keagungan raja dan ratu dinasti Majapahit. Meski demikian, penerapan dan penggunaannya juga disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kultur masyarakat yang sekarang berkembang.

Ragam motif kain batik yang dipergunakan oleh pengantin Paes Mojoputri nyaris sama dengan busana pengantin Mojoputri Sekar Kedotan. Perbedaan mendasar hanya terletak pada perhiasan dan tata rambut pada pengantin Paes Mojoputri yang terkesan glamour. Sementara pada pengantin Mojoputri Sekar Kedaton dimaksudkan lebih terlihat kontemporer yang menggambarkan busana keagungan putra dan putri mahkota.

Pengantin Malang Keputren Modifikasi

Pengantin Jawa Timur
Malang Keputren Modifikasi – Dok. Mahligai Indonesia

Daerah Malang selalu memiliki gaya busana pengantin Malang Keprabon juga mengukuhkan busana pengantin Malang Keputren sebagai salah satu warisan budaya dan nilai-nilai estetika peninggalan kerajaan Singosari. Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan terdahulu, kerajaan Singosari atau Singhasari merupakan cikal bakal dari peradaban budaya dan seni yang kini masih berkembang dalam kultur masyarakat Malang dan sekitarnya.

Busana pengantin Malang Keputren yang telah diakui secara nasional sebagai busana pengantin Malang ini, mengacu pada referensi peninggalan sejarah kerajaan Singosari berupa arca, relief dan catatan sejarah yang berkaitan dengan perkembangan peradaban dan budaya semasa dinasti kerajaan Singosari. Penciptaan ragam motif kain busana, perlengkapannya, maupun perhiasan serta tata cara adat prosesi pengantin malang Keputren disesuaikan dengan potensi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat, sehingga tetap bisa diterapkan untuk masa sekarang hingga masa mendatang.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY