Ragam Rangkaian Melati Dalam Busana Pernikahan Adat

0
41
ragam jenis ronce
1. Rangkaian tiba dada atau mangle susun dengan manik-manik pengantin Sunda Siger. 2. Rangkaian tiba dada dan lar-laran pada pengantin Solo Putri modifikasi. 3. Roncean tiba dada model bawang sebungkul dengan tiga buah ceplok aster merah. 4. Rumbei raje atau ganggang umbal adalah rangkaian melati di dada kanan dan kiri pengantin Madura. 5. Rangkaian melati baju siraman. 6. teplok atau rambang karuk model kawung. 7. Gajah ngolig

Penggunaan ronce melati pada pengantin Jawa, khususnya mempelai pria tidak bisa dilepaskan dari sejarah Babad di tanah Jawa sendiri. Menurut legenda, pada masa Kesultanan Demak pada abad ke XVI, ketika Haryo Penangsang bertempur hebat dengan Sutawijaya, tombak yang dipakai Sutawijaya mengenai perut Haryo Penangsang hingga ususnya terburai. Haryo Penangsang tak menyerah begitu saja, ususnya yang terburai dilingkarkan ke dalam warangka (sarung keris) yang terselip di pinggangnya, justru terlihat gagah seperti ksatria sejati. Tanpa disadari, Haryo Penangsang ingin menyerang lawannya, dan mencabut keris yang ada lilitan ususnya, sehingga ia tewas terbunuh oleh kerisnya sendiri. Itulah yang konon mengawali dipakainya rangkaian melati pada keris pengantin pria dalam tradisi Jawa.

Sejumlah daerah di Jawa dikenal sebagai sentra penghasil bunga melati. Sebutlah seperti di Kabupaten Pemalang, Purbalingga, dan Tegal. Selain itu, kota Cirebon selain kesohor sebagai penghasil batik pesisiran, juga menghasilkan melati berkualitas bagus.

Melati selain dipergunakan untuk melengkapi rangkaian bunga dekorasi di ruang resepsi dan kamar pengantin, juga dipergunakan untuk menghiasi penampilan pengantin. Begitu pentingnya rangkaian melati sebagai penghias penampilan pengantin, khususnya mempelai perempuan. Setiap daerah memang memiliki model rangkaian melati untuk mempelai, berikut ini kami hadirkan ‘kamus kecil’ sebagai garis besar model rangkaian melati yang lazim dipergunakan untuk pengantin. Baik berupa bentuk ‘pakem’ tradisional, maupun yang sudah mengalami kreasi inovasi atau modifikasi, dalam tradisi pengantin Jawa, Sunda, dan Cirebon.

Rangkaian Tiba Dada

Adalah rangkaian bunga panjang yang dipasang di belakang telinga kanan, menjuntai sebatas pinggang. Untuk pengantin Sunda modifikasi biasanya memakai Sembilan untai, namanya bawang sebungkul tiga dara. Disebut bawang sebungkul karena berupa rangkaian beberapa melati dijadikan satu, sehingga mirip bentuk bungkul bawang putih. Dalam tradisi Sunda, rangkaian tiba dada juga biasa disebut mangle susun, sedangkan tradisi Madura dusebut Rumbei Raje.

Bawang Sebungkul Karuk

Rangkaian bunga tiba dada memakai bunga melati karuk (melati yang masih kuncup, belum mekar) dengan modifikasi mote-mote yang disisipkan di antara bungkul rangkaian bunga.

Mayang Sari

Adalah sebutan untuk rangkaian bunga kecil pendek yang dipasang di belakang telinga sebelah kiri. Bisa dipakai oleh pengantin Jawa atau Sunda, rangkaian ini dipakai bersebelahan dengan rangkaian Tiba Dada yang dipasang di belakang telinga kanan.

Teplok atau Rambang

Seperti rajutan melati berbentuk persegi panjang biasanya dipakai untuk menutup sanggul pengantin putri. Dalam tata rias pengantin, juga biasa disebut tutup sanggul rambang mealti, atau pembungkus sanggul harnet. Biasanya dipilih bunga melati yang masih kuncup atau belum mekar, untuk mempercantik bentuk sanggul. Dipakai dalam tradisi Jawa, Sunda, Cirebon, maupun sejumlah daerah lainnya.

Baju Siraman

Rangkaian melati yang difungsikan sebagai ‘penutup’ pundak dan bahu yang panjangnya bisa sampai pinggang, dipergunakan pada saat prosesi siraman. Ada berbagai macam model baju siraman, antara lain model rambang dara yang dirangkai seperti berbentuk motif kawung.

Bunga Bangun Tulak

Roncean melati ini digunakan untuk menutupi kedua lubang sanggung Bangun Tulak, agar irisan pandan tak kelihatan sekaligus sebagai hiasan pada sanggul agar tampak lebih menarik. Bentuknya berupa rangkaian melati yang masih kuncup dirangkai berurutan dari kelopak ke batang bunga yang panjang kemudia dilingkarkan hingga berbentuk oval. Biasanya digunakan untuk hiasan sanggul tradisi Jawa.

Bunga Kolong Keris

Disebut juga bunga Manggaran yaitu rangkaian bunga untuk kalung keris pengantin pria. Terbuat dari dua jenis bunga melatin yang masih kuncup dan setengah mekar, bunga kantil, bunga aster dan bunga mawar merah.

Bunga Gombyok Keris

Rangkaian melati yang dibuat dengan model usus-ususan atau bawang sebungkul yang dipasang pada roncean kolong keris dan pada sambungannya diberi mawar merah.

Kalung Bunga Sebungkul

Rangkaian bunga melati dengan bentuk bunga sebungkul yang dirangkai melingkar untuk dijadikan kalung pengantin pria.

Lar laran

Digunakan di atas sanggul sebagai hiasan pada batas antara rambut asil dengan sanggul. Rangkaian bunga melati yang dimulai dengan menusukkan pada badan bunga sebanyak-banyaknya dan kemudian diatur menjadi sejajar dan melingkar serta dibuat sepanjang lebar sanggul yang dipakai.

Usus-usus Modifikasi

Dirangkai seperti usus biasanya sebanyak 12 rangkai, bisa untuk untuk pengantin adat apa saja. Rangkaian berupa bunga melati satu per satu ditusuk benang, bawahnya memakai bunga kantil atau cempaka.

Usus-usus Tunggal Kombinasi Mawar Merah

Biasanya dipakai pada pengantin Padang, ronce melati tunggal dengan aksen kombinasi kelopak mewah mewah. Digunakan menjuntai sebagai ‘penutup’ sanggul di bagian belakang.

Gajah Ngolig

Bentuknya seperti belalai gajah, berupa rajutan melati yang diisi dengan irisan pandan, pada bagian ujungnya ukurannya dibuat sedikit lebih lecil. Dipergunakan oleh pengantin wanita pada adat pengantin Yogyakarta.

Pagar Timun Dara

Rangkaian melati yang sudah mekar dibentuk seperti bawang sebungkul lima dara, dipadukan dengan rangkaian melati yang dibentuk usus-usus berbentuk pagar. Sebagai variasinya, bisa diselang-seling kombinasi mawar dan daun yang disusun berbentuk bundar.

Pagar Timun Kombinasi Mawar Merah

Rangkaian ini berupa melati yang disusun menyerupai rangkaian biji ketimun, yang dikombinasikan dengan rangkaian bunga mawar merah, bisa dipakai untuk pengantin Jawa Solo Putri ataupun dipakai oleh pengantin gaya Jawa modifikasi.

Teks Tim Mahligai

LEAVE A REPLY