Serba-Serbi Janur Kuning yang Mungkin Belum Diketahui

0
42
Filosofi Janur Kuning
Instagram/ nienov77

Dalam keseharian mesyarakat, janur telah menjadi bagian kehidupan yang tak terpisahkan. Pada banyak daerah di seluruh pelosok Nusantara, janur juga dikenal sebagai bagian alat kehidupan. Sangat bisa dimengerti, karena pelepah daun muda berwarna kuning keputihan ini merupakan tanaman tropis dari pohon kelapa yang tumbuh subur di setiap penjuru bumi pertiwi. Kebudayaan masyarakat agraris dan maritime masyarakat Indonesia telah memanfaatkan janur untuk berbagai hal dan fungsi. Mulai dari perangkat keperluan kuliner, ritual tradisi, keagamaan, hingga sebagai elemen estetika dekoratif yang menghadirkan kreasi keindahan.

Simbolisasi pemakaian janur kuning telah tercatat menjak berabad silam , terutama pada suku Jawa, Bali dan Sunda. Ya… lipatan daun kelapa muda ini lazimnya digunakan sebagai penghias sekaligus penanda sebuah ritual, perayaan atau perhelatan besar. Memasang janur sebagai petunjuk bahwa di tempat tersebut ada pesta pernikahan memang telah menjadi fenomena umum di masyarakat kita. Meski tidak banyak yang tahu apa arti dan filosofi yang terkandung dalam janur tersebut.

Janur dengan Filosofinya

Kata Janur berasal dari Bahasa Arab yang artinya cahaya dari surge sedangkan kata kuning diambil dari Bahasa Jawa yang berarti suci. Janur kuning sendiri merupakan daun muda dari beberapa jenis tumbuhan palma besar, terutama kelapa, enau, dan rumbia yang biasanya dirangkai menjadi untaian menjulang keatas menyerupai umbul-umbul. Namun belakangan janur kuning dikreasikan menjadi aneka bentuk rangkaian yang unik dan menarik.

Menunrut Ineke Turangan yang seorang dosen dan visioner dalam dunia bunga, ada tiga teknik utama dalam membuat rangkaian janur, yaitu melipat, mengiris atau memotong dan menganyam. Teknik khusus ini dapat dipadukan dengan inovasi baru, yaitu mengkombinasikan teknik tradisional janur pada rangkaian bunga tren masa kini.

Dalam tradisi Jawa, janur yang dianggap sebagai symbol kebahagiaan ini diolah menjadi beragam bentuk dan fungsi. Dalam tradisi perkawinan adat Jawa, janur dirangkai menjadi kembar mayang yang dipajang di pelaminan. Kembar mayang tersebut menyimbolkan penyatuan dua individu dalam wadah rumah tangga; sementara warna keputihan pada janur diharapkan menjadi doa agar cinta dan kasih sayang di antara mempelai dapat selalu muda laksana sebuah janur.

Selain itu tradisi Jawa juga menyertakan janur yang dibentuk bulat semacam bokor dan umbul-umbul yang dipasang di pinggir jalan atau gang masuk rumah sebagai penanda atau penunjuk jalan ke rumah sang empunya hajat mantu.

Ineke Turangan menjelaskan, salah satu teknik yang dipakai untuk melengkapi bentuk kembar mayang adalah menggunakan teknik Gembung, yaitu teknik baru yang biasanya memiliki bentuk lebih besar di bagian bawah, makin ke atas semakin mengecil. Gembung ini sebagai simbolisasi dan memiliki makna penyembahan terhadap Sang Pencipta.

Sementara di Bali, rangkaian janur yang disebut penjor ini lebih dominan digunakan sebagai alat dalam upacara adat penduduk setempat. Penjor biasanya dirangkai dalam berbagai bentuk dan umumnya berupa umbul-umbul yang diikat pada sebuah bamboo panjang Bali, penjor merupakan hal yang disakralkan karena perpaduan bunga, dedaunan, buah, jajanan pasar, dan wewangian seperti kemenyan ataupun dupa ini dijadikan symbol untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan sang Pencipta. Bahkan dalam beberapa kesempatan, penjor juga digunakan sebagai saranan penangkal bala.

Berbeda lagi makna dan fungsi janur bagi masyarakat Sunda, janur biasanya digunakan sebagai pembungkus makanan. Hal itu dikarenakan sifat janur yang kuat serta tahan panas. Bahkan, menurut mereka, tak hanya membuat makanan tahan lama, janur juga menciptakan aroma tersendiri yang membuat makanan terasa lebih enak.

Sifat Janur

Walau janur memiliki berbagai fungsi dan makna di setiap daerah, rangkaian daun kelapa muda ini tak luput dari sifat alaminya yang mudah kering. Tingginya kadar air yang dimiliki janur, dapat membuatnya cepat mengering dan berubah warna menjadi kecoklatan. Perlu kiat tersendiri agar keindahan janur bisa bertahan lebih lama. Menurut Ineke Turangan, janur harus menghindari desain yang banyak menggunakan irisan karena selain cepat kering setelah diiris, warna janur akan mudah berubah menjadi kecoklatan.

Dalam merangkai janur kuningpun, daun-daun yang dipasang harus menggunakan teknik yang baik dan tidak boleh digunting, karena dipercaya janur dengan rangkaian tersebut, mempelai mampu menghadapi segala persoalan hidup.

Dalam rangkaian janur kuning pun, daun-daun yang dipasang harus menggunakan teknik yang baik dan tidak boleh digunting, karena dipercaya janur dengan rangkaian tersebut, mempelai mampu menghadapi segala persoalan hidup.

Ya… percaya atau tidak, namun keyakinan itu sudah lama tumbuh dan hidup di peradaban kita.

LEAVE A REPLY