Lebih Simpel : Ini Prosesi Adat Pernikahan Minahasa

0
38
Prosesi Minahasa - Dok. Majalah Mahligai

Kalau dirunut sesuai dengan tradisi asal, pernikahan adat mungkin akan memakan waktu yang sangat lama. Belum lagi saat ini semakin sedikit orang yang benar-benar memahami prosesi adat suatu daerah dari A sampai Z. Sehingga kini prosesi pernikahan adat di beberapa daerah tertentu pun sudah mulai mengalami banyak perubahan dengan suatu alasan.

Namun tak perlu khawatir bagi pengantin yang ingin melaksanakan prosesi upacara adat perkawinan Minahasa, masih ada sanggar-sanggar kesenian yang dapat melaksanakannya. Namun, biasanya proses adat tersebut biasanya akan digelar sesuai sub etnik Minahasa mempelai, misalnya dalam versi Tonsea, Tombulu, Tontemboana, maupun sub-etnis Minahasa lainnya.

Setidaknya ada beberapa prosesi yang menjadi garis beras dalam pernikahan adat Minahasa.

Upacara Posanan yang lebih singkat

Jika di Jawa dikenal dengan prosesi pingitan, masyarakat Minahasa mengenal dengan istilah posanan. Dahulu prosesi posanan ini bisa berlangsung selama sebulan. Artinya, calon mempelai wanita tidak diperkenankan pergi keluar sembarang keluar rumah satu bulan lamanya hari H. Namun kini upacara posanan umumnya hanya dilakukan satu hari sebelum saat pernikahan, tepatnya saat ‘Malam Gagaren’ atau malam muda-mudi.

Tiada lagi Mandi di Pancuran

Begitu pula dengan prosesi mandi di pancuran yang dahulu menjadi ritual wajib untuk membersihkan diri calon mempelai secara lahir dan batin. Kini karena tidak ada lagi pancuran air di kota-kota besar maka ritual mandi adat Lumelek dan Bacoho dilangsungkan di kediaman calon mempelai.

Prosesi Bacoho yang Dilaksanakan Simbolis 

Prosesi Bacoho merupakan ritual mencuci rambut yang dilakukan secara tradisional atapun hanya sekadar simbolisasi. Rambut calon mempelai akan dibersihkan dengan ramuan berjumlah sembilan jenis tanaman antara lain, parutan kulit jeruk nipis, irisan daun pandan ditumbuk halus, bunga melati atau bunga mawar, minyak buah kemiri, dan perasan santan kelapa. Jika dilakukan simbolis maka air perasan ramuan tersebut hanya dipercikan ke rambut calon mempelai tanpa dicuci secara menyeluruh.

Prosesi Lumelek

Mirip seperti prosesi siraman, calon mempelai disiram dengan air yang telah diberi bunga-bunga warna putih beraroma wngi. Siraman air sebanyak sembilan kali dari batas leher ke bawah.

Prosesi Maso Minta dan Toki Pintu

pengantin minahasa
Pengantin Minahasa – Dok. Joan Wedding

Lazimnya, sang empunya hajat akan menyambut pihak calon pengantin pria yang datang melamar dengan tangan terbuka. Namun tidak demikian halnya dengan prosesi lamaran unik dari adat pernikahan Minahasa. Kediaman mempelai wanita justru tampak sepi layaknya tak berpenghuni sewaktu utusan keluarga pria datang meminang. Seluruh rangkaian prosesi meminang atau lamaran ini disebut dengan upacara Maso Minta.

Upacara diawali dengan memastikan kediaman mempelai wanita dalam keadaan sepi. Tidak ada bunyi-bunyian, seluruh pintu dan jendela ditutup, bahkan lampu-lampu rumah dalam keadaaan mati. Prosesi ini menggambarkan bahwa pihak keluarga gadis sedang beristirahat dan tidak menantikan kedatangan lamaran sang pria.

Di dalam upacara Maso Minta terdapat acara Toki Pintu yang artinya mengetuk pintu. Secara adat kesopanan, sebelum memasuki rumah orang harus mengetuk pintu terlebih dahulu.

Prosesi di Pelaminan 

Setelah kedua mempelai resmi menikah secara agama, sejumlah upacara adat pun digelar dalam adat Minahasa. Dimulai dengan pembacaan doa oleh Walian (pemimpin prosesi adat perkawinan). Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan upacara Pinang Tetenge’en dan Tawa’ang. Pada prosesi ini kedua mempelai akan memegang setangkai Tawa’ang (tanaman yang erat kaitannya dengan legenda nenek moyang suku Minahasa, Toar dan Lumimuut) sembari mengucap ikrar dan janji.

Setelah itu kedua mempelai akan membelah kayu bakar sebagai lambang sandang dan pangan. Kedua mempelai akan makan sesuap nasi dan ikan dan minum dari tempat minum yang terbuat dari ruas bambu muda. Acara pun diakhiri dengan nyanyi-nyanyian sekaligus pertunjukan oleh rombongan adat sesuai dengan sub entik Minahasa itu sendiri.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY