Alur Prosesi Pernikahan Adat Jawa Timur

0
309
Prosesi Pernikahan Jawa Timur
Instagram/ sitialifatul

Setiap daerah memiliki jati diri serta karakter yang tercermin pada kultur dan tradisi masyarakatnya. Jawa Timur di dalam sejarahnya pernah menjadi pusat kekuasaan raja-raja wilayah timur Jawa abad X sampai XII atau periode dinasti kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit. Masuknya berbagai pengaruh asing seperti India, Islam, Tiongkok dan Eropa, serta budaya dari daerah sekitar Jawa Tengah, Madura dan Bali, membuat masyarakat daerah ini memiliki sifat multikultur.

Bagian barat yang berbatasan dengan Jawa Tengah seperti Bojonegoro, Madiun, Ngawi, Pacitan, Kediri, Ponorogo, mendapat banyak pengaruh dari Kerajaan Mataram yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta sehingga disebut Mataraman. Kawasan pesisir barat seperti Tuban, Lamongan, dan Gresik merupakan pusat perkembangan agama Islam. Di kawasan eks-karisidenan Surabaya (Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang) serta Malang, sedikit mendapat pengaruh budaya Mataram, namun belakangan menjadi pusat perdagangan dan menarik para pendatang sehingga merupakan kuali peleburan kebudayaan di Jawa Timur. Daerah Tapal Kuda dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi suku Madura di kawasan ini. Sementara adat istiadat masyarakat Osing di daerah ujung timur merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura dan Bali. Dan terakhir, suku Tengger yang tinggal di daratan tinggi Tengger dekat Gunung Bromo banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.

Dengan beragamnya budaya dan adat istiadat di Jawa Timur, prosesi pernikahan pun menjadi sangat beragam. Masing-masing daerah memiliki tatacara dan keunikan. Pada kesempatan ini kami mengangkat tat acara pernikahan masyarakat Mojokerto, sebagai salah satu peninggalan kerajaan Majapahit yang telah mengalami proses modernisasi; serta Malang yang banyak terinspirasi oleh warisan budaya Singasari yang memiliki benang merah lahirnya dinasti kerajaan Majapahit berpusat di Mojokerto.

Nontoni, Nakokno dan Mbalesi

Melakukan penjajagan dan bersilaturahmi antara dua pihak keluarga calon pengantin merupakan langkah awal yang lazim dilakukan dalam suatu proses menuju pernikahan. Calon mempelai pria akan bersilaturahmi ke rumah calon mempelai wanita untuk melihat (nontoni) dan menanyakan (nakokno) apakah putri dari keluarga pria bermaksud untuk mengambil sebagai menantu. Dan sebagai balasan (mbalesi), keluarga calon mempelai wanita akan bersilaturahmi ke keluarga calon mempelai pria untuk menyatakan kesediaannya menjadi besan, setelah mendapat persetujuan putrinya.

Lamaran, Peningsetan dan Srahsahan

Lamaran dan peningsetan bisa dilangsungkan secara terpisah maupun bersamaan. Calon mempelai pria beserta keluarganya datang ke rumah calon mempelai wanita dengan membawa peningset atau pengikat berupa: pakaian, perhiasan serta bahan makanan. Peningsetan ini merupakan tanda bahwa telah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak untuk menjalin ikatan keluarga. Selanjutnya kedua pihak berunding bersama untuk mencari hari yang dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan.

Pasung Tarub atau Tratak

Sehari sebelum dilakukan akad nikah, di rumah calon mempelai wanita didirikan tarub atau tratak berupa anyaman daun kelapa atau nipah untuk persiapan menerima tamu. Pada bagian kanan dan kiri pintu masuk dipasang tuwuhan (tumbuh-tumbuhan) antara lain pohon pisang raja, kelapa hijau, tebu, padi dan jagung, daun-daun alang-alang dan seterusnya, di mana kesemuanya memiliki makna sebagai perlambang menuju kebaikan. Di depan pintu juga diberi janur kuning sebagai tanda akan melangsungkan hajad mantu.

Siraman

Berlangsung di rumah masing-masing calon mempelai pria dan wanita. Upacara Siraman menggunakan air dicampur bunga tujuh rupa ini memiliki makna menyucikan diri secara jasmani dan rohani, agar bersih dalam menuju hidup baru. Sesuai tradisi Jawa Kuno, prosesi siraman dilengkapi dengan sesajen yang bermakna permohonan keselamatan.

Walimahan atau Manggulan

Setelah siramman dilanjutkan dengan walimahan dan mengundang sanak keluarga untuk melekan, yang bermakna mempersiapkan segala sesuatu agar tidak ada yang terlupa untuk perhelatan besar keesokan harinya. Di beberapan daerah seperti Bojonegoro, malam ini dinamakan malam midodareni di mana calon pengantin wanita diharuskan mengenakan kebaya hijau pupus tanpa perhiasan sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Di Malang malam ini disebut Manggulan, sedangkan calon pengantin wanita mengenakan kain panjang gringsing kebaya berenda malangan.

Upacara Pernikahan Agama

Upacara pernikahan agama dilakukan menurut aturan agama yang dianut kedua calon mempelai. Calon pengantin pria beserta keluarga datang ke rumah calon pengantin wanita atau ke tempat lain yang dianggap sah untuk melaksanakan upacara pernikahan.

Temu Pengantin

Prosesi temu pengantin dilaksanakan setelah upacara pernikahan agama.

Baca Artikel Ini: Prosesi Temu Pengantin Pada Pernikahan Adat Jawa Timur

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY