Mengintip Tradisi Adat Pernikahan Gorontalo yang Unik dan Penuh Makna Mendalam

0
1151
Pernikahan gorontalo
Pelaminan Pernikahan Gorontalo - Foto: Dok. Mahligai Indonesia

Gorontalo, sebuah ibukota provinsi di bagian Pulau Sulawesi dengan tradisi adat pernikahan yang unik dan memukau. Tidak boleh sembarang, adat pernikahan Gorontalo memiliki pakem yang harus dipatuhi, loh. Pada pemilihan warna misalnya, beberapa warna seperti putih dan biru dianggap sebagai ekspresi duka cita, sehingga tabu dipakai untuk pernikahan adat. Sedangkan pada hiasan kuku dijemari mempelai wanita, mirip dengan hisan kuku pengantin Palembang.

Tidak hanya itu, ternyata calon pengantin juga perlu belajar tari singkat, karena ada ritual adat yang mengharuskan calon mempelai pria menunjukkan kebolehannya menari dan melempar selendang. Mempelai wanita pun demikian, ia mesti lihai memegang alat – semacam pedang, sambil menari di depan pelaminan. Wow!

Prosesi Pra Pernikahan Gorontalo

Setelah melalui proses meminang atau Tolobalango dalam istilah Gorontalo, prosesi adat dilanjutkan dengan mengantar seserahan dan mahar dari pihak calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai wanita. Mahar dan hantaran lain berupa barang-barang berharga serta perhiasan, yang semuanya dibawa dalam wadah berbentuk seperti perahu (kola-kola).

Selain perhiasan, ada buah-buahan yang wajib menjadi barang bawaan pada saat seserahan dengan makna dan simbolnya yang beragam. Prosesi mengantar mahar dan barang seserahan dilaksanakan dengan suasana semarak dan suka cita, dengan iringan tabuhan rebana dan genderang adat yang melantunkan lagu tradisional Gorontalo.

Nah, pada malam sehari sebelum upacara pernikahan, pihak keluarga calon mempelai pria mengunjungi rumah calon mempelai wanita. Kehadirannya juga diiringi sejumlah pemuda sebaya. Upacara ini disebut Mopotilontahu atau Molilo huwali yang berarti “menengok dan mengintip” calon mempelai wanita. Terdengar uniki, bukan? Maklum, secara tradisi, calon mempelai wanita hanya bersembunyi dan mengintip kehadiran calon mempelai pria dari balik kamarnya, sambil melihat rangkaian acara yang berlangsung.

Pada tahapan ini, calon mempelai pria bersama ayahnya atau wali akan menari Saronde atau Molapi Saronde (melempar selendang). Tarian ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kepada si gadis, bahwa mempelai pria siap mengarungi bahtera rumah tangga.

Prosesi Hari H Pernikahan Gorontalo

Pada acara puncak di keesokan harinya, seorang pemangku adat akan memimpin jalanannya rangkaian acara sesuai akad atau pemberkatan pernikahan pasangan mempelai.

Kalau malam sebelumnya sang mempelai pria yang menari, kali ini giliran mempelai wanita ditemani seorang pendamping senior dan telah berkeluarga menampilkan tarian tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan keberanian dan keyakinan sang mempelai wanita menghadapi badai dalam kehidupan berumahtangga. Meski tarian tidak tampak rumit, namun calon mempelai wanita perlu berlatih atau gladi resik terlebih dahulu. Tentu saja, prosesi menari Tidi Daa biasanya digelar di depan pelaminan – disaksikan para tamu undangan saat resepsi pernikahan.

Dekorasi Pelaminan Pernikahan Gorontalo

Ada empat warna yang wajib diaplikasikan pada dekorasi pelaminan adat Gorontalo, yakni ungu, kuning emas, hijau dan merah. Tiang-tiang semacam pilar penyangga kanopi dengan bentuknya yang unik, dibalut beberapa kain sesuai warna adat yang digunakan. Bagian atas kanopi melambangkan mahkota kerajaan.

Untuk perhelatan besar yang diselenggarakan di sebuah gedung atau hotel, biasanya pelaminan adat dipadukan dengan dekorasi modern, antara lain penambahan elemen dekoratif lain seperti vas berisi rangkaian bunga segar, tata cahaya (lighting) modern, bahkan membingkai pelaminan adat dengan etalase dekoratif gaya kontemporer.

Baca Artikel Ini: Ciri Khas Pengantin Gorontalo: Dari Busana Hingga Aksesorinya

Teks: Tim Mahligai-Indonesia

LEAVE A REPLY