Keunikan Budaya “Kawin Lari” Suku Sasak di Lombok

0
49
Kawin Lari suku sasak lombok
Ilustrasi - Instagram/ wannenwisata_lombok

Indonesia memiliki ragam adat istiadat dalam melangsungkan pernikahan. Salah satu yang unik adalah adat ‘kawin lari’ dari suku sasak di Dusun Sade, Lombok, Nusatenggara Barat. Dalam aturan suku tersebut, anak gadis yang dibawa lari tanpa sepengetahuan keluarganya selama sehari semalam maka dianggap telah menikah. Bagi masyarakat, mencuri anak gadis sebelum dinikahi dipandang kesatria dibanding meminta kepada orang tuanya.

Hal tersebut konon dilatarbelakangi cerita rakyat Lombok tentang seorang raja yang memiliki putri sangat cantik hingga membuat banyak pria terpesona. Lalu sang raja membangun sebuah kamar dengan penjagaan ketat dan membuat sayembara bahwa siapa saja yang berhasil menculik putrinya, dialah yang akan dinikahkan dengan sang putri.

Dalam suku Lombok, tradisi mencuri anak gadis ini dikenal dengan istilah merarik. Dalam menjalankan tradisi ini, tetap ada aturan yang harus dipatuhi saat mencuri gadis suku Sasak ini. Ketika kedua insan sudah saling jatuh cinta tanpa ada paksaan, sang pria bisa langsung membawa lari pujaan hati tanpa sepengetahuan keluarga pihak perempuan.

Saat mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman yang bertindak sebagai saksi dan pengiring dalam prosesi tersebut. Gadis yang telah dicuri tidak boleh dibawa ke rumah lelaki, namun harus dititipkan ke rumah saudara atau kerabat laki-laki.

Setelah menyadari anak gadisnya tidak pulang hingga larut malam, orang tua akan mengirim seorang pejati atau kurir untuk melaporkan penculikan anaknya kepada kepala dusun. Nah, setelah sehari menginap, pihak laki-laki akan mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan untuk memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dicuri dan kini berada di suatu tempat yang masih dirahasiakan. Jadi, pihak orang tua tidak boleh tahu ke mana putrinya dibawa lari.

Dalam aturan adat suku Sasak, gadis yang telah dibawa kabur kekasihnya harus segera dinikahkan karena peristiwa tersebut telah diketahui oleh seluruh masyarakat desa atau dikenal dengan istilah Nyelabar. Kemudian kedua pihak keluarga menjalani adat selabar, mesejati, dan mbait wali sebagai proses permintaan izin pernikahan dari keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan.

Ketiga proses ini bisa berlangsung selama tiga hari, termasuk dalam mbai wali di mana pihak laki-laki dan perempuan membicarakan soal uang pisuka atau mahar. Setelah mencapai kesepakatan, kedua calon mempelai kemudian dinikahkan dengan melakukan ijab kabul sesuai ajaran Islam.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY