Lima Prosesi Pernikahan yang Khas dari Adat Minahasa

0
117
Dok. Majalah Mahligai

Tiap adat di Indonesia tentu memiliki prosesi pernikahan unik tersendiri. Tak terkecuali pula pada prosesi pernikahan adat Minahasa. Suku ini mengenal beberapa ritual khas yang mungkin terkesan aneh bagi orang awam. Misalnya saja ritual membelah kayu bakar atau membaca ikrar sembari memegang setangkai pohon Tawa’ang. Selengkapnya mari kita simak lima prosesi pernikahan yang khas dari adat Minahasa.

1. Upacara Bunga Putih

Sekilas, upacara pernikahan Adat tampak lebih modern dibandingkan dengan pernikahan adat lain. Misalnya saja prosesi pemberian bunga tangan berwarna putih dari pengantin pria kepada pengantin wanita sebagai tanda kasih sayang dan simbol penghormatan. Pemilihan bunga warna putih ini melambangkan kesuciaan dan kemurnian cinta.

Yang unik, jumlah bunga yang harus dibawa harus berjumlah 9 tangkai. Tepatnya 9 buah yang mekar dan 9 buah yang kuncup. Angka 9 rupanya bukan hanya dipercaya orang Cina sebagai angka keberuntungan saja ya, orang Manado pun meyakini hal tersebut.

Selain itu, bunga tangan pengantin Manado juga harus bunga asli. Sebab, jika yang diberikan adalah bunga artificial atau palsu pengantin wanita bisa tersinggung dan menganggap cinta pasangannya juga palsu.

2. Minum dari Mangkuk Kower

Dalam bahasa Minahasa kower berarti bambu. Upacara ini adalah upacara terakhir atau penutup dari serangkaian upacara adat pengantin Minahasa. Upacara ini dikenal oleh keempat sub etnis Minahasa yaitu, Tombulu, Totembuan, Tonsea-Maumbi, dan Tondano.

Inti dari upacara ini sebenarnya mirip dengan upacara suap-suapan khas adat Sunda. Kedua mempelai makan sedikit nasi dan ikan yang telah disediakan di meja upacara. Setelah itu mereka minum dengan wadah yang terbuat dari kower atau ruas bambu muda yang masih hijau. Upacara minum dari mangkuk kower melambangkan bahwa mereka akan saling mengasihi, dan tahapan kehidupan baru bagi kedua mempelai baru saja dimulai.

Sesudah itu, meja upacara adat yang tersedia di depan pengantin tersebut diangkat dari pelaminan, yang diikuti dengan beranjaknya rombongan adat dari pentas upacara. Ketika mereka meninggalkan tempat upacara mereka akan menyanyikan lagu dalam bahasa daerah Minahasa yang berisi nasehat atau wejangan untuk mempelai.

3. Lumelek

Masih satu rangkaian dengan upacara Bacoho atauu ritual membersihkan diri. Prosesi Lumelek dimulai dengan calon pengantin yang disiram dengan air yang telah diberi aneka rupa bunga berwarna putih dan berjumlah sembilan. Setelah itu, calon pengantin disiram sebanyak sembilan kali dari leher ke bawah dan dikeringkan dengan handuk bersih yang belum pernah digunakan. Seperti halnya prosesi siraman dalam adat Jawa atau Ngebakan dalam adat Sunda, Lumelek juga dilakukan sebagai simbol kesucian dan kemurnian calon pengantin.

4. Upacara Tawa’ang

Upacara ini biasanya berlangsung setelah prosesi upacara di gereja atau pada resepsi perkawinan. Kedua mempelai didudukkan di pelaminan. Upacara adat ini dimulai dengan pemanjatan doa oleh si pemimpin upacara adat yang disebut Sumempung atau Sumambo.

Dalam upacara Tawa’ang kedua mempelai memegang setangkai pohon Tawa’ang sambil mengucap ikrar dan janji setia sebagai suami istri yang akan saling menghormati dan mengharga.

Makna tersirat dari upacara ini adalah agar apa yang sudah diikrarkan oleh kedua mempelai dapat sekokoh pohon Tawa’ang yang tak mudah goyah oleh terpaan angin dan badai. Kedua mempelai pun diharapkan dapat senantiasa hidup bahagia sampai akhir hayat.

5. Belah kayu bakar

Kalau dalam adat Sunda kita mengenal pabetot ayam atau tarik-menarik ayam bakar, di Manado ada pula prosesi belah kayu bakar. Upacara ini biasanya dilakukan setelah upacara Tawa’ang. Prosesi membelah kayu bakar ini merupakan simbol dari pemberian nafkah suami kepada istri.

Belah kayu bakar merupakan prosesi yang dilaksanakan oleh sub etnis Minahasa seperti Tombulu dan Totemboan. Namun oleh subetnis Tondano mereka tidak menggunakan upacara ini melainkan upacara membelah setengah tiang jengkal kayu lawang. Sedangkan pada sub etnis Tonsea-Maumbi kayu bakar diganti dengan upacara membelah kelapa.

Namun, makna dari upacara ini sebenarnya sama. Belah kayu bakar menyimbolkan harapan agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga mempelai dapat hidup sejahtera dan tercukupi secara ekonomi.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

 

LEAVE A REPLY