Maminang dan Batuka Tando : Prosesi Lamaran Adat Minang

0
6412
seserahan minangkabau
Contoh Seserahan Minangkabau - Dok. Majalah Mahligai

Maminang merupakan istilah untuk menyebut prosesi lamaran dalam tradisi Minang. Sesuai dengan kultur Minang yang menganut sistem matrilineal, maka prosesi lamaran justru dilakukan oleh pihak keluarga wanita kepada keluarga pria yang akan dipinang.

Dalam prosesi Maminang juga dikenal istilah batuka tando atau batimbang tando. Artinya, kedua pihak saling menukar tanda sebagai simbol ikatan kesepakatan meminang dilakukan. Saling memberikan benda sebagai tanda ikatan ini sesuai dengan hukum perjanjian pertunangan menurut adat Minangkabau.

Jika prosesi batuka tando telah dilakukan maka bukan hanya kedua calon mempelai saja yang telah ada keterikatan dan pengesahan, tetapi juga antar kedua belah pihak keluarga. Jadi tidak bisa lagi memutuskan secara sepihak perjanjian yang telah disepakati.

Urutan Acara Maminang 

Melamar :  Menyampaikan secara resmi lamaran dari pihak keluarga si gadis kepada keluarga si pemuda

Batuka tando:  Mempertukarkan tanda ikatan masing-masing

Baretong:  Merembukkan tata cara yang akan dilaksanakan nanti dalam penjemputan calon pengantin pria waktu akan dinikahkan.

Manuak hari:  Menentukan waktu terbaik hari pernikahan.

Barang-Barang Bawaan

pengantin minang
Pengantin Minang – Foto: Dok. Mahligai Indonesia

Dalam tradisi Minangkabau, sirih pinang lengkap menjadi barang bawaan yang wajib hukumnya dibawa saat prosesi maminang. Entah itu sirih pinang disusun di carano atau dibawa dengan kampia. Yang penting sirih penang lengkap masuk dalam daftar bawaan. Sirih pinang bukan semata benda belaka, melainkan ada simbolisasi dan makna tersirat di dalamnya.

Daun sirih kalau dikunyah menimbulkan dua rasa dilidah, yaitu pahit dan manis. Terkandung simbol kearifan manusia akan kekurangan-kekurangan mereka. Wajar saja bila dalam setiap pertemuan dua pihak terjadi kekhilafan dan kekurangan. Maka dengan menyuguhkan sirih di awal pertemuan, maka segala perkara yang janggal tidak layak jadi gunjingan.

Selain itu, dalam prosesi maminang kedua pihak keluarga juga telah menyiapkan benda untuk prosesi batuka tando atau bertukar tanda. Benda tersebut diletakkan dalam suatu wadah (dulang atau nampan) yang dihias apik. Benda yang dipertukarkan untuk ‘batuko tando’ lazimnya adalah benda-benda pusaka, seperti keris atau kain adat yang mengandung nilai sejarah bagi keluarga. Jadi barang yang dipertukarkan bukan dinilai dari kebaruan dan kemahalan harganya, tetapi justru karena sejarahnya.

Barang-barang yang dipertukarkan tersebut, mengingat sejarahnya, maka nanti setelah akad dilangsungkan, masing-masing tanda ini harus dikembalikan lagi dalam suatu acara resmi oleh kedua belah pihak. Lazimnya, dibawa juga buah tangan berupa kue-kue atau buah-buahan sebagai oleh-oleh. Sebagian masyarakat Bukit tinggi, Sumatera Barat, saat meminang mamak dari pihak laki-laki menyiapkan rokok daun anau diisi dengan tembakau yang dibawa dengan kampia (wadah pipih yang dibuat dari daun lontar atau daun anau).

 

Sumber : Tata Cara Perkawinan Adat Istiadat Minangkabau, Nazif Basir & Elly kasim
Teks : Tim Mahligai Indonesia

 

LEAVE A REPLY