Mandi Badudus, Ritual Penyucian Diri Suku Banjar

0
31
badudus
Dok. Mahligai Indonesia

Bagi masyarakat modern mandi merupakan cara membersihkan raga dari kuman dan keringat yang timbul karena aktivitas. Namun dalam tradisi beberapa daerah di Indonesia, mandi dianggap sebagai ritual penyucian diri yang menyimpan makna/filosofis tertentu. Anda mungkin kerap mendengar prosesi siraman yang identik dengan suku Jawa atau mandi-mandi yang dilakukan oleh calon pengantin Minang.

Sementara bagi suku Banjar, prosesi mandi yang bermakna penyucian diri ini dikenal dengan istilah badudus. Uniknya, prosesi badudus  bukan hanya dilakoni untuk calon pengantin wanita saja. Melainkan juga dilakukan saat kehamilan tujuh bulan pertama dan saat penobatan raja atau pemberian gelar bangsawan. Berikut kami akan mengupas prosesi ini masing-masing selengkapnya:

Badudus untuk Calon Pengantin

badudus
Dok. Mahligai Indonesia

Dalam rangkaian pra pernikahan adat Banjar calon pengantin akan melakoni upacara mandi badudus. Pada prosesi ini calon pengantin akan dimandikan menggunakan air dicampur bunga-bunga dan air jeruk, dilengkapi dengan mayang dan air kelapa gading. Prosesi badudus dilakukan selepas bapingit, dua atau tiga hari sebelum upacara perkawinan. Untuk memandikan dipilih lima atau tujuh orang wanita tua dari keluarga terdekat.

Rangkaian prosesi ini diwarnai dengan detil perlengkapan dan dekorasi berwarna kuning. Antara lain pada ‘lalangitan’ berupa kain kuning yang direntangkan pada bagian atas lokasi berlangsungnya prosesi. Bagi masyarakat Banjar, warna kuning selain merupakan warna yang memiliki arti kebesaran dan keluhuran, juga dipercaya bisa menjadi ‘alat’ untuk melindungi dari pengaruh roh jahat. Dengan demikian, calon pengantin juga memakai sarung warna kuning saat melakukan ritual badudus untuk ‘melindungi’ dari hal-hal buruk yang tak diinginkan.

Badudus untuk Penobatan Raja

penobatan sultan banjar
Dok. Mahligai Indoensia

Selama ini, badudus hanya dikenal sebagai upacara ‘membersihkan’ diri calon pengantin adat Banjar. Namun, dari catatan sejarah Kesultanan Banjar, ritual yang banyak mengusung atribut adat dan menggunakan warna kuning ini dilakukan untuk mensucikan kerabat keraton sebelum dinobatkan sebagai raja atau mendapat gelar kehormatan kebangsawanan dari Kesultanan Banjar.

Ritual Badudus dimulai dengan doa selamat. Selepas doa, dilanjutkan dengan menyantap penganan khas Banjar, antara lain wajik dan bubur merah-putih, yang menyimbolkan harapan doa keselamatan. Nuansa adat Banjar dan percampuran adat Jawa cukup terasa dengan mengalunnya musik gamelan, mengiringi rangkaian upacara.

Tempat upacara badudus berbentuk segi empat dengan diapit oleh empat tiang (sudut) yang dihiasi pohon tebu beratap kain berwarna kuning. Juga disediakan gentong berisi air berasal dari tujuh sumber mata air, yang memiliki keterkaitan sejarah perjalanan kesultanan Banjar.

Selain itu, di dalamnya juga terdapat bermacam bunga seperti mawar, melati, cempaka, mayang dan beberapa daun seperti daun penolak bala, daun linjuang dan daun jaruju. Di empat sudut balai-balai berdiri manisan kuning, tibarau, batang bambu kuning dan payung di atasnya. Semua itu, memiliki makna tersendiri.

Prosesi Badudus untuk Kehamilan

Mandi Tian Marinding - Adat Banjar
Foto: Youtube/ MHR05

Menurut keyakinan orang Banjar, makhluk halus sangat tertarik untuk mengganggu wanita yang sedang hamil. Bahkan proses kehamilan juga sangat rentan dengan gangguan makhluk halus. Sehingga dengan diakan acara badudus atau mandi tian mandaring, diharapkan ibu dan anak yang akan dilahirkan selalu dilindungi dan lahir dengan selamat.

Pelaksanaan mandi tiang mandaring dilakukan oleh dukun bayi yang sudah biasa melakukan upacara ini. Jumlah dukun biasanya selalu ganjil – antara 3 sampai 7 orang dengan satu orang menjadi pemimpinnya. Ada pula anggota keluarga yang sudah sepuh yang akan turut memandikan si calon ibu.(*)

Baca Artikel Ini : Mandi Tian Marinding  Prosesi Tujuh Bulanan Adat Banjar

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY