Mandi Tian Marinding: Prosesi Tujuh Bulanan Adat Banjar

0
1072
Mandi Tian Marinding - Adat Banjar
Foto: Youtube/ MHR05

Kelahiran anak pertama selalu menjadi hal yang mendebarkan dan penuh harap. Di Indonesia, ada berbagai prosesi adat yang dilakukan guna menyambut dan mendoakan calon jabang bayi yang dikandung oleh ibunya. Salah satunya adalah upacara daur hidup Mandi Tian Mandaring yang dilakukan suku Banjar. Prosesi ini dikhususkan untuk kehamilan anak pertama di usia tujuh bulan.

Menurut keyakinan orang Banjar, makhluk halus sangat tertarik untuk mengganggu wanita yang sedang hamil. Bahkan proses kehamilan juga sangat rentan dengan gangguan makhluk halus. Sehingga dengan diakan acara mandi tian mandaring, diharapkan ibu dan anak yang akan dilahirkan selalu dilindungi dan lahir dengan selamat.

Peralatan dan Perlengkapan Upacara

Ada beberapa peralatan yang harus disiapkan dalam prosesi ini, antara lain banyu yasin (air yang sudah dibacakan surat Yasin), banyu tuju, banyu baya (biasanya sudah disiapkan oleh dukun bayi), dan mayang balik tilantang. Selain itu, juga diperlukan tempat untuk mandi berupa balai warti yang biasa diletakkan di depan rumah dengan menghadap ke arah matahari pajah (matahari terbenam).

Balai ini berbentuk seperti panggung. Untuk naik ke balai disiapkan tangga dengan anak tangga berjumlah ganjil. Biasanya dibagian atap akan dihias kain kuning (warna kebesaran dalam keraton Banjar), bagian sudut dihiasi tebu hijau lengkap dengan daunnya. Jika memiliki tombak pusaka, bisa ditancapkan bersanding dengan tebu di ke empat sudut panggung. Tidak lupa kursi yang akan diduduki calon ibu ketika disiram.

Untuk keperluan mandi, diperlukan perlengkapan seperti mayang maurai, mayang bungkus, mayang maupung, atau bunga pinang yang masih terbungkus dalam seludangnya, kambang bacurai (rangkaian bunga), kambang barenteng (untaian karangan bunga yang dirangkai di batang pisang), dan daun kambar. Wanita yang akan dimandikan harus menggunakan pakaian adat

Urutan Prosesi

Pelaksanaan mandi tiang mandaring dilakukan oleh dukun bayi yang sudah biasa melakukan upacara ini. Jumlah dukun biasanya selalu ganjil – antara 3 sampai 7 orang dengan satu orang menjadi pemimpinnya. Ada pula anggota keluarga yang sudah sepuh yang akan turut memandikan si calon ibu.

Awalnya, calon ibu yang sedang hamil dirias secantik mungkin dan mengenakan pakaian tilasan mandi (kain kuning) yang kemudian dibalut pakaian pengantin. Setelah berpakaian calon ibu dibimbing menuju balai warti diikuti seseorang yang membawa tudung atau tempat menaruh pakaian pengantin yang akan dilepaskan sebelum mandi.

Setelah melewati pintu balai, iring-iringan ini disambut dengan sholawat Nabi dan ditaburkan beras kuning – kadang ditaurkan bersamaan dengan uang logam yang kemudian akan diperebutkan oleh anak-anak kecil yang hadir.

Calon ibu kemudian duduk di balai warti bersama dukun bayi. Kemudian pakaian pengantin mulai dilepaskan dan disimpan di tudung saji yang dibawa terlentang oleh seorang petugas khusus. Saat memandikan, para tamu akan menyanyikan tembang berupa lagu-lagu hadrah dan shalawat Nabi.

Setelah acara mandi selesai, calon ibu akan meninggalkan balai warti untuk dirias kembali. Namun sebelum itu, calon ibu harus menjalani proses, yakni memasukkan tubuhnya ke dalam lingkaran lawai kuning sebanyak tiga kali.

Acara kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Yasin bersama. Calon ibu yang telah dirias didudukkan di atas susunan lipatan tapih yang menghadp ke arah wadai 41 (41 macam kue yang disusun dalam 41 wadah). Dipimpin dengan pemuka agama, calon ibu dan jabang bayi didoakan agar selalu dilindungi dan dimudahkan proses persalinannya. Selesai pembacaan doa, para tamu dipersilakan menyantap makanan yang disediakan termasuk wadai 41.

Kain tilasan mandi diserahkan kepada dukun kepala atau dapat pula digantikan dengan uang setelah acara selesai.

LEAVE A REPLY