Pernikahan Adat Gaya Yogyakarta

0
3614

PERNIKAHAN MERUPAKAN PERISTIWA SAKRAL YANG MENJUNJUNG TINGGI PARANATA, NORMA, MAUPUN TATA CARA ADAT YANG BERLAKU DI DALAM MASYARAKAT. DALAM BUDAYA MASYARAKAT TIMUR, PERNIKAHAN MERUPAKAN SUATU RANGKAIAN PROSESI ADAT YANG BERLANGSUNG BEBERAPA HARI. MELIPUTI PRA-MANTU, MANTU, HINGGA PASCA MANTU YANG MELIBATKAN KELUARGA KEDUA BELAH PIHAK PENGANTIN. BERIKUT INI KAMI RANGKUM SECARA SINGKAT RANGKAIAN UPACARA PENGANTIN ADAT JAWA GAYA YOGYAKARTA. 

Teks: Dwi Ani Parwati, dari berbagai sumber

1. Nontoni, Lamaran, Peningsetan
Tahap paling awal dari seluruh proses pernikahan adalah Nontoni, yaitu penyelidikan oleh keluarga pemuda untuk mengetahui latar belakang calon yang akan dipersunting. Apabila mendapatkan infomasi sesuai yang diharapkan, pihak keluarga pemuda melamar pihak wanita. Setelah dicapai kesepakatan dan lamaran diterima pihak wanita, maka kedua belah pihak merundingkan hari, tanggal dan waktu pelaksanaan peningsetan.

Bentuk peningset pada umumnya berupa seperangkat bahan busana biasanya berupa kain batik, bahan kebaya, semekan atau selendang, perhiasan dan ’tukon’ berupa uang. Setelah peningsetan biasanya dilanjutkan dengan musyawarah kedua belah pihak untuk menentukan hari dan tanggal pernikahan.

2. Tarub dan Bleketepe

Inilah rangkaian awal yang dilakukan menjelang hari perhelatan mantu. Bisanya dilaksanakan pada pagi hari di kediaman pihak keluarga calon pengantin wanita. Pemasangan tarub atau janur kuning beserta tuwuhan dilaksanakan berdasarkan perhitungan waktu yang cermat, biasanya bersamaan dengan upacara Siraman, hanya waktunya berbeda. Pemasangan tarub dilanjutkan dengan pemasangan bleketepe (anyaman daun kelapa) oleh ayah calon mempelai wanita sebagai simbol akan menyelenggarakan perhelatan mantu.

3. Siraman
Berasal dari kata siram yang berarti mandi, sehingga siraman mengandung arti memandikan calon pengantin agar suci lahir batin menjelang pernikahan. Upacara Siraman calon mempelai wanita maupun calon mempelai pria biasanya dilakukan sehari sebelum hari-H di kediaman masing-masing, oleh para pinisepuh atau orang-orang yang dituakan menjadi teladan.

Siraman menggunakan air yang diambil dari dari tujuh sumber dicampur bunga sritaman (bunga khusus) berupa kembang mawar, melati dan kenanga. Sebelum melaksanakan siraman, calon pengantin melaksanakan prosesi sungkem kepada orangtua.

4. Ngerik
Prosesi ini merupakan awal dari tata rias wajah calon pengantin wanita. Karena memilki arti penting bagi kecantikan penampilan pengantin wanita, maka juru rias dan juru paes pengantin biasanya melakukan puasa untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Ngerik berarti menghilangkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajah bercahaya.

Proses merias dan mendandani calon pengantin wanita berawal di sini. Rambutnya diratus sehingga berbau harum, wajah bagian dahi mulai digambar dengan cengkorongan paes pengantin dan tata rias secara natural atau samar-samar. Setelah dirias, calon pengantin mengenakan kebaya dan kain motif sidamukti, sidoasih, atau kain lain yang bermakna baik.

5. Midodareni
Berasal dari kata widodari yang berarti bidadari atau putri dari surga yang sangat cantik. Acara berlangsung malam hari sebelum upacara nikah keesokan harinya. Busana calon mempelai wanita untuk acara midodareni berupa kebaya model bersahaja tanpa perhiasan, kain motif truntum, sanggul tekuk, serta rias wajah tipis atau samar-samar.

Prosesi Midodareni kini biasanya dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa acara yakni jonggolan/nyantri, tantingan, srah-srahan dan majemukan.

a. Jonggolan/Nyantri
Saat malam Midodareni, calon pengantin pria diwajibkan hadir di kediaman calon pengantin wanita untuk jonggolan/nyantri menghadap calon mertua. Tradisi Nyantri selain untuk memastikan calon mempelai pria tidak ‘’kabur’’ pada saat ijab, juga dimaksudkan agar pihak keluarga calon mempelai wanita bisa memberikan petuah kepada calon mempelai pria tentang hidup berkeluarga.

Dewasa ini umumnya kedua calon pengantin sudah saling kenal dan sepakat berumah tangga, sehingga prosesi Nyantri dilaksanakan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan. Biasanya acara nyantri digabungkan dengan prosesi Midodareni.

b. Srah-srahan
Pelaksanaan upacara serah terima barang-barang seserahan dari calon pengantin pria kepada pihak calon wanita. Jika peningset dan srah-srahan sudah dilaksanakan sebelumnya, hantaran yang dibawa pihak pria pada malam Midodareni hanya sekedar oleh-oleh saja.

c. Tantingan
Tantingan disebut juga panantunan, dimaksudkan untuk mendapatkan kepastian terakhir kesediaan calon pengantin wanita untuk dinikahkan. Acara tantingan berlangsung di kamar pengantin, sang ayah menanyakan kesediaan putrinya untuk berumah tangga. Biasanya calon pengantin wanita akan menjawab bersedia namun mengajukan syarat yakni mencarikan kembar mayang sebagai syarat perkawinan.

d. Majemukan
Majemukan adalah selamatan (rasulan) yang dilaksanakan pada malam midodareni dan diikuti para tamu yang hadir dalam tirakatan. Tujuan majemukan ini adalah menyampaikan permohonan kepada Tuhan agar pelaksanaan acar berjalan lancar dan selamat.

6. Upacara Ijab Kabul/Akad Nikah (Pernikahan Secara Agama)
Upacara pernikahan agama dilakukan menurut aturan agama yang dianut kedua calon mempelai. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita disertai penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan.

7. Upacara Panggih
Kata panggih dalam bahasa Jawa berarti bertemu, merupakan upacara pertemuan sepasang pengantin yang telah resmi sebagai suami-isteri secara agama untuk bersanding di pelaminan. Dalam budaya Jawa upacara Panggih diiringi Gendhing Ladrang Penganten, merupakan puncak acara dari serangkaian upacara adat yang mendahuluinya. Prosesi Panggih diringkas sebagai berikut:

1. Penyerahan Tebusan Pisang Sanggan
Perlengkapan: Membawa sanggan berupa satu tangkep pisang raja, sirih ayu, kembang telon (bunga mawar, melati dan kenanga), dan benang lawe. Tata cara: Mempelai pria didampingi dua orang pendamping pria serta diiringi rombongan keluarga mempelai pria menuju serambi muka. Iringan rombongan pengantin pria didahului oleh pembawa sanggan diserahkan kepada ibu mempelai wanita. Prosesi diiringi Gendhing Ladrang Penganten.

2. Kepyok (menyentuhkan) Kembar Mayang
Perlengkapan: Sepasang kembar mayang Tata cara: Pengantin dan rombongan berhenti di depan pintu yang berhias tarub. Pengantin putri didampingi dua orang sesepuh dan dua orang patah (anak perempuan kecil pembawa kipas), serta didahului dua orang ibu setengah baya pembawa kembar mayang keluar dari kamar pengantin, menuju pintu, hingga berjarak sekitar dua-tiga meter di depan posisi rombongan mempelai pria. Sesampai di depan tarub, pembawa kembar mayang keluar menghampiri mempelai pria dan disenggolkan ke bahu kanan dan dan kiri pengantin pria.

3. Melempar Gantal (saling lempar sirih)
Perlengkapan: tujuh buah gantal (daun sirih diisi bunga pinang, kapur, gambir dan tembakau warna hitam kemudian diikat/dilinthing dan diikat benang lawe putih). Tata cara: Posisi mempelai pria dan wanita saling berhadapan berjarak sekitar dua-tiga meter, kemudian saling melempar gantal yang berjumlah tujuh buah, pengantin wanita melempar sebanyak 3 kali, pengantin pria melempar empat kali.

4. Wijikan dan Memecah telur
Perlengkapan: radupada yakni bokor (jambangan terbuat dari kuningan) berisi air dan bunga sritaman, beserta perlengkapan lainnya. Tata cara: Kedua pengantin saling mendekat menuju ranupada (tempat wijikan) diletakkan. Pengantin wanita menghaturkan sembah kemudian sambil berjongkok membasuh kaki mempelai pria sebanyak tiga kali. Pengantin wanita kembali menyembah kemudian berdiri yang dibantu oleh pengantin pria. Selanjutnya kedua pengantin saling berhadapan, juru paes menyentuhkan telur ke dahi pengantin pria dan wanita, kemudian telur dipecahkan di lantai.

5. Kacar-kucur atau Tampa Kaya
Perlengkapan: aneka macam biji-bijian seperti kedelai, kacang tanah, gabah, beras kuning, dll; bunga sritaman, uang receh logam, kain mori putih ukuran 25 cm x 25 cm, tikar kecil diletakkan dipangkuan wanita. Prosesi diiringi gendhing Boyong atau gendhing Puspawarna.

Tata cara: Kedua pengantin duduk berhadapan, pengantin pria menumpahkan uang recehan, beras kuning, kacang-kacangan dan empon-empon yang berada dalam tikar anyaman ukuran kecil (kloso bongko) ke pangkuan pengantin wanita, yang diberi alas kain sindur. Prosesi ini mengandung makna bahwa pria sebagai kepala keluarga bersama istri saling bahumembahu membangun keluarga sejahtera.

6. Dhahar Klimah
Perlengkapan: Nasi kuning lengkap dengan lauk pauk, piring kosong, serbet dan sendok, dua cangkir teh manis. Tata cara: Setelah mencuci tangan, pengantin pria mengepa-ngepal nasi kuning yang telah disiapkan perias. Tiga kepalan kecil diletakkan di piring kosong yang dipegang pengantin wanita, juru paes atau dukun manten menyerahkan nasi kuning kepada pengantin pria dan piring kosong kepada pengantin wanita, selanjutnya nasi kuning dimakan oleh pengantin wanita sambil disaksikan oleh pengantin pria. Prosesi diakhiri dengan minum teh manis bersama.

7. Mapag Besan/ Menjemput Besan
Perlengkapan: Gendhing Ladrang Slamet atau Ladrang Sri Wilujeng. Prosesi ini melambangkan penghormatan kepada besan,kehadirannya sangat dihormati dan dihargai. Tata cara: Menurut tradisi Jawa, saat prosesi panggih orang tua mempelai pria tidak diperkenankan hadir. Sehingga setelah prosesi panggih, orang tua mempelai wanita menjemput besan. Sesampai di palaminan orangtua pengantin pria dipersilahkan duduk di sebelah kiri pengantin, kemudian orangtua pengantin wanita duduk di sebelah kanan. Sesuai tradisi Jawa, posisi duduk/berdiri orang tua mempelai wanita berada di sebelah kanan mempelai pria, sementara orang tua pria berada di sebelah kiri mempelai wanita.

8. Bubak Kawah
Perlengkapan: pikulan berisi perlengkapan bubak kawah. Tata cara: Bubak kawah adalah membuka jalan mantu atau mantu yang pertama. upacara ini dilaksanakan ketika orangtua mantu pertama dan mengandung makna pernyataan syukur kepada Tuhan dan mohonan kepada Tuhan agar pengantin diberikan kekuatan jasmani dan rohani. Petugas memikul bubak kawah menuju tempat pelaminan, pengantin pria dan pengantin wanita memeriksa bubak kawah. Kemudian, isi pikulan diperebutkan oleh para tamu.

9. Tumplak Punjen
Makna: Ungkapan syukur kepada Tuhan karena telah menuntaskan kewajiban sebagai orangtua iuntuk menikahkan putra-putrinya. Tata cara: Upacara ini dilakukan pada mantu yang terakhir dengan cara menumpahkan punjen (pundipundi) yang berisi peralatan tumplak punjen. Sungkeman dari anak dan menantu tertua hingga terakhir.

10. Sungkeman
Makna: Merupakan tanda bakti anak kepada kedua orang tua. Tata cara: Bersembah sujud kepada kedua orang tua untuk memohon doa restu. Sungkeman pertama dilakukan oleh pasangan pengantin kepada kedua orang tua pengantin wanita. Dilanjutkan sungkeman kepada kedua orang tua pengantin pria. Saat sungkeman, juru paes bertugas melapas keris yang dikenakan pengantin pria.

LEAVE A REPLY