Pernikahan Adat Suku Baduy, Sakral dan Anti Perceraian

0
2854
pernikahan suku baduy
Ilustrasi - Instagram/ abdul_muis7055

Perkawinan bagi orang-orang suku baduy merupakan ‘rukun hirup’, yakni kewajiban yang harus dijalankan sebagai manusia. Jika tidak menikah, orang tersebut akan dianggap menyalahi kodrat yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.

Menjadi salah satu suku bangsa yang menolak kehadiran modernisasi, Suku Baduy tentu memiliki cara yang unik dalam menjalankan tradisi pernikahan. Tradisi-tradisi tersebut memunculkan kearifan lokal yang patut diapresiasi dan dicontoh.

Ternyata, suku Baduy menabukan adanya perceraian. Menurut mereka, pernikahan haruslah terjadi sekali seumur hidup. Jikapun harus berpisah, itu karena maut yang memisahkan. Seseorang boleh menikah lagi jika pasangannya telah meninggal dunia. Tidak hanya itu, suku Baduy juga tidak memperbolehkan poligami. Mereka menganggap, praktek poligami akan membuat perpecahan di masyarakat. Lalu bagaimana prosesi pernikahan adat yang dilakukan masyarakat suku Baduy?

Suku yang terletak di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Rangkasbitung, Banten ini memulai proses meminang dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tua mempelai. Calon mempelai kemudian dipertemukan dalam acara bobogohan untuk membuat kesepakatan. Pertemuan tersebut biasanya diiringi lantunan alat musik kecapi.

Setelah adanya kesepakatan kedua belah pihak untuk menikah, maka dilaksanakanlah lamaran yang terdiri dari tiga tahapan. Pertama-tama, mempelai pria beserta keluarga melaporkan adanya maksud untuk menikah kepada Jaro (kapala kampong). Hantaran yang dibawa antara lain pinang, gambir, dan sirih. Kemudian, hantaran tersebut dibawa ke rumah wanita yang akan dilamar. Mempelai pria juga membawa cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawin. Tahapan ketiga adalah membawakan peralatan rumah tangga dan baju untuk calon pengantin wanita.

Setelah prosesi lamaran, digelarlah upacara pernikahan yang hanya boleh diadakan pada bulan kalima, kanem, katujuh. Penanggalan ini merupakan aturan (pukikuh) yang telah diwariskan oleh leluhur. berdasarkan pukikuh, aturan aturan yang sudah digariskan oleh leluhur. Mempelai pria mengucapkan syahadat (seperti ijab Kabul), disaksikan oleh naib (penghulu). Masyarakat Baduy tidak mengenal pencatatan pernikahan di KUA, karena terbentuk dengan kepercayaan yang mereka anut.

Teks: Elsa Faturahmah – dari segala sumber

LEAVE A REPLY