Prosesi Lamaran Adat Jawa yang Kini Lebih Simpel

0
20644
akad nikah jawa klasik
Ikustrasi Prosesi Akad Nikah Adat Jawa - Dok. Majalah Mahligai

Dalam tata cara perjodohan adat lama, upacara lamaran bersifat terbuka, spekulatif, dan membutuhkan kesiapan jiwa dari pihak si pelamar. Dalam arti, siapapun boleh mengajukan lamaran kepada si gadis. Akan tetapi, pihak keluarga si gadis membutuhkan waktu untuk memberikan jawab, apakah lamaran ditolak atau diterima. Bisa dalam beberapa hari atau berbulan-bulan.

Namun sekalipun intinya menyetujui lamaran dan menerima, pihak wanita biasanya tetap minta waktu untuk memikirkannya. Konon ini erat kaitannya dengan harga diri keluarga. Kalau pihak keluarga wanita dengan mudah menerima lamaran yang datang, maka mereka dianggap menurunkan derajat anak gadis mereka di hadapan keluarga pelamar.

Dengan perjalan waktu, pertimbangan tradisi lama terkait dengan lamaran sudah banyak bergeser. Pada zaman sekarang, sepasang calon pengantin biasanya sudah cukup lama berpacaran dan saling mengenal sebelum memutuskan untuk menikah. Sehingga, lamaran dimaknai lebih sebagai pertemuan resmi antara orangtua keluarga pihakpria dengan orangtua pihak wanita, di mana juga dibicarakan kesepakatan mengenai tanggal pernikahan, pelaksanaan pernikahan, dan sebagainya.

Dalam lamaran dan pertemuan resmi antara kedua pihak orang tua, perlu dilibatkan kehadiran beberapa saksi. Agar, segala hal yang telah disepakati oleh kedua pihak, bisa dilaksanakan dengan baik. Apabila pihak wanita sudah menyatakan persetujuan atas lamaran yang diajukan pihak pria, maka disepakatilah tanda jadi atau tanda persetujuan atau paningset.

Konsep paningset ini menjadi tradisi yang mengikat kedua pihak, baik calon pengantin maupun keluarga. Bila salah satu mengingkari kesepakatan, tentuada sanksi, baik secara adat maupun pribadi. Umumnya, paningset diserahkan oleh pihak calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita. Paling lambat lima hari sebelum hajat perkawinan diselenggarakan. Namun belakangan, dengan alasan kepraktisan, acara penyerahan atau srah-srahan paningset sering digabungkan bersamaan dengan upacara midodareni.

Jenis Peningset Jawa

• Peningset Utama. Berupa cincin polos tanpa mata (sesupeseser) serta seperangkat perlengkapan sandang wanita, yang terdiridari setagen, kain batik truntum, sindur yaitu selendang panjang berwarna merah dan putih, dan semekan (penutup payudara).

• Peningset abob-abon atau akar-akar pengikat. Yang terdiri dari jeruk gulung atau jeruk Bali, tebu wulung atau tebu hitam,sekul golong atau nasi yang dibentuk bulatan bulatan dan seiap duabulatan dibungkus daun pisang), pisang mas, dan perlengkapan makan sirih.

• Pengiring paningset, atau paningset pengiring. Yaitu berbagai macam hasil bumi, antara lain beras, umbi-umbian, dan sebagainya. Tujuannya untuk membantu meringankan anggaran tuan rumah dalam penyelanggaraan hajat. Pada zaman sekarang, paningset umumnya ditambah dengan perhiasan untuk calon pengantin wanita, seperangkat pakaian dalam wanita, serta perlengkapan sandang untuk orangtua calon pengantin wanita. Paningset pengiring pun kini kebanyakan sudah diganti dengan uang untuk membantu penyelenggaraan perkawinan.

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia 

LEAVE A REPLY