Prosesi Nyawer atau Saweran dalam Pernikahan Adat Sunda

0
535
Nyawer atau saweran
Instagram amelia_pcs

Budaya nyawer atau saweran dalam adat pernikahan Sunda menjadi acara yang menambah semarak dan kemeriahan prosesi pernikahan. Selain itu, nyawer juga mampu memnciptakan suasana hangat dan akrab di antara keluarga kedua mempelai. Ya, karena tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga ada yang masih sangat bersemangat untuk mengambil benda-benda sawera. Sebagian percaya, benda-benda saweran tersebut dapat membuat orang yang mendapatkannya enteng jodoh dan murah rezeki.

Nyawer atau saweran merupakan budaya menaburkan berberapa benda-benda kecil yang dilakukan oleh orang tua kedua mempelai. Konon dengan menaburkan benda-benda tersebut dapat memberikan petunjuk kepada kedua calon mempelai agar dapat menjalankan kehidupan rumah tangga yang bahagia dan tidak lupa untuk senantia bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

Dalam prosesi pernikahan adat Sunda, nyawer atau saweran dilakukan setelah upacara ijab kabul atau pemberkatan dan sungkeman. Jika biasanya acara nyawer dilakukan di luar ruangan, kini demi kepraktisan, ada beberapa mempelai yang melakukan prosesi ini di dalam gedung.

Nyawer berasal dari kata awer yang diibaratkan seember benda cair yang bisa diuwar-awer (diciprat-cipratkan atau ditebar-tebar). Namun ada pendapat lain yang ditulis dalam buku Bagbagan Puisi Sawer Sunda yang menjelaskan bahwa nyawer berasal dari kata penyaweran, yakni tempat yang kerap terkena air hujan yang terbawa hembusan angina. Nah, dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tempat yang dimaksud untuk melangsungkan nyawer adalah di halaman rumah. Sementara itu, cipatran air merupakan benda-benda sawerannya.

Makna Tersirat dari Benda-benda Saweran

Ada beberapa benda istimewa yang kerap disebar dalam acara nyawer, antara lain kunyit, beras putih, berbagai bunga rampai, sirih, permen, uang logam dan beras kuning yang sudah direndam dalam air kunyit. Masing-masing bahan tersebut memiliki makna berupa doa-doa untuk kedua mempelai.

Warna kuning dari kunyit diibaratkan emas dan merupakan simbol harapan agar kedua mempelai dapat hidup dengan kelimpahan rezeki. Beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat Sunda dan menjadi simbol kesejahteraan dan kebahagiaan yang cukup. Selain itu, uang logam juga melambangkan kekayaan. Sedangkan aroma wangi dari bunga-bunga menjadi harapan agar nama kedua mempelai senantiasa harum dengan perilaku yang mulia.

Dari benda-benda tersebut, tak ketinggalan sirih sebagai bentuk doa agar kedua mempelai selalu hidup rukun dan saling pengertian satu sama lain. Dan permen dengan rasa manis menjadi pengharapan agar kehidupan mempelai selalu berjalan harmonis.

Payung dalam Prosesi Nyawer

Pada saat acara nyawer atau saweran, kedua mempelai akan duduk di kursi dan dipayungi dengan payung yang telah dihias cantik. Berbeda dengan payung pada umumnya, payung yang digunakan pada prosesi nyawer memiliki gagang yang panjang dan dibawa oleh sanak saudara dari kedua mempelai.

Konon payung merupakan simbol kewaspadaan dan sebagai lambang permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar kedua mempelai selalu berada di dalam lindungan-Nya.

Kidung Nasihat

Prosesi nyawer semakin hikmat dengan adanya nyanyian kidung berisi nasihat sebagai bekal dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Kenapa nasihat yang diberikan berupa nyanyian? Hal tersebut berawal dari masa penjajahan kolonial yang melarang adanya pidato pada acara pernikahan karena khawatir akan adanya unsur-unsur politik dan membahayakan posisi penjajah di tanah air. Oleh sebab itu, nasihat diberikan dalam bentuk nyanyian indah dan menawan.

Ki Juru Sawer dan Nyi Juru Sawer secara bergantian melantunkan pantun macapat dalam tembang Asmaradana atau Kinanti. Tembang-tembang yang merdu dan sarat makna mendalam ini juga kerap membuat para hadirin merasakan haru dan meneteskan air mata.

Sumber: Buku “Kiat Sukses Menyelenggarakan Pesta Perkawinan Adat Sunda” karya Artati Agoes

ELSA FATURAHMAH

LEAVE A REPLY