Prosesi Pernikahan Adat Banjar (Part – 1)

0
188
Prosesi Pernikahan Adat Banjar
Instagram/ inspirasi.pengantinbanjar

Perkawinan adalah bagian dari proses kehidupan yang sangat berarti bagi pribadi seseorang. Sudah sewajarnya bila prosesi perkawinan tersebut selalu ditandai dengan sesuatu yang sifatnya istimewa, khas dan unik, yang lazimnya merupakan tradisi bagi setiap suku bangsa.

Dalam peristiwa besar tersebut terjalin harmonis tata cara dan ketentuan menurut adat istiadat sebagai panduan tak tertulis yang dipatuhi dan dilaksanakan secara turun-temurun, meskipun keberadaannya telah mengalami perubahan-perubahan secara evolusi.

Demikian pula halnya dengan perkawinan adat Banjar yang akan dikemukakan Mahligai edisi kali ini. Sebagai mayoritas penduduk provinsi Kalimantan Selatan, suku Banjar merupakan campuran antara Melayu dan suku-suku pendatang lainnya, seperti suku Jawa, Bugis, bangsa Tiongkok, Arab dan suku Dayak. Daerah asal mereka terletak antara pegunungan Meratus dan perbatasan Kalimantan Selatan – Kalimantan Tengah. Khususnya di daerah aliran hulu sungai Barito, Tapin Negara, sungai Riam kiri dan Riam kanan. Sebagai kelompok etnis yang besar, suku Banjar terbagi atas dua sub etnis, yakni Banjar Kuala dan Banjar Pahuluan. Percampuran beberapa suku tersebut juga terlihat pada ragam hias busana adat pengantin Banjar, dimana memiliki karakteristik masing-masing suku dan masa dimana busana adat itu bermula.

Dalam perkawinan adat Banjar penghormatan terhadap posisi wanita sangatlah besar. Hal ini ditunjukkan dengan acara demi acara yang banyak berpusat di rumah calon mempelai wanita.

Urutan proses pernikahan yang umum terjadi di kalangan keluarga calon pengantin, terutama pada dua besar kelompok etnis tersebut adalah:

Basasuluh

Berasal dari kata suluh, merupakan proses pencarian informasi mengenai gadis yang diinginkan, hal ini dilakukan secara diam-diam oleh pihak pria. Pada masa lalu perkawinan lazim atas dasar perjodohan atau pilihan orang tua, sehingga tradisi semacam ini merupakan keharusan. Biasanya dilanjutkan dengan “Batatakun” yaitu pencarian informasi secara terbuka melalui kedua pihak keluarga, dengan tujuan untuk meyakinkan perihal asal-usul keluarga, kemampuan ekonomi, dan seterusnya.

Badatang

Acara meminang secara resmi oleh keluarga calon mempelai pria terhadap calon mempelai wanita. Secara tradisional, dalam acara ini terjadi dialog dengan Bahasa Banjar serta diisi dengan berbalas pantun antara dua keluarga. Apabila lamaran diterima, kemudian ditetapkan beberapa kesepakatan antara lain mengenai besarnya jujuran (mas kawin), hari mengantarkan mas kawin, serta menetapkan hari perkawinan.

Maantar Jujuran atau Maantar Patalian

Sebagai pengikat atau bukti telah bertunangan, calon mempelai pria harus memberikan “jujuran/ patalian” atau oleh-oleh kepada calon mempelai wanita. Benda-benda patalian diantaranya berupa seperangkat busana, seperangkat perlengkapan tata rias, wangi-wangian, perlengkapan kamar tidur, perhiasan dan sejumlah uang.

Maatar Patalian ini dilakukan oleh rombongan yang terdiri dari ibu-ibu sebanyak sepuluh sampai dua puluh orang dan biasanya diterima dengan upacara sederhana. Kesempatan ini digunakan oleh keluarga untuk mengumumkan kepada para tamu tentang hubungan calon pengantin yang disebut balarangan atau bertunangan. Dalam acara tersebut kedua calon pengantin harus dihadirkan.

Bapingit

Merupakan salah satu tahap yang harus dilewati oleh seorang gadis menjelang hari pernikahannya. Intinya, calon pengantin wanita ‘dikurung’ selama seminggu dengan maksud untuk menghadirkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sesuai perkembangan masa, acara bapingit kini semakin dipersingkat antara dua sampai tiga hari saja. Pada masa bapingit calon mempelai wanita tidak diperkenankan dikunjungi oleh calon mempelai pria atau pemuda lainnya.

Selama masa bapingit calon pengantin wanita benar-benar harus mempersiapkan lahir dan batin untuk mengarungi mahligai rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan dalam masa bapingit adalah:

Batamat Quran

Karena mayoritas suku Banjar beragama Islam, maka ketaatan calon mempelai wanita dalam menjalankan ibadahnya akan ‘diuji’ melalui prosesi Batamat Qur’an, yakni menamatkan pembacaan kitab suci Alquran disaksikan oleh guru mengaji dan kaum kerabat.

Bakasi dan Batimung

Inilah saat intensif melakukan perawatan dan membersihkan diri calon mempelai wanita agar terlihat cantik dan segar. Sesuai tradisi, ritual perawatan menggunakan ramuan khusus berupa ‘kasai’ yakni semacam cairan pembersih dari beras ketan yang telah digoreng kering secara berulang-ulang. Selain itu calon pengantin melakukan ritual mandi uap air wewangian, dalam istilah Banjar disebut Batimung, agar pada hari pernikahan tubuh menjadi bersih dan tidak banyak mengeluarkan keringat.

Bapacar atau Bainai

Ritual menghias kuku dengan pacar atau inai yang ditumbuk halus, sehingga meninggalkan warna merah. Prosesi bainai semacam ini juga menjadi tradisi kelangan masyarakat Minang maupun Betawi.

Badudus

Merupakan prosesi mandi untuk menyucikan diri calon pengantin. Menggunakan air dicampur bunga-bunga dan air jeruk, dilengkapi dengan mayang dan air kelapa gading. Prosesi badudus dilakukan selepas bapingit, dua atau tiga hari sebelum upacara perkawinan. Ritual tersebut bisa dijalankan serentak oleh kedua calon pengantin atau di rumahnya masing-masing. Untuk memandikan dipilih lima atau tujuh orang wanita tua dari keluarga terdekat.

Rangkaian prosesi ini diwarnai dengan detil perlengkapan dan dekorasi berwarna kuning. Antara lain pada ‘lalangitan’ berupa kain kuning yang direntangkan pada bagian atas lokasi berlangsungnya prosesi. Bagi masyarakat Banjar, warna kuning selain merupakan warna yang memiliki arti kebesaran dan keluhuran, juga dipercaya bisa menjadi ‘alat’ untuk melindungi dari pengaruh roh jahat. Dengan demikian, calon pengantin juga memakai sarung warna kuning saat melakukan ritual badudus untuk ‘melindungi’ dari hal-hal buruk yang tak diinginkan.

Acara adat badudus juga disertai oleh perlengkapan yang sarat akan makna. Antara lain tebu kuning melambangkan harapan agar kehidapan berumah tangga selalu manis dan teguh, daun beringin sebagai lambang pengayoman, daun kambat sebagai penolak bala, daun linjuang sebagai penolak setan, ketupat berbentuk burung agar calon mempelai bisa terbang tinggi mencapai harapan rumah tangga. Disertakan pula pagar mayang sebagai pembawa keberuntungan dan penangkal segala yang buruk. Acara badudus diakhiri dengan pembacaan doa selamat dan batamat Al Quran bagi calon mempelai wanita maupun pria.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY