Prosesi Pernikahan Adat Banjar (Part – 2)

0
77
Prosesi Pernikahan Adat Banjar
Instagram/ inspirasi.pengantinbanjar

Dalam pengertian orang Banjar, terdapat perbedaan antara nikah dengan kawin. Nikah dilakukan di depan penghulu sesuai dengan aturan agama, sedangkan kawin dilakukan setelah nikah, sewaktu pengantin pria secara resmi diantar ramai-ramai menuju ke rumah pengantin wanita. Prosesi perkawinan adat Banjar secara garis besar meliputi tiga bagian, yakni Manurunkan pengantin laki-laki, Maarak pengantin laki-laki, dan Mempelai Batatai Bapalimbaian.

Manurunkan dan Maarak Pengantin Laki-laki

Merupakan upacara di rumah pihak keluarga pengantin laki-laki untuk dipersiapkan dibawa ke rumah mempelai wanita. Diawali dengan doa dan selamatan kecil, kemudian mempelai pria turun keluar rumah sambil mengucapkan doa keselamatan diiringi Shalawat Nabi oleh para sesepuh serta taburan beras kuning sebagai penangkal bala dan bahaya. Meski acara tampak sederhana dan sangat mudah namun acara ini harus dilakukan, mengingat pada masa-masa lalu tak jarang menjelang keberangkatan mempelai pria mendadak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berakibat gagalnya upacara pernikahan.

Doa dan harapan keselamatan telah ditadahkan oleh kedua tangan, kemudian rombongan pengantin menuju kediaman mempelai wanita. Beberapa puluh meter di depan rumah mempelai wanita, berbagai macam kesenian akan ditampilkan menyambut kehadiran rombongan pihak pengantin pria. Diantaranya, Sinoman jadrah (seni tari masal sambil mempermainkan bendera-bendera diirngi pukulan rebana), Kuda Gepang (hampir sama dengan kuda lumping), juga musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai pria melewati barisan Sinoman Hadrah, dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur yang akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.

Pengantin Batatai

Kedatangan mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk ‘bertatai’ atau duduk bersanding, adalah puncak dari setiap upacara perkawinan Banjar. Acara ini terdiri dari beberapa versi berdasarkan kebiasaan masing-masing sub-etnis.

Versi Banjar Kuala

Mempelai laki-laki memasuki rumah mempelai wanita dan langsung menuju kamar mempelai wanita untuk menjemputnya dan kembali menuju Balai Patataian yang biasanya terletak di ruangan tengah untuk duduk bersanding (batatai). Prosesi yang harus dilakukan:

  1. Bahurup Palimbaian

Sewaktu masih dalam posisi berdiri kedua mempelai bertukar bunga tangan. Maknanya: kedua mempelai harus optimis terhadap hari-hari mendatang yang akan mereka jalani dengan penuh keceriaan, bagai harumnya bunga tangan mereka.

  1. Bahurup Sasuap

Kedua mempelai duduk bersanding lalu saling menyuapkan sekapur sirih (terdiri dari sirih, pinang, kapur, gambir). Maknanya: mereka sudah saling membulatkan tekad untuk menempuh pahit, getir, manis dan perihnya kehidupan dan mengatasinya dengan seiya sekata.

  1. Bakakumur

Setelah mengunyah sekapur sirih, kedua mempelai berkumur dengan air putih, lalu air bekasa kumur dibuang ke dalam tempolong. Maknanya: segala hal yang kurang baik segara dibuang, sehingga dalam memasuki perkawinan kedua mempelai dalam kondisi bersih dan ikhlas.

  1. Batimbai Lakatan

Mempelai wanita melemparkan segenggam nasi ketan ke pangkuan mempelai pria, lalu oleh mempelai pria dilemparkan kembali ke pangkuan mempelai wanita. Maknanya: agar tali perkawinan yang mereka bina sedemikian erat, dapat memberikan keturunan yang baik dan unggul. Selanjutnya nasi ketan tadi dilemparkan ke hadirin untuk diperebutkan oleh para remaja yang mendapatkan nasi ketan tersebut akan cepat mendapat pasangan.

  1. Batapung atau Batutungkali

Para tetua dari kedua keluarga memberikan sentuhan dengan memercikkan ramuan (air bunga, minyak likat baboreh dan minyak wangi) pada ubun-ubun, bahu kiri dan kanan, dan pangkuan mempelai. Maknanya: agar perjalanan perkawinan mempelai selalu mendapat dukungan, bimbingan dan berkah dari pihak keluarga serta pinisepuh.

Versi Banjar Pahuluan (I)

Mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita disambut dengan Shalawat Nabi dan taburan beras kuning, mempelai wanita telah menanti diambang pintu, kemudian mereka bersama-sama dibawa untuk duduk bersanding di atas Geta Kencana, sejenis tempat peraduan (tempat tidur). Prosesi selanjutnya hampir sama dengan versi Banjar Kuala.

Versi Banjar Pahuluan (II)

Mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita dan disambut dengan seruan shalawat Nabi dan taburan beras kuning. Di depan pintu telah menanti mempelai wanita, dan kemudian kedua mempelai dibawa menuju Balai Laki dengan berjalan kaki maupun dengan cara Usung Ginggong. Selama bersanding di Balai Laki, kedua mempelai menyaksikan atraksi kesenian, dan harus menerima godaan atau olok-olok dari undangan yang hadir dengan senyum. Setelah selesai pasangan dibawa kembali kerumah mempelai wanita diiringi tetabuhan kesenian tradisional.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY