Tiga Prosesi Temu Pengantin pada Pernikahan Adat Bengkulu

0
38
perkawinan adat bengkulu
Ilustrasi Pengantin Bengkulu - Instagram | pendarkacaphoto

Bisa dikatakan, temu pengantin merupakan acara puncak dalam prosesi perkawinan adat. Pada prosesi ini, sepasang pengantin yang sudah resmi menjadi suami istri akan bersanding di pelaminan. Temu pengantin juga melambangkan peristiwa pertemuan awal kedua pengantin hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memasuki biduk rumah tangga.

Dibandingkan dengan adat Minangkabau maupun Palembang, adat perkawinan Bengkulu mungkin lebih jarang diekspos. Namun, provinsi yang berada di wilayah Sumatra ini dihuni oleh penduduk multi etnis yang kaya adat istiadat. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dipakai adalah prosesi temu pengantin dalam upacara kemanten besanding, kadang gala, dan dan kadang selendang. Langsung saja kita simak selengkapnya!

1. Kemanten Besanding

Setelah kedua mempelai dinyatakan sah sebagai sepasang suami-istri secara agama, maka prosesi adat akan dimulai dengan Kemanting Bersanding. Pada acara yang berlangsung meriah dan hangat ini pengantin pria dipayungi dengan payung kebesaran didampingi oleh orangtua dan kerabat dekat menuju kediaman pengantin wanita.

Dengan iringan musik tradisional khas Bengkulu, Gendang Serunai dan dua orang pengapit, pembawa cerano, bunga kemantin, sirih lanang, serta jambar real prosesi Kemanting Besanding pun terasa semakin semarak.

2. Kadang Gala

Setelah rombongan tiba di pintu pagar kediaman mempelai wanita, acara pun dilanjungkan dengan prosesi Kadang Gala yang dipimpin oleh Tue Kerja.Persis seperti upacara palang pintu adat Betawi, dalam Kadang Gala perwakilan rombongan pengantin pria juga akan menyampaikan maksud kedatangan dengan cara berbalas pantun.

Untuk bisa menjumpai mempelai wanita dan membuka gala (pagar rumah) maka mempelai pria harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain memberikan tebusan uang dengan sesumbang sirih.

Setelah diperbolehkan masuk, pengantin pria disambut ibu mertua dengan siraman beras kuning dan percikan air kembang yang dilanjutkan dengan pengasapan kemenyan dari ujung kepala hingga ujung kaki sebanyak tiga kali. Prosesi ini bermakna memohon keselamatan pada kedua mempelai.

3. Kadang Selendang

Prosesi ini secara simbolis menggambarkan perjuangan mempelai pria menghadapi rintangan untuk bisa bersanding dengan mempelai wanita. Meski telah bersanding, namun mempelai wanita masih ditutup wajahnya dengan kipas. Untuk dapat melihatnya, maka pengantin pria harus menyuap Induk Inang (pengasuh pengantin) dengan sesubang sirih.(*)

 

Teks. TIM MAHLIGAI INDONESIA

LEAVE A REPLY