Makna Filosofis dari Upacara Mangupa Pernikahan Adat Mandailing

0
72
dekorasi adat batak
Ilustrasi Kain Ulos - Dok. Majalah Mahligai

Bagi suku Batak, adat merupakan salah satu aturan yang dijunjung tinggi dalam mengatur kehidupan mereka. Dalam prosesi pernikahan misalnya, pernikahan baru dianggap sah jika telah mengikuti aturan adat yang berlaku. Sehingga tak heran, jika adat Batak terkenal dengan prosesi pernikahan yang terkesan rumit dan unik serta memakan waktu cukup lama.

Salah satu prosesi pernikahan adat Batak yang menarik untuk disimak adalah upacara Mangupa atau Upacara Pangupa. Pada upacara ini sebutan sebagai “raja dan ratu sehari” bagi kedua mempelai seolah bukan hanya sebutan semata. Pengantin benar-benar diagungkan dan dimanja. Upacara pangupa buktinya.

Acara ini tak lain adalah pemberian hidangan kepada kedua mempelai yang mengartikan bahwa keluarga mendoakan keduanya bahagia. Hidangan yang diberikan bermacam-macam, tapi simbol benda-benda ini tak boleh dilewatkan.

Misalnya saja daun pisang sebagai alas dan penutup pangupa, yang dibuat sedemikian rupa sehingga ada ujung dan pangkalnya. Ujungnya dihadapkan pada mempelai yang berarti bahwa mereka telah memasuki kehidupan pernikahan. Pisang yang hanya sekali berjantung melambangkan bahwa perkawinan mereka akan awet selamanya.

Simbol lain adalah sesendok garam yang diletakan di atas daun pisang yang berbentuk kerucut. Ini merupakan simbol bahwa kedua mempelai akan membawa kebaikan dan manfaat bagi lingkungannya. INi dikaitkan dengan manfaat garam bagi kehidupan yaitu untuk memeri rasa serta untuk mengawetkan.

Tiga buah telur direbus juga dihidangkan. Maknanya cukup unik yakni menyatukan dua zat yang berbeda setelah direbus. Warna kuning dan warna putih dalam telur melambangkan emas dan perak artinya kekayaan. Diharapkan setelah menikah pasangan ini bisa menangguk rejeki yang bagus.

Terakhir adalah daun singkong. Pohon yang satu ini mudah tumbuh di mana saja. Maknanya tak jauh beda, kedua mempelai diharapkan nisa eksis dan luwes dimanapun mereka bereda. Namanya juga hidup bersosialisasi.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY