Ritual Menjelang Akad Nikah dalam Tradisi Kebudayaan Cirebon

0
122
Pernikahan Adat Cirebon
Dok. Mahligai Indonesia

Dalam kehidupan seseorang, pernikahan merupakan peristiwa penting dan bersejarah dalam kehidupannya. Wajar bila calon pengantin ingin peristiwa pernikahannya dilangsungkan dengan tata upcara atau pesta yang berkesan.

Prosesi adat pernikahan merupakan satu hal yang tidak lepas dari perhatian, bahkan menjadi suatu keharusan. Mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi tradisi yang berdasarkan pada budaya dan norma adat istiadat setempat.

Upacara adat pernikahan merupakan peristiwa emosional yang tentunya melibatkan hampir seluruh keluarga, baik dari pihak keluarga pengantin wanita maupun pria. Oleh karena itu, sebaiknya pengantin beserta keluarga besarnya mengenal lebih dekat tata cara dan maknanya yang tersurat maupun tersirat dari prosesi adat pernikahan yang akan dilakukannya. Berikut ini kami tampilkan tata cara pelaksanaan upacara adat pengantin Cirebon.

Pernikahan Adat Cirebon
Dok. Mahligai Indonesia

Ngejegog atau Pasrahan

Ritual pernikahan adat Cirebon dimulai dengan upacara pasrahan, yakni utusan keluarga calon pengantin pria datang ke rumah calon pengantin wanita. Biasanya keluarga calon pengantin pria membawa barang hantaran berupa uang, ternak, palawija, pakaian dan lain sebagainya. Jumlah dan jenis barang yang dibawa disesuaikan dengan kemampuan dan kesempatan dari kedua belah pihak. Dalam tradisi Cirebon tidak ada ketentuan atau tradisi harus membawa ini atau itu dalam jumlah sekian.

Pada waktu berlangsung acara pasrahan, rombongan calon pengantin pria beserta orang tua, saudara-saudara dan kerabat disambut oleh pihak calon pengantin pria menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, yakni melamar calon mempelai wanita sekaligus memasrahkan putra mereka untuk dinikahkan. Selain itu, kedua pihak juga berembuk untuk menentukan hari yang tepat untuk pernikahan.

Sesuai tradisi, pada acara pasrahan pihak calon pengantin pria membawa hantaran/ pasrahan yang diserahkan kepada pihak calon pengantin wanita, antara lain berupa:

  • Pala gumantung (buah-buahan)
  • Pala kependem (umbi-umbian)
  • Palawija (sayur-sayuran)
  • Mas picis (mas kawin berupa perhiasan dan uang), diserahkan kepada orangtua calon mempelai wanita
  • Donya brana (alat-alat rumah tangga)
  • Siram Tawandari

    Pernikahan Adat Cirebon
    Dok. Mahligai Indonesia

Adalah ritual memandikan calon pengantin, dengan maksud untuk membuang seluruh noda dan penyakit. Makna filosofi dari upacara ini adalah bahwa seseorang yang akan memasuki gerbang perkawinan harus mensucikan diri lahir dan batin.

Uniknya, dalam prosesi siraman menurut adat Cirebon, kedua calon pengantin menjalani upacara siraman bersama-sama. Hal ini tidak pernah ada dalam prosesi siraman menurut tradisi daerah lainnya, di mana prosesi siraman dilakukan di rumah masing-masing calon mempelai. Oleh karena itu, sebelum prosesi dimulai, pihak keluarga calon pengantin wanita melakukan ritual menjemput calon pengantin pria.

Jalannya prosesi Siraman Tawandari adalah sebagai berikut:

Kedua calon pengantin oleh juru rias dibawa ketempat upacara siraman (cungkup), diiringi kedua pihak orang tua dan sesepuhnya; diiringi gamelan atau karawitan menggang atau emong enggang. Pada waktu menuju tempat siraman kedua calon pengantin ditutup kain putih pada bahunya.

Kedua calon pengantin duduk pada kursi yang tersedia. Calon pengantin wanita di sebelah kiri calon pengantin pria. Sebelum siraman calon pengantin diberi lulur pada dada dan punggungnya, sementara sang juru rias membaca doa dan mantra keselamatan untuk kedua calon mempelai. Selanjutnya juru rias memimpin upacara dan mempersilahkan orangtua masing-masing calon pengantin menyirami kedua calon mempelai. Kemudian dilanjutkan siraman oleh para sesepuh.

Prosesi siraman diiringi lagu moblong yang artinya murub mancur bagaikan bulan purnama. Setelah selesai air bekas siraman diberikan pada anak-anak gadis atau jejaka untuk cuci muka dengan maksud supaya mereka enteng jodoh/ upacara ini namanya bendong sirat, yaitu air bekas siraman disirat-siratkan atau dipercik-percikkan pada orang-orang yang ada di situ agar mempercepat datangnya jodoh bagi para gadis dan jejaka.

Parasan

Khusus untuk calon pengantin wanita upacara dilanjutkan dengan parasan atau ngerik yaitu membuang “rambut kekebel” yang dilaksanakan oleh juru rias disaksikan oleh orang tua pengantin wanita dan kerabatnya. Prosesi diiringi kaarawitan moblong, yang berarti murub (bersinar) bagaikan bulan purnama.

Pernikahan Adat Cirebon
Dok. Mahligai Indonesia

Malam Widodari

Malam sebelum upacara akad nikah dilaksanakan esok hari, di rumah calon pengantin wanita berlangsung acara malam widodari. Dalam acara itu kedua calon pengantin dirias sederhana hanya untuk malam itu saja. Busana yang dikenakan tidak resmi. Calon pengantin wanita bisa memakai kebaya bersahaja, dengan warna bebas (sebaiknya warna muda, cerah dan tidak mencolok) sesuai selera.

Pilihan motif kain untuk bawahan adalah dianjurkan bermotif Kangkungan, Gunung Jati, Gua Sunyaragi, Mega Mendung, dan lain sebagainya. Disarankan berupa motif kain yang kerap dipergunakan kalangan bangsawan yang memiliki makna mulia.

Pada acara malam Widodari, keluarga kedua pihak saling bertemu dan bersilaturahmi. Sementara kedua pengantin tidak dipertemukan. Lazimnya calon mempelai pria berada di teras atau pendopo kediaman calon mempelai wanita. Sementara calon mempelai wanita berada di kamarnya, ditemani oleh sesepuh, orang yang dipercayai, atau kerabat dekat dengan maksud untuk memberi nasihat persiapan berumah tangga.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY