Simak Tradisi 7 Bulanan/ Tingkepan yang Mulai Tergerus Zaman

0
149
Mitoni atau Tingkepan
Dok. Mahligai Indonesia

Masa-masa menjelang kehadiran buah hati, adalah saat yang membahagiakan sekaligus mendebarkan. Dalam penantian itu harapan akan kelancaran proses persalinan, keselamatan bayi dan ibu yang mengandungnya menjadi doa yang tiada putus. Doa dan harapan itu oleh masyarakat Jawa diwujudkan dalam tradisi Tujuh Bulanan, yang dalam Bahasa Jawa disebut mitoni atau tingkepan.

Kata ‘pitu’ selain mengandung arti tujuh, juga bermakna pitulung, yang berarti pertolongan. Secara garis besar acara ini berarti memohon pertolongan Tuhan demi keselamatan persalinan. Prosesi ini umumnya dilakukan pada kehamilan pertama saja.

Sepintas tradisi mitoni yang unik ini terlihat rumit, namun jika diamati dengan seksama tidaklah demikian. Ini terlihat dari perlengkapan yang hampir semuanya murah dan mudah ditemukan di sekitar kita. Jikapun harus membuat sendiri, juga tidak sulit. Namun kehidupan modern yang penuh kesibukan, membuat tradisi mitoni kian terlupakan.

Perlengkapan Upacara Tujuh Bulanan:

  • Bubur 7 macam: Supaya dalam persalinan lancar.
  • Ketan atau juadah 7 warna: Melambangkan kebahagiaan menerima lahirnya calon bayi.
  • Takir Potang: Sebagai suguhan dan ucapan terima kasih pada sesepuh yang menghadiri acara.
  • Polo Pendem/ umbi-umbian rebus: umbi-umbian yang mudah tercabut dari dalam tanah, diharapkan persalinan akan berjalan semudah itu.
  • Tumpeng 7: Terdiri dari satu tumpeng besar bersama 6 buah tumpeng kecil, yang menandakan usia kandungan mendekari persalinan.
  • Sajen Siraman
  • Jajan Pasar

Tata Cara Tingkepan/ Tujuh Bulanan:

Sungkeman

Calonn ayah dan calon ibu bersama-sama melakukan sungkeman, mohon doa restu untuk keselamatan dan kelancaran persalinan. Diawali sungkeman pada orang tua pihak calon ibu, kemudian disusul sungkem kepada orang tua pihak calon ayah.

Siraman

Calon ibu yang telah berganti pakaian dan memakai kemben berhias Rimo Melati dibimbing menuju tenda siraman. Air siraman bertabur kembang setaman (melati, mawar, kenanga) pertama kali disiramkan oleh ayah kemudian disusul oleh ibu, kemudian orang tua pihak calon ayah dan para sesepuh.

Mitoni atau Tingkepan
Dok. Mahligai Indonesia

Peluncuran Telur

Juru pandu menjatuhkan telur melintasi kain putih yang dililitkan kendur pada bagian perut calon ibu. Telur yang jatuh dan pecah menjadi simbol dan harapan persalinan berjalan lancar tanpa halangan apapun.

Membuka Janur

Janur yang melilit perut sang calon ibu sebagai simbol penghalang jalan bayi menuju kelahiran, dilepas oleh calon ayah lalu dibuang jauh keluar rumah agar tak ada lagi yang mempersulit jalan lahirnya.

Brojolan

Cengkir gading (kelapa muda warna gading) yang dilukis dewi Kamaratih dan dewa Kamajaya. Harapan bila lahir seorang bayi wanita diharapkan menjadi wanita sejati (cantik lahir dan batin, cerdas dan berbudi luhur). Bila lahir seorang pria, harapannya menjadi pria bijaksana, pintar dan berbudi luhur. Yang meluncurkan kelapa yaitu calon ayah sedangkan yang menerima calon nenek.

Ganti Busana 7 kali

Ritual unik ini calon ibu harus berganti busana hingga tujuh kali. Dari busana pertama hingga ke enam yang dipakai, hadirin yang datang harus mengatakan belum pantas, baru pada busana ke tujuh calon ibu boleh dikatakan pantas. Ini menyimbolkan bahwa pada usia kandungan satu hingga enam bulan bayi belum ‘pantas’ dilahirkan karena proses bentukannya yang belum sempurna hingga sangat rawan jika dilahirkan. Pada usia tujuh bulan, barulah janin siap lahir.

Adapun urut-urutan kain batik yang dikenakan berikut maknanya adalah sebagai berikut. Sido mukti, melambangkan harapan agar bayi dan orang tua yang melahirkannya bisa hidup sejahtera. Wahyu temurun, melambangkan harapan semoga dalam kehidupan selalu mendapatkan berkah.

Sido Asih, harapan agar kelak bayi dilahirkan disenangi banyak orang sepanjang hidupnya. Sido Drajat, harapan agar sang bayi kelak mendapat derajat yang baik dalam hidupnya. Sido dadi, berisi doa agar kelak sang bayi bisa mendulang kesuksesan dalam hidup. Babon Angkrem, berisi harapan agar calon ibu bisa melahirkan normal. Tumbar Pecah, seperti ketumbar yang ditumpahkan, seperti itulah lancarnya persalinan yang diharapkan.

Angkreman

Calon ibu diminta untuk duduk diantara tumpukan kain dan berkotek layaknya ayam yang sedang mengerami telur di atas jerami. Sedang calon ayah yang duduk tak jauh darinya diminta untuk berkokok keras menyahuti kotekan calon ibu sebagai lambang dia mengetahui kehamilan itu dan bertanggungjawab tas bayi dan ibu yang mengandung dengan menjaga dan mencari penghidupan bagi kesejahteraan keluarga.

Membelah Kelapa

Calon ayah membukakan jalan si jabang bayi supaya lahir pada jalannya. Konon jika kelapa yang dibelah airnya memuncrat, maka kemungkinan bayi yang dikandungnya laki-laki, sedang jika airnya merembes kemungkinan yang akan lahir adalah bayi perempuan.

Potong Tumpeng

Sebagai ungkapan syukur bahwa selamatan tujuh bulanan telah dilaksanakan dengan lancar. Calon ayah menyuapi calon ibu sebagai simbol bahwa dalam berumah tangga suami wajib memenuhi kewajiban kepada calon ibu dan bayinya.

Jualan Rujak

Menghidangkan makanan kesenangan orang hamil yang dibuat terdiri dari tujuh buah-buahan segar. Calon ayah dan calon ibu menjual rujak, sedangkan tamu-tamu membeli dengan uang kreweng (uang-uangan tanah liat).

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY