Tradisi Pernikahan Unik Ini Ada di Indonesia, lho!

0
374
Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia
Ilustrasi - Instagram/ sanggarsitinurbaya

Rentetan ritual pernikahan menjadi tradisi yang paling sering dijumpai oleh masyarakat. Ya, paling tidak setiap minggu ada beberapa masyarakat yang melangsungkan pernikahan.Berbagai tradisi tersebut menghadirkan keunikan dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat.

Nah, kali ini kami akan merangkum beberapa tradisi pernikahan unik yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

Kawin Colong Suku Osing Banyuwangi

Kawin colong adalah upaya melarikan calon istri jika tidak mendapat persetujuan dari orang tua si gadis. Dalam tradisi ini, setelah menculik kekasihnya, pihak laki-laki akan mengutus orang yang dituakan sebagai Colok yang akan meyakinkan orang tua perempuan untuk menyetujui pernikahan anaknya. Biasanya orang tua akan meyakini apa yang dikatakan seorang colok. Kawin colong juga diartikan sebagai bentuk kesiapan dan keyakinan laki-laki untuk meminang pujaan hatinya.

Kawin Lari Merarik Suku Sasak Lombok

Tradisi ini juga merupakan upaya melarikan gadis pujaan untuk dinikahi kemudian. Namun bedanya, melarikan gadis dari rumah orang tua dipandang sebagai tindakan yang kesatria bagi masyarakat Lombok. Gadis yang dibawa lari biasanya disembunyikan di rumah kerabat pihak laki-laki.

Dalam aturan suku Sasak, gadis yang telah dibawa lari oleh kekasihnya harus segera dinikahkan karena peristiwa tersebut sudha diketahui oleh masyarakat desa.

Baca Artikel Ini: Keunikan Budaya “Kawin Lari” Suku Sasak di Lombok

Tradisi Kromojati Masyarakat Bohol di Gunungkidul

Sejak tahun 2007, terdapat peraturan daerah yang mengharuskan setiap pemuda yang ingin meminang gadis dari daerah Bohol untuk menanam paling sedikit lima bibit pohon jati di daerah Gunung Kidul. Meski terdengar aneh, peraturan tersebut nyatanya membawa dampak yang sangat positif terhadap lingkungan.

Meminang Mempelai Pria dalam Adat Minangkabau

Jika biasanya Anda melihat pihak pria yang melamar perempuan untuk dijadikan istri, tidak begitu dengan aturan adat Minangkabau. Tidak hanya dilamar, mempelai pria juga harus dijemput dari kediamannya untuk dibawa menikah ke rumah pengantin wanita. Tradisi ini disebut manjapuik marapulai.

Tidak Boleh Buang Air bagi Suku Tidung Kalimantan

Ini merupakan sebuah ritual yang merepotkan, di mana kedua calon pengantin dilarang buang air selama 3 hari 3 malam. Jika dilanggar, mereka percaya akan datang kesialan, seperti perceraian, kemandulan, bahka hidup miskin. Biasanya, pengantin baru akan mengurangi makan dan minum agar demi bisa menahan buang air. Pihak keluarga bahkan sampai ada yang harus menjaga kamar mandi agar kedua pengantin tidak melanggar aturan.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here