Tradisi Ritual Cantik Jelang Pernikahan

0
1095
Ritual Cantik Pernikahan
Dok. Mahligai

Menampilkan aura cantik pengantin selain melalui balutan busana gemerlap dan anggun, juga dengan tradisi perawatan pra-pernikahan. Di sejumlah daerah Nusantara telah ‘mewariskan’ ritual perawatan khusus bagi calon pengantin –yang berlangsung selama beberapa hari.

Ritual tersebut dimaksudkan agar aura cantik calon pengantin bukan hanya secara fisik dari luar, juga terpancar dari dalam. Ingin tahu apa saja? Inilah ‘rahasia’ tradisi perawatan calon pengantin dari beberapa daerah dilengkapi makna simbolis yang menyertainya.

CUKUR BULU HALUS DARA BARO ACEH
Aceh memiliki tradisi upacara Kruet Andam atau Koh Andam yang dimaksudkan untuk kebersihan kulit calon pengantin wanita. Ritual adat yang biasanya dilakukan tiga atau empat hari sebelum hari pernikahan dilakukan dengan cara mencukur anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih.

Kruet Andam dilakukan ketika calon mempelai wanita atau disebut dara baro dalam keadaan suci (sedang tidak haid). Ritual ini juga simbol menghilangkan hal-hal kurang baik pada masa lalu dan diharapkan bisa terwujud hal-hal yang baik dan mulia pada masa mendatang pada sang mempelai.

‘’Prosesi ini dipandu oleh seorang sesepuh yang memahami tata cara adat. Saat mengerik rambut, pengantin wanita didampingi oleh sang ibu, juga disertai nenek, dan saudara-saudara perempuan,’’ ujar Cut Marlyn yang pakar dalam pernikahan adat Aceh. Ritual akan dilengkapi pemakaian daun pacar yang ditumbuk untuk mempercantik kuku dan kedua tangan calon mempelai.

MANDI UAP ALA SRIWIJAYA PALEMBANG
Palembang memiliki sejumlah ritual khusus bagi calon pengantin, salah satunya adalah betangas. Perawatan berlangsung 2 atau 3 hari menjelang pernikahan, calon pengantin akan menikmati mandi uap selama 30-45 menit dengan keharuman aroma rempah-rempah tradisional.

Keharuman uap berasal dari rebusan air yang telah dicampur dengan rempah daun serai wangi, daun pandan, akar wangi, daun nilam, cengkih, kayu manis, dan rempah-rempah khas berbau harum lainnya. Perawatan mandi uap secara tradisional ini berkhasiat mengatasi rasa lelah dan menghilangkan bau badan, sehingga tubuh calon mempelai beraroma wangi dan segar alami.

Tradisi dari tanah Sriwijaya ini juga dilengkapi bepacar yaitu pemberian inai atau daun pacar pada kuku jari tangan dan kaki, juga telapak tangan dan kaki. Warna merah bekas daun pacar pada jari-jari tangan dan kaki adalah simbol kesiapan calon pengantin memasuki kehidupan rumah tangga.

SIRAMAN & MALAM MIDODARENI PENGANTIN JAWA

Ritual Cantik Pernikahan
Ilustrasi Pengantin Siraman – Dok. Mahligai

Ritual perawatan bagi calon pengantin dalam tradisi Jawa diawali dengan siraman, yang intinya memandikan calon pengantin dengan rendaman air bunga setaman disertai dengan tradisi memberikan lulur atau boreh tujuh warna. Air yang dipergunakan untuk siraman diambil dari tujuh sumber mata air.

Tradisi siraman biasanya berlangsung menjelang tengah hari atau sekitar jam 10-11 pagi, di mana kultur Jawa percaya bahwa jam tersebut saatnya para bidadari turun dari kayangan ke bumi untuk mandi di sendang/sungai. Seusai siraman, calon pengantin akan menjalani ritual ngerik atau motong rambut. Sembari mengeringkan rambut, dilakukan ritual meratus rambut, atau memberikan asap ratus (semacam setanggi) dari dupa agar harum dan kering.

Juru rias pengantin juga akan ‘mengerik’ atau mencukur bulu-bulu halus di sekitar dahi pengantin, sebagai persiapan untuk membuat pola paes yang cukup rumit dengan ukuran dan bentuk tertentu. Rangkaian prosesi berlangsung di kamar calon pengantin putri, ditunggui oleh para sesepuh. Sembari menyaksikan paes, para ibu memberikan restu serta memanjatkan do’a agar dalam upacara pernikahan nanti berjalan lancar dan khidmat.

Ritual terakhir persiapan pengantin sebelum hari pernikahan adalah malam midodareni, yang dimaknai sebagai persiapan dan malam tirakat atau mendoakan calon mempelai wanita. Dalam kultur Jawa, malam midodareni juga sebagai simbol para bidadari di langit akan menularkan cahaya kecantikannya kepada calon mempelai wanita pada malam tersebut.

LULURAN DARI PULAU DEWATA
Ritual mempercantik calon pengantin dari Bali dikenal dengan istilah ngekeb. Tujuannya menyiapkan calon mempelai wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Tradisi ini biasanya berlangsung sehari sebelum upacara pernikahan. Calon mempelai wanita menjalani ritual mandi air bunga, keramas air merang, serta luluran ramuan tradisional.

Ritual luluran menggunakan ramuan tumbukan halus beras, bunga kenanga, daun merak, kunyit, irisan daun pandan, dan ramuan rempah lainnya. Tradisi keramas air merang berkhasiat menyuburkan dan memperkuat akar rambut serta membuat rambut tetap hitam. Seusai ritual tersebut, calon pengantin wanita berdiam di kamarnya untuk menenangkan diri menjelang hari pernikahan keesokan paginya.

BAINAI ANAK DARO MINANG

Bainai Anak Daro Minang
Penggunaan Pacar pada Calon Pengantin Wanita – Dok. Mahligai

Salah satu ritual bagi calon pengantin wanita dalam kultur Minangkabau adalah malam bainai. Prosesi berlangsung malam hari menjelang akad nikah. Dalam tradisi Minang, bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar ke ujung jari calon pengantin wanita, sehingga akan meninggalkan bekas warna merah kekuningan yang cemerlang pada kuku.

Makna lain dari tradisi ini sebagai simbol ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita. Untuk itulah, hanya para sesepuh dan orangtua yang diberi kehormatan untuk memberikan inai ke kuku dan jari-jari calon pengantin. Calon mempelai wanita mengenakan baju tokah dan bersunting rendah dibawa keluar dari kamar diapit kawan sebayanya.

Acara mandi-mandi secara simbolik dengan memercikkan air harum tujuh kembang oleh para sesepuh dan kedua orang tua. Selanjutnya, kuku-kuku calon mempelai wanita diberi inai. Warna merah inai pada kuku pengantin wanita juga sebagai pertanda bahwa sang anak daro telah dipersunting, sehingga tidak lagi bisa dipinang orang lain.

 

PERAWATAN NONE PENGANTIN BETAWI
Betawi punya ritual perawatan yang disebut ‘’pelihare pengantin’’ untuk calon pengantin wanita sebelum hari pernikahan. Rangkaian ritual akan dipandu seorang ‘juru piare pengantin’. Calon pengantin wanita duduk di kursi yang berlubang dan di bawah kursi diletakan pedupaan yang mengepulkan asap setanggi atau kayu gaharu dan rebusan rempah-rempah wangi. Tujuannya agar calon pengantin bersih dan harum. Prosesi yang biasa disebut tangas ini berlangsung sekitar 30 menit sampai berkeringat.

Setelah mandi uap, calon pengantin dimandikan dengan air kembang untuk menghilangkan keringat dan kembali segar. Perawatan berikutnya adalah ngerik dan malam pacar. Tradisi ngerik yakni membersihkan atau memotong bulu-bulu halus yang ada di tubuh calon none pengantin. Dilanjutkan dengan malam pacar, mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan daun pacar yang ditumbuk halus.

Selama masa ‘’dipiare’’, calon pengantin berpantang makanan tertentu, misalnya makanan yang banyak berbumbu dan berlemak. Bahkan juga diminta untuk berpuasa, serta mengkonsumsi banyak buah-buahan dan sayuran untuk menjaga kulit lebih bersinar ketika hari pernikahan tiba.

MAPPACCI PENGANTIN BUGIS

Mappacci Pengantin Bugis
Tradisi Mappacci – Dok. Mahligai

Tadisi perawatan bagi calon pengantin wanita dari Makassar dan Bugis biasanya berlangsung tiga malam berturut-turut sebelum hari pernikahan. Diawali dengan mappasau atau mandi uap. Uap yang dipakai dalam ritual ini berasal dari rebusan rempah-rempah yang dalam Bahasa Bugis disebut rampah patappulo.

Rempah-rempah tersebut dimasak hingga keluar uap untuk ‘memandikan’ calon pengantin. Uap rebusan rempah bermanfaat mengharumkan kulit tubuh. Kegiatan mappasau dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut. Langkah selanjutnya adalah ma’berra pica atau menggunakan bedak hasil racikan tradisional suku Bugis yang bentuknya seperti lulur. Ritual dipungkasi dengan mappacci atau malam pacar. Ritual yang berarti bersih atau suci ini para kerabat keluarga mempelai memberikan tanda pacar pada tangan calon mempelai. Karena acara ini dilaksanakan pada malam hari maka dalam bahasa Bugis disebut ”wenni mappacci”.

Tradisi mappacci merupakan simbol bagi calon mempelai telah siap dengan hati yang suci bersih serta ikhlas untuk memasuki rumah tangga, dengan membersihkan segalanya, termasuk mappaccing ati (bersih hati), mappaccing nawa-nawa (bersih pikiran), mappaccing pangkaukeng (bersih/baik tingkah laku /perbuatan), mappaccing ateka (bersih itikad).

Ritual mappacci diakhiri dengan prosesi appasili bunting yang hampir mirip dengan siraman dalam tradisi pernikahan Jawa. Acara ini dilanjutkan dengan macceko atau mencukur rambut halus di sekitar dahi yang dilakukan oleh anrong bunting (penata rias). Tujuannya agar dadasa atau hiasan hitam pada dahi yang dikenakan calon mempelai wanita dapat melekat dengan baik.

Teks: Dwi Ani Parwati

LEAVE A REPLY