Lima Keunikan Pada Prosesi Pernikahan Adat Keraton Yogyakarta

0
1167
Peragaan Pondongan saaat Prosesi Panggih - Dok. Kencana Art Photography

Berbicara soal Keraton Yogyakarta tentu tak bisa terlepas dari latar belakang sejarah dan tradisi budaya yang masih terus lestarikan hingga saat ini. Salah satunya adalah prosesi pernikahan adat Keraton Yogyakarta yang menarik untuk disimak.

Jika dahulu prosesi pernikahan adat Keraton Yogyakarta hanya dilakoni keturunan Keraton Yogyakarta saja, namun kini prosesi tersebut sudah banyak diterapkan oleh masyarakat biasa. Oleh karena itu, guna melestarikan tradisi yang tergolong langka inisebuah workshop bertajuk Yogyakarta Royal Wedding Journey diselenggarakan oleh Bella Donna The Institute di Gadri Kedaton Ambarrukmo, pada 15 November 2017.

Serangkaian acara pada prosesi pernikahan adat Keraton Yogyakarta seperti prosesi Mbethak, Sungkem, Siraman, Midodareni, Tantingan, Akad Nikah, Panggih, dan Pamitan dipraktikan langsung oleh 38 peraga. Penjelasan materi seminar pun dipandu oleh narasumber kompeten yang masih ‘kerabat ndalem’ Kraton Yogya, Tyasningrum dan Yudono.

Meskipun sekilas prosesi pernikahan Adat Keraton Yogyakarta mirip dengan ritual pernikahan adat Jawa lainnya. Namun, tetap saja ada rangkaian upacara yang membedakannya. Berikut kami rangkum selengkapnya di sini!

1. Mbethak

upacara mbethak
Peragaan upacara mbethak – Dok. Kencana Art Photography

Dalam prosesi pernikahan Adat Kraton Yogyakarta, pagelaran diawali dengan upacara ‘Mbethak’ yang dilakukan oleh Ngarsa Dalem atau Sultan Yogyakarta beserta Permaisuri. Upacara yang bermakna bahwa Sultan Yogyakarta memiliki hajat mantu ini ditandai dengan prosesi menanak nasi.

2. Majang Tarup dan Tuwuhan

Serupa dengan prosesi pemasangan bleketepe yang khas dari adat Jawa Solo – Majang Tarup (atap) juga merupakan tanda sekaligus pengemumuman bahwa raja atau sultan akan memiliki hajat. Sementara bagi rakyat biasa atap ini disebut gaba-gaba. Pada zaman dahulu tarup atau gaba-gaba (untuk orang biasa) terbuat dari anyaman blarak atau daun kelapa. Namun kini, tarup sudah banyak tergantikan dengan adanya tenda.

Biasanya, prosesi Majang Tarup akan dilengkapi dengan pemasangan tuwuhan (tumbuhan). Ritual yang lazimnya dilakukan beberapa abdi dalem ini, memiliki makna agar kedua pengantin tumbuh dan berkembang menuju kebahagiaan dan kemakmuran.

Berikutnya, dipaparkan secara detil makna prosesi Majang Tarub dan Tuwuhan, yang di dalam tradisi Kraton Yogyakarta juga dibarengi acara ritual wilujengan yang berarti memanjatkan doa kepada Tuhan untuk keselamatan.

Meskipun prosesi Majang Tarup dan Tuwuhan dalam Yogyakarta Royal Wedding Journey tidak diperagakan secara langsung, namun para peserta berkesempatan melihat langsung uborampe atau perlengkapan Wilujengan seperti beragam jenis tumpeng,  jajanan pasar, dan sesajen yang ditempatkan di atas meja.

3. Upacara Sungkeman

Setelah upacara Majang Tarub dan Tuwuhan, calon pengantin akan menjalani prosesi pingitan atau dalam adat Kraton Yogyakarta disebut sengkeran. Usai menjalani prosesi sengkeran yang biasanya berlangsung selama 40 hari, barulah calon pengantin wanita akan melakukan sungkeman kepada Ngarsa Dalem (Bapak Calon Pengantin Putri) dan Permaisuri (Ibu Calon Pengantin Putri) didampingi oleh cepeng damel putri (putri tertua dari Ngarsa Dalem).

4. Siraman Calon Pengantin Putri dan Kakung

Siraman Calon Pengantin Adat Kraton Yogyakarta
Siraman Calon Pengantin Putri dan Kakung – Dok Kencana

Sesuai adat Kraton Yogyakarta, Kedua calon pengantin, baik wanita (putri) dan pria (kakung) harus menjalani ritual siraman. Prosesi menyucikan diri bagi kedua calon mempelai ini bertujuan agar pesta pernikahan berjalan khidmat dan selamat.

Pada malam harinya, kedua calon mempelai akan melangsungkan Midoderani yang didalamnya terdapat Upacara Tantingan. Prosesi Midoderani yang dilakukan bersamaan dengan Upacara Tantingan ini merupakan salah satu hal yang membedakan adat Kraton Yogyakarta dengan adat Jawa lainnya. Keunikan lainnya, dalam acara Midoderani ini pula calon pengantin wanita akan menandatangani berkas administrasi KUA.

5. Upacara Panggih

Upacara Panggih, Balangan gantal
Peragaan Upacara Panggih, Balangan gantal – Dok. Kencana

Dari serangkaian prosesin acara digelar, Upacara Panggih rupanya menjadi salah satu fokus perhatian yang menyedot antusias para peserta seminar. Lantaran, dalam prosesi daup agung tersebut dilaksanakan upacara Pondongan, yakni mempelai Putri ‘dipondong’ oleh pengantin pria yang dibantu oleh penganthi kakung. Inilah satu-satunya tradisi yang hanya berlaku dan dilaksanakan di Kraton Yogyakarta. Usai upacara panggih, rangkaian prosesi pernikahan adat Keraton Yogyakarta pun ditutup dengan upacara pamitan.  (*)

INTAN WIDIASTUTI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here