Cerita Rakyat Cindelaras dan Ayam Ajaib

0
24
Cerita Rakyat Cindelaras
Foto: Andari Deswandhy via Instagram/ inicecil

Di sebuah kerajaan bernama Kerajaan Jenggala hidup seorang raja bernama Raden Putra. Ia memiliki seorang permaisuri yang jujur dan baik hati, serta seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Mereka semua tinggal di sebuah istana yang sangat megah. Hingga suatu hari selir raja yang dengki berencana untuk mengusir permaisuri dari istana dan menggantikannya menjadi permaisuri baginda raja.

Selir baginda kemudian berkomplot dengan seorang tabib istana. Selir baginda berpura-pura sakit parah, kemudian tabib istana tersebut mengatakan bahwa ada seseorang yang telah sengaja menaruh racun dalam minuman tua putri. “Orang yang berbuat hal demikian adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib kepada sang raja. Baginda pun murka mendengarnya. Lalu ia memerintahkan patih untuk membuang permaisuri kehitan dan membunuhnya.

Dengan segera sang Patih pergi membawa permaisuri yang ternyata tengah mengandung ke tengah hutan belantara. Namun, sebenarnya sang patih sudha mengetahui niat buruk selir baginda raja. Sesampainya di hutan, dia melepaskan permaisuri dan berjanji tidak akan mengatakan kepada raja bahwa permaisuri masih hidup. Dia pun menggunakan darah kelinci yang dilumuri ke pedangnya untuk mengelabui baginda raja agar percahya bahwa permaisuri telah dibunuh dengan pedangnya.

Hari demi hari berlalu, hingga tiba waktunya permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut ia beri nama Cindelaras. Tumbuh menjadi anak tampan yang cerdas, dari kecil Cindelaras senang berteman dengan binatang penghuni hutan.

Suatu hari, ketika sedang asik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cidelaras memungutnya dan bermaksud menetaskannya. Setelah tiga minggu, telur itu menetas dan menjadi seekor anak yang yang lucu. Cidelaran memeliharanya hingga si ayam menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Namun, ada yang aneh dari ayam tersebut. Si ayam selalu berkokok, “kukuruyuk… Tuankan Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”.

Cindelaras yang takjub dengan kemampuan ayamnya langsung pergi menemui ibunya dan memperlihatkan keajaiban tersebut. Permaisuri ikut terkejut sekaligus bersedih. Akhirnya permaisuri menceritakan asal usul mengapa mereka sampai tinggal di hutan. Mendengar cerita ibunya, Cindelaras bertekad untuk menemui ayahnya di istana dan membeberkan kelicikan selir raja. Ia pergi ditemani ayam peliharaannya.

Saat di perjalanan, Cidelaras melihat beberapa orang sedang menyabung ayam. Kemudian, Cidelaras dipanggil oleh para penyabung ayam, “Ayo, kalau berani adulah ayam jantanmu dengan ayam milikku!” Cindelaras menerima tantangan tersebut dan berhasil mengalahkan lawannya dalam waktu singkat. Berita kehebatan ayam Cindelaras kemudian menyebar ke seluruh negeri hingga ke telinga baginda raja.

Mendengar berita itu, Raden Putra memerintahkan hulu balangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. Tak butuh waktu lama, orang-orang suruan raja sudah bisa membawa Cindelaras ke istana. Ketika melihat Cindelaras, Baginda raja bergumam dalam hati, “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata.” Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia harus bersedia dipenggal keoalanya, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung denga gagah berani. Namun, dalam waktu singkat ayam Cindelaras berhasil mengalahkan ayam sang Raja. Para penonton sontak bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.

“Baiklah aku mengaku kalah dan akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” tanya Baginda Raja. Cindelaras kemudian membisikka sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berkokok, “. Raden Putra yang mendengarnya terperangah dan kaget. “Benarkah itu?” tanya baginda raja keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. Baginda Raja Kemudian meminta maaf dan bersumpah akan menghukum selirnya dan membuangnya ke hutan. Raden Putra kemudian memeluk Cindelaras dan memerintahkan pengawalnya untuk menjemput permaisuri di hutan. Mereka pun hidup bahagian di dalam istana. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya, menjadi pemimpin kerajaan yang adil dan bijaksana.

LEAVE A REPLY